ilustrasi
ilustrasi
RMOL. Standarisasi produk otomotif di Indonesia sangat diperlukan mengingat hampir semua produk otomotif diimpor. Di Amerika saja punya badan standarisasi keamanan otomotif, kok Indonesia belum punya?
Selama ini, kalau ada recall atau kasus hukum di industri otomotif, belum pernah diusut tuntas dan dibiarkan saja. Terkait banyaknya permaÂsalahan indusÂtri otomotif mulai dari penarikan kemÂbali (recall) hingga kasus yang dibawa ke pengadilan, diÂnilai sebagian maÂsyarakat akiÂbat rendahnya reÂgulasi dan sisÂtem standarisasi di Indonesia.
Menurut pengamat otomotif SuÂhari Sargo, standarisasi yang selama ini di bawah wewenang Kementerian Perindustrian (KeÂmenperin) tidak bisa diharapkan. Pemerintah seÂharusnya peka menÂcermati masaÂlah keselaÂmaÂtan pengguna otoÂmotif.
“Kalau ada masalah recall berÂarti ada yang salah atau kurang dari bagian mobil itu. Entah itu desainnya, mesin maupun tekÂnologinya. Kalau ada kasus pun tidak pernah diusut tuntas,†kata Suhari kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, Jumat (15/6).
Ia menegaskan, standarisasi dari sebuah produk terutama otoÂmotif di Indonesia sangat diÂperÂlukan mengingat hampir seÂmua produk otomotif merupaÂkan baÂrang impor.
“Kalau di Amerika saja punya Lembaga Nasional Keselamatan Jalan Raya (NHTSA) bagi inÂdustrinya, di Indonesia yang baÂnyak konsumennya kok nggak punya,†ungkap Suhari heran.
Suhari meminta, perbaikan sistem dan standarisasi keseÂlaÂmatan pengguna harus lebih diÂprioritaskan sehingga bisa menÂjadi acuan bagi keselamatan konÂÂsumen. Optimalisasi lembaÂga standarisasi juga harus terus diÂupayakan.
Kebijakan recall oleh Agen Tunggal Pemegang Merek (ATÂPM) justru dinilai Anggota KoÂmisi VI DPR Sukur Nababan, seÂbagai langkah tepat dan jadi prioÂritas keselamatan konsumen daÂlam berkendara. Recall meruÂpaÂkan bentuk perÂtanggungÂjaÂwaban ATPM terÂhaÂdap produk sehingga bisa meminimalisir kecelakaan.
“Recall sebenarnya masalah pertaruhan branding image yang sangat kuat, sehingga tak jarang pula ada ATPM yang tidak mau mempubliÂkasiÂkanÂnya,†ujarnya.
Ia tak memungkiri, saat ini inÂdustri otomotif Indonesia masih bergantung pada produk otomoÂtif dari negara asing. Untuk itu, meÂnuÂrutnya, pemanfaatan inÂdusÂtri lokal, termasuk mobil naÂsional, harus digalakan.
“Susah kalau kita masih berÂgantung. Wajar kalau banyak speÂÂsifikasi mesin maupun moÂdelnya tidak sesuai kondisi lingÂkungan di Indonesia,†kata Sukur.
Standarisasi berguna untuk menyaring dan memastikan bahÂwa produk impor yang masuk ke dalam negeri merupakan produk yang layak pakai dan memenuhi standar keamanan. Lihat saja beberapa kasus di dunia otomotif yang menyedot perhatian publik belakangan ini, terutama dua kaÂsus yang menimpa produk otoÂmotif Nissan.
“Pemerintah seharusnya memÂpertanyakan hal tersebut dan bisa memasukkannya pada salah satu standar produk otomotif di InÂdonesia. Bahkan kalau meÂmungÂkinkan panggil aja pihak ATPM- nya,†cetus Sukur.
Ketua Pengurus Harian YayaÂsan Lembaga KonÂsumen IndoneÂsia (YLKI) SudarÂyatmo, mengaÂtakan, pengaduan konsumen otoÂmotif di Indonesia yang masuk ke YLKI biasanya terkait dengan cacat produk. Sedangkan yang terkait peÂngaduan soal iklan moÂbil jarang masuk ke YLKI.
“Seperti kasus Nissan Juke miÂsalnya, saya sepakat jika kasus ini naik ke meja hijau. Dalam kasus itu seharusnya ada pihak yang berÂsalah dan bertanggung jawab secara hukum,†katanya.
Sebelumnya, Ketua I GaÂbuÂngan Industri Kendaraan BerÂmotor Indonesia (Gaikindo) JongÂkie D Sugiarto mengaÂtakan, penarikan recall produk otomoÂtif tak bisa dilihat dari sisi neÂgatif. Penarikan kembali harus dilihat sebagai bentuk tangÂgung jawab ATPM terhadap pelanggan.
“Masyarakat diharapkan tidak melihat recall sebagai sesuatu yang buruk. Mobil merupakan barang yang diproduksi oleh maÂnusia seÂhingga tidak mungkin bisa luput dari kesalahan,†kilah Jongkie.
Penarikan kembali untuk diperÂbaiki memang harus menjadi tanggung jawab produsen mobil tersebut. Jongkie tidak mengeÂtahui sudah berapa banyak reÂcall yang dilakukan produsen mobil. Menurutnya, ATPM tak memiliki kewajiban untuk melaÂporkan recall ke Gaikindo. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23