Berita

Muhammad Nuh

Bisnis

Menteri Nuh Obral Janji Uang Kuliah Tak Naik

SELASA, 19 JUNI 2012 | 08:13 WIB

RMOL.Imbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh kepada pihak perguruan tinggi negeri (PTN) untuk tidak menaikkan biaya kuliah tampaknya sulit dilakukan. Pasalnya, itu tergantung besarnya biaya operasional suatu kampus seperti pembelian kertas, bahan praktikum dan biaya internet.

Anggota Komisi X DPR Rully Khairul Azwar menga­ta­kan, pemerintah seharusnya me­matok biaya pendidikan da­lam batasan tertentu sehingga ada keleluasaan bagi masyarakat un­­­tuk memperoleh pendidikan.

Selain itu, katanya, diperlu­kan anggaran riset senilai 2,5 persen dari anggaran fungsi pen­di­dikan. Namun, usulan ang­garan itu di­tolak pemerintah.

“Kami meng­usulkan anggaran riset sebesar 30 persen dari biaya operasional perguruan tinggi,” kata politisi Partai Golkar ini.

Apalagi, kata Rully, kebijakan soal insentif dan disinsentif yang digulirkan pemerintah tidak bi­sa serta merta dilakukan begitu sa­ja. Itu tergantung pada sebe­ra­pa be­sar anggaran pendidik­an yang masuk di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Apalagi, saat ini ke­ba­nyakan ang­­garan pendidikan masuk dalam alokasi gaji guru.

Keterjangkauan biaya kuliah menjadi penting, terutama untuk menjamin mahasiswa yang mam­pu secara akademik tidak ter­ken­dala melanjutkan ke pen­di­di­kan tinggi akibat masalah biaya.

“Biaya kuliah yang mahal atau murah tergantung dari program studi, indeks kemahalan wilayah dan besar kecilnya perguruan tinggi,” jelas Rully.

DPR juga meminta agar pu­ngu­tan dana dari mahasiswa ti­dak besar, yang awalnya di­pa­tok se­pertiga dari biaya ope­rasional, akan diajukan sekitar 20 persen.

Menurut dia, pilihan tata ke­lola otonom, semiotonom dan otonom terbatas, merupakan pi­lihan un­tuk setiap perguruan tinggi yang seharusnya menda­pat persetujuan pemerintah.

Pengamat pendidikan Univer­sitas Pendidikan Indonesia (UPI) Said Hamid Hasan me­nam­bah­kan, adanya kenaikan sumbang­an pembinaan pendi­dikan (SPP) pada tahun ajaran baru nanti sa­ngat sulit dielak­kan. Keinginan Kementerian Pen­di­dikan dan Ke­budayaan (Ke­men­dikbud) yang men­do­rong PTN agar memperoleh dana in­sentif dari kerja sama riset juga sulit di­lakukan.

“Tak semua program studi mendapat tawaran riset dari pi­hak lain. Program studi seperti bio­logi, kimia, fisika, sosiologi, ba­hasa Indonesia sangat sulit men­dapat dana riset dari luar,” ucap­nya lagi.

Mendikbud Mu­ham­mad Nuh menjamin besaran SPP di per­guruan tinggi mulai tahun ajaran 2012/2013 ini tidak akan naik.

“Saya bisa jamin kalau SPP di perguruan tinggi tidak akan naik mulai tahun ajaran baru ini. Bah­kan, kalau dulu pernah ada biaya kuliah sampai Rp 200 juta, se­karang tidak ada lagi,” janjinya.

Nuh mengatakan, Ke­mendik­bud beserta jajaran rektor PTN telah sepakat untuk me­netapkan plafon pembiayaan kuliah secara wajar dan tidak memberatkan.

Terkait implikasi dengan pen­dapatan PTN, Nuh  bilang, pen­dapatan PTN tidak akan turun. Sebab, selain menarik biaya yang murah dari maha­siswa, PTN ma­sih mendapat subsidi dari pe­merintah.

Apalagi, lanjut Nuh, peme­rintah telah memiliki program Bantuan Ope­rasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) untuk mem­bantu pen­danaan PTN, se­hingga tidak lagi menarik dan membebankan biaya yang ma­hal kepada mahasiswa.

“Lewat BOPTN ini, PTN tidak boleh lagi membebankan biaya kuliah yang mahal. Karena itu, SPP yang mahal, kemudian ju­rusan-jurusan tertentu sampai ditarik Rp 200 juta, mulai tahun ajaran baru ini tidak ada lagi,” tegas Mendikbud.

Pengelolaan BOPTN, ujarnya, dilakukan secara fleksibel oleh PTN dan Kemendikbud sebesar 2,5 persen dari anggaran fungsi pendidikan ini bisa dimanfaatkan untuk  pembelian alat tulis kan­tor dan bahan praktikum. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya