Berita

Muhaimin Isk­andar

Bisnis

Ngapain Sih Menteri Imin Ngotot Bela Industri Rokok

Kerugian Negara Akibat Asap Jahat Capai Rp 100 Triliun
JUMAT, 22 JUNI 2012 | 08:18 WIB

RMOL.Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenaker­trans) mestinya lebih memper­hati­kan kerugian negara akibat rokok dibandingkan dengan  mun­culnya PHK massal. Tidak masuk akal jika ratusan ribu orang akan ke­hilangan pekerjaan dengan pem­berlakuan Ranca­ngan Peratu­ran Pemerintah (RPP) Pengen­dalian Dampak Tembakau.

Menakertrans Muhaimin Isk­andar mengklaim  500.000 orang akan kehilangan mata pencaha­rian jika RPP mengenai Pengen­dalian Dampak Tembakau di­sahkan tanpa memperhitungkan aspirasi petani tembakau dan pengusaha rokok  kretek.

Cak Imin, sapaan Muhaimin mengatakan, dia menerima ba­nyak keluhan dari petani tem­ba­kau dalam kunjungannya ke Pa­mekasan, Madura, ba­ru-baru ini.

“Mereka resah kalau mereka akan kehilangan mata penca­ha­rian­nya, mereka menginginkan pe­nun­daan RPP,” kata Imin di Ja­karta, kemarin.

Ketua pengurus harian Yayasan Lembaga Konsu­men Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyayang­kan pernyataan Muhaimin yang terkesan meng­inginkan penun­daan RPP temba­kau. “Terlalu ken­tara kalau dia membela ke­pen­tingan in­dustri rokok dan bu­kan­nya melin­dungi masyarakat,” sentul Tulus.

Menurut Tulus, tidak masuk akal jika ratusan ribu orang akan kehilangan pekerjaan dengan pemberlakuan RPP Pengen­dalian Dampak Tembakau.

Data Kementerian Kesehatan ta­hun 2004 me­nyebutkan, total biaya konsumsi atau pengeluar­an untuk tembakau adalah Rp 127,4 triliun. Biaya itu sudah ter­masuk biaya kesehatan, pengobat­an dan ke­matian akibat tembakau.

Se­mentara itu peneri­maan ne­gara dari cukai tembakau adalah Rp 16,5 tri­liun. Artinya, kerugi­an negara aki­bat si asap jahat ini lebih Rp dari 100 triliun.

“Artinya biaya pengeluaran un­tuk menangani masalah kese­hatan akibat rokok lebih besar 7,5 kali lipat daripada peneri­maan cukai rokok itu sendiri. Jadi sebe­narnya kita ini sudah dibodohi, su­­d­ah tahu rugi tapi tetap diper­ta­hankan,” tutur Ke­tua Komisi Nasional Peng­enda­lian Tem­ba­kau di aca­ra Pening­katan Cukai Ro­kok Prof Farid A Moeloek. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya