Berita

sby-anas/ist

AS Hikam: Selamatkan Demokrat, SBY Harus Frontal Terhadap Anas

MINGGU, 24 JUNI 2012 | 21:34 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

RMOL. Pertengkaran antar elit Demokrat benar-benar ada dan terjadi. Bahkan semakin hari kian meruyak saja. Ketidakdewasaan dalam menyelesaikan masalah membuat gesekan di internal partai binaan Presiden SBY itu semakin tak berujung saja.

Menurut pengamat politik AS Hikam, saat ini elit Demokrat terbagi dalam tiga kelompok, yakni kelompok pro Anas, pro pengunduran Anas dan elit yang netral atau diistilahkannya sebagai elit yang kebingungan.

"Bagaimanapun pertengakaran antar elit di Demokrat tidak bisa ditutup-tutupi," tegas Hikam kepada Rakyat Merdeka Online, Minggu (24/6).


Dalam pengamatannya, apa yang dilakukan Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul selama ini sangat sejalan dengan yang diinginkan anggota Dewan Pembina Hayono Isman, yaitu sama-sama meminta Anas dan kader Demokrat lain yang terlilit masalah hukum agar mengundurkan diri atau sekedar non aktif sementara. Apakah Ruhut satu kubu dengan Hayono, tentu lain soal dan perlu pembuktian lebih kongkrit.

Tetapi, menurutnya, pertangkaran antara elit yang terjadi di tubuh Partai Demokrat benar-benar sangat serius dan bisa berakibat pada kehancuran partai lebih parah lagi. Pertengkaran sangat frontal dipertontonkan oleh elit-elit Demokrat dengan telanjang ke publik. Yang terbaru, dicontohkan dia, pertengkaran Ruhut dengan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR, Nurhayati Alie Assegaf.

Nurhayati mengaku sudah memanggil dan memberikan Surat Peringatan kepada Ruhut, sementara Ruhut yang merupakan anggota Komisi III DPR itu balik menantang kemampuan Nurhayati untuk me-recall-nya dari DPR. Saking geramnya, Ruhut bahkan menyebut Nurhayati dengan istilah Nenek Lampir.

Berkali-kali Ruhut memang melontarkan tuntutan mundur terhadap Anas karena dianggap membawa kemunduran popularitas Demokrat dengan kasus-kasus korupsi yang dianggap melibatkan dirinya. Terkait itulah, niat melakukan pendisiplinan terhadap kader pun dilakukan oleh Nurhayati. Tapi logikanya, diingatkan Hikam, tidak mungkin Ruhut berani terang-terangan seperti itu kalau tidak diback-up elite Partai Demokrat lainnya.

"Sekali lagi, ini menunjukkan elit Demokrat tidak padu. Walaupun SBY minta konflik tidak dibawa ke mana-mana, tapi kenyataannya makin meruyak saja," sebutnya.

Ketidakdewasaan dalam mengatasi masalah, kata Hikam, jadi masalah Demokrat yang lainnya. Setiap konflik yang terjadi selalu dibawa ke ranah publik, sehingga ujung-ujungnya bukan bisa menyelesaikan masalah, tapi malah semakin menjadi masalah saja. Ini juga yang membuat Demokrat berbeda dengan Golkar atau partai lainnya, dimana mereka bisa meredam permasalahan diinternal mereka sendiri.

Dalam kondisi seperti itu, lanjut Hikam, maka mau tidak mau SBY harus menunjukkan sikap yang frontal terhadap Anas. Kefrontalan SBY sebagai pendiri, ketua dewan pembina dan dewan kehormatan partai terhadap Anas akan bisa menghentikan konflik. Kalau tidak maka konflik antar elit yang terjadi akan merembet ke kader-kader Demokrat di bawah.

"Kalau konfliknya sudah sampai ke bawah, maka Demokrat akan pecah di mana-mana!" tuturnya.

Anas sendiri, dalam amatannya, sekarang ini berjuang terus untuk menanamkan pengaruhnya di Demokrat, terutama terhadap para pengurus DPD dan DPC. Itu dilakukan untuk mengantisipasi kalau-kalau di-KLB-kan. Atau bisa juga untuk sekedar mencari perimbangan agar dirinya tidak mendapat punishment atau sanksi yang terlalu jelek kalau-kalau dugaan korupsi Hambalangnya disidik KPK.

"Kasus Hambalang terus berjalan. Dan kalau KPK serius, hampir sulit bagi dia untuk survive," sebutnya.

Kelompok pro Anas, lanjut dia, belakangan ini semakin kelimpungan saja menghadapi pertarungan. Misalnya, mereka menggalang beberapa manuver lewat beberapa pertemuan dan menunjukkan kesan kepada publik yang seolah-olah sedang tidak ada masalah. Tapi masalahnya, itu dilakukan saat SBY tengah berada di luar negeri. Dan Anas sendiri malah menyebut kemerosotan citra Demokrat adalah akibat kinerja pemerintahan SBY yang tidak bagus.

"SBY harus benar-benar tegas dalam memberikan warning untuk tidak sekedar meminta mengundurkan diri. Pernyataan Anas membuat konflik semakin frontal saja. Kalau SBY tidak tegas maka Demokrat betul-betul sudah kacau dan semakin lama akan semakin tergerus," tandas Wakil Rektor Presiden University itu.

Agar Demokrat tidak hancur, kata dia, maka pilihannya DPP dan Dewan Pembina harus bersatu, bukan sekedar berdamai. Berdamai saja tidak cukup karena publik sudah tahu apa permasalahan sebenarnya. Demokrat butuh kehadiran penengah. Tokoh sepuh Demokrat seperti TB Silalahi, jelasnya, bisa mengambil peran itu.

"Beliau adalah sosok netral dan memiliki kewibawaan yang tinggi untuk menjadi penengah dan menyelesaikan kemelut internal elite PD," tandasnya.[dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Langkah Prabowo Masukkan Budaya LGBTQ Ancaman Nonmiliter Patut Didukung

Minggu, 05 Juli 2026 | 08:18

Kenduri Cinta Tantang Jokowi Dialog Terbuka soal Ijazah

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:31

Program Kopdes Tak Boleh Abaikan Prinsip HAM

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:19

Wacana Dua Periode Anyep Bikin Relawan Beralih Dukung Gibran Maju Capres

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:05

Anomali Gembok Rp1 Juta Ditjenpas

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:53

JPU Kasus Ijazah Jokowi Bikin Takut Narasumber Hadiri Diskusi di Televisi

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:46

Burung Bicara Sebelas Kata

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:34

Eropa dalam Perang Salib Pertama (1096-1099)

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:27

Penalti Mbappe Bawa Les Bleus ke Perempat Final

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:21

Keuntungan BUMN Jadi Energi Baru Pembangunan

Minggu, 05 Juli 2026 | 06:06

Selengkapnya