Berita

ilustrasi

Inilah Lima Keanehan Penembakan Misterius di Papua

SENIN, 11 JUNI 2012 | 14:58 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Penembakan-penembakan misterius masih terjadi di Papua. Setelah menelan korban, turis asing, pelajar, aparat, tadi malam, yang menjadi korban penembakan orang tidak dikenal adalah seorang anggota ojek. Penembakan itu pun memiliki keanehan.

"Kawan-kawan Pemuda Muhammadiyah Papua melaporkan ada lima keanehan di balik aksi kekerasan yang terjadi belakangan ini," ujar Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Saleh P. Dahlay kepada Rakyat Merdeka Online (Senin, 11/6).

Pertama, sewaktu terjadi penembakan, masyarakat tidak ada yang mendengar suara senjata api. "Dugaan sementara menyebutkan bahwa senjata yang dipakai adalah senjata modern yang dilapisi alat peredam, bukan senjata rakitan," jelasnya.

Kedua, aksi ini terjadi di ibukota provinsi, Jayapura. Kalau aksi ini dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) tidak mungkin dilakukan di ibukota provinsi,  dimana terdapat aparat keamanan lengkap dan ditempatkan di hampir setiap sudut kota.

Ketiga, korban aksi ini adalah hampir semuanya warga sipil. Bahkan salah seorang korban, Tri Sarono 44, hanyalah seorang satpam Saga Mall Abe yang merangkap sebagai tukang ojek.  Dia ditembak Minggu malam setelah mengantar penumpang ke kampus lama Universitas Cendrawasih.

"Melihat  kronologisnya, tidak jelas apa motif kekerasan tersebut. Mengapa warga sipil yang menjadi incaran? Apa betul tindakan itu dilakukan OPM?" tanyanya.

Keempat, kejadian penembakan rata-rata terjadi di malam hari, di atas jam 9 malam. Selain itu, penembakan dilakukan di tempat yang terpisah-pisah. "Kelihatan sekali ada semacam skenario yang sistematis di balik kekerasan-kekerasan itu," ungkapnya.

Kelima, aparat keamanan (TNI dan Polri) beserta aparat intelejen seakan-akan tidak
berkutik dalam mengantisipasi kekerasan di Papua. Padahal, mereka memiliki pasukan
dan persenjataan lengkap. "Apakah ada unsur kesengajaan untuk tidak menuntaskan kasus kekerasan ini, atau memang aparat keamanan kita tidak mampu?" tanyanya lagi.

Karena itu, masih kata Saleh, berdasarkan pengamatan anggotanya di Papua seminggu terakhir ini, kasus ini kelihatannya tidak murni gerakan separatisme. Malah cenderung bersifat politis yang dilakukan oleh orang-orang terlatih secara professional. [zul]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya