Berita

hatta rajasa-boediono/ist

Kelamin Ekonomi Indonesia Tak Jelas Karena SBY Dudukkan Boed-Hatta Satu Meja

SENIN, 18 JUNI 2012 | 17:56 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menampilkan fokus yang mendua dalam menjalankan politik pembangunan ekonomi nasional.

Di satu sisi mengekor pada kepentingan internasional dengan ciri kapitalisme neoliberalistik yang dinahkodai Wakil Presiden Boediono berikut segelintir menteri bidang ekonomi. Sedangkan sisi lain bertumpu untuk mengembangkan agenda perekonomian rakyat melalui keberadaan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan, saat berbicara dalam diskusi Evaluasi Kinerja Tim Ekonomi SBY-Boediono yang diadakan Institut Proklamasi di Jakarta, Senin (18/6). Selain Syahganda, turut menjadi pembicara Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Persaingan Usaha, Supriyadi, serta Salamuddin Daeng, peneliti
Institute Global for Justice.

"Gaya bermuka dua terkait penataan ekonomi bangsa ini merupakan karakter SBY yang ingin aman di kedua sisi. Tapi akibatnya, kan saling bertabrakan. Lebih kacau lagi, agenda pemartabatan ekonomi rakyat justru tidak berjalan sesuai harapan bersama. Akibat digerusnya spirit nasionalisme bangsa oleh para pengekor kapitalisme neoliberalistik di tanah air yang memang anti rakyat," jelas Syahganda.

Menurutnya, kiprah Boediono dalam menjaga corak perjalanan ekonomi neoliberalisme meliputi dukungan utama Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Menteri Keuangan Agus Martowardojo, termasuk kehadiran pemain garda belakang yaitu Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mumammad Chatib Basri, Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan, dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto, serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu.

Sementara di barisan Hatta Rajasa, kata Syahganda, terdapat Menteri Pertanian Suswono, Menteri Perindustrian MS Hidayat, dan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan.

Syahganda menambahkan, pola SBY menerapkan kebijakan ekonomi dua muka itu telah menyebabkan ketidakseimbangan pembangunan ekonomi nasional. Karena kenyataannya lebih membebaskan bercokolnya peran aktif kalangan penyokong neoliberalisme yang didukung pihak asing.

"Sedangkan arah menuju kemakmuran hidup rakyat, kesejahteraan buruh, penghapusan beban pengangguran, pelayanan atas keleluasan pendidikan dan kesehatan, ataupun pengentasan kemiskinan tidak secara ril dikedepankan dan diwujudkan," ujarnya.

Dengan demikian, pemerintahan SBY sejauh ini tidak mampu menghasilkan pertumbuhan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. "Pertumbuhan yang ada lebih menguntungkan sekelompok elit kecil namun tidak mengubah struktur ekonomi sebagian besar masyarakat," tegasnya.

Dalam kaitan itu, Syahganda tidak mengherankan bila langkah Hatta Rajasa untuk mengerem perilaku ekonomi neoliberalistik, tak digubris dan bahkan dihadang oleh
Gita Wirjawan selaku sejawatnya di kabinet, seperti upaya pemberlakuan pajak ekspor batubara dan mineral hingga 100 persen, yang sebenarnya berpotensi menambah penerimaan negara dan dapat memacu pertumbuhan ekonomi jangka panjang serta perluasan lapangan kerja.

Ia juga mengatakan, kritik terhadap Hatta Rajasa yang dipandang mempraktikkan prinsip ”hattanomics” kini mulai ramai diperbincangkan oleh media luar negeri antara lain Wall Street Journal Online pada 23 Mei 2012, yang ditengarai bersifat proteksionis sekaligus anti asing. [zul]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya