susilo bambang yudhoyono (sby)
susilo bambang yudhoyono (sby)
RMOL.Inilah salah satu bukti kinerja buruk pemerintahan SBY. Daya saing usaha Indonesia makin tertinggal dengan negara tetangga seperti MaÂlaysia, Singapura dan Vietnam. Ini semua akibat birokrasi yang dipenuhi pungli.
Anak perusahaan Bank Dunia, yaitu Internasional Finance CorÂporaÂtion (IFC) menyatakan, daya saing usaha di Indonesia berada di posisi 129. Sedangkan MaÂlaysia menduduki peringkat 18.
OperaÂtion Investment ClimaÂte IFC Sandra Pranoto mengungÂkapkan, peringkat Indonesia yang menÂduduki nomor 129 di 2010-2011 itu kalah jauh dengan ThaiÂland (17), bahkan Singapura yang berada di posisi teratas.
“Bayangkan saja Singapura menÂduduki peringkat satu, seÂdangÂkan Thailand dan Malaysia peringkat 17 dan 18. Ada banyak kendala yang membuat IndoÂnesia berada di peringkat 129,†katanya kepada wartawan di Jakarta, keÂmarin.
Sandra menjelaskan, seÂtiÂdakÂnya ada tiga penyebab peringÂkat daya saing Indonesia di Asia Timur dan Pasifik jeblok. PerÂtaÂma, biaya unÂtuk mendirikan usaha yang mahal sekitar 22 perÂsen dari pendapatan per kapita. Hal itu mengindiÂkaÂsikan bahwa 4 kali lebih besar dari Thailand
Kedua, izin mendaftarkan proÂperti, yaitu 11 persen dari nilai properti. Itu lebih besar 3,7 perÂsen dari anggota Asia-Pacific EcoÂnomic Cooperation (APEC) lainÂnya. Ketiga, Karena IndoneÂsia mencatat persyaratan modal miÂnimum. Padahal, itu tidak dilaÂkukan negara lain dimanaÂpun.
“Tiga hal inilah yang membuat Indonesia kalah saing dengan neÂgara lain,†bebernya.
Ketua Lembaga PengÂÂkajian, PeÂnelitian dan PeÂngÂembangan Ekonomi (LP3E) Kamar Dagang dan Industri (KaÂÂdin) Didik J RachÂbini menyatakan, prosedur berÂbiaya tinggi dan pungutan liar (pungli) meÂnyebabkan segala benÂtuk periÂzinan usaha berjalan lama. Hal itu tidak lepas dari motif piÂhak biroÂkrasi yang selalu mencari celah untuk mengail untung dari para pengusaha. “Siapa yang menÂÂcipÂtaÂkan seÂmua itu? Ya biroÂkraÂsi,†cetus ekoÂnom jebolan IPB ini.
Dia mencontohkan, untuk izin penÂdirian usaha di Singapura hanya memakan waktu tiga hari. SedangÂkan di Jakarta, penguruÂsan seÂrupa memakan waktu tiga bulan. “Itu pun kalau ada setorÂan. KaÂlau nggak, ya pasti lebih lama lagi,†kritiknya.
Atas dasar itu, Didik menilai, penÂting bagi pemerintah untuk segera melakukan reformasi biroÂkrasi. Langkah itu diperlukan demi memangkas alur birokrasi yang rumit sekaligus mengÂhiÂlangkan biaya-biaya tak resmi.
Ia menilai, berkembangnya puÂnguÂtan-pungutan siluman diseÂbabkan oleh lemahnya pengawaÂsan dari pimpinan lembaga atau dinas terÂtentu dan belum adanya aturan jelas dalam alur birokrasi.
Anggota LP3E Kadin Ina PriÂmiana menimpali, daÂlam ranÂtai distribusi, penguÂsaha kebaÂnyaÂkan harus memÂbayar biaya retribusi yang dikeÂnaÂkÂan di maÂsing-maÂsing daeÂrah yang dilalui. “EkoÂnomi biaya tinggi merupaÂkan biaya tidak terkontrol yang besarÂnya bisa mencapai 20-30 persen dari biaya ekonomi,†ujarnya.
Menanggapi rating tersebut, Deputi bidang Pengendalian PeÂlakÂsanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis menyataÂkan, ranking tersebut tidak bisa dijaÂdikan tolak ukur tinggi renÂdahnya investasi.
Hasil kajian KemenÂterian DaÂlam Negeri menyebutkan, MaÂnado menÂjadi kota tersulit dalam izin mendirikan usaha dengan nilai 20. Sementara kota terÂmudah menÂdiriÂkan usaha Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nilai 1. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08