ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Aroma politisasi dalam proses seleksi Dewan Komisioner OtoÂritas Jasa Keuangan (DK OJK) mulai menyeruak. Kasak-kusuk lobi oleh beberapa kandidat suÂdah dimulai. Kegiatan itu dikhaÂwatirkan akan mempengaruhi independensi DPR dalam proses seleksi anggota DK OJK.
Anggota Komisi XI DPR Arif Budimanta mengatakan, Komisi XI DPR akan berusaha menjamin independensi saat melakukan proses seleksi anggota DK OJK.
“Berbagai politisasi akan diÂhindari, termasuk ada konflik kepentingan antara calon dengan anggota DPR,†janjinya.
Arif mengungkapkan, lobi-lobi yang dilakukan calon anggota DK OJK masih sebatas komuniÂkasi dan hal itu masih wajar.
“SeÂjauh ini komunikasi calon anggota DK OJK biasa saja deÂngan anggota Komisi XI DPR. Lobi-lobi hanya saat bertemu di ruang rapat DPR, saat proses fit and proper test,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka, Kamis (7/6).
Menurut Arif, jika ada perteÂmuÂan-pertemuan lain di luar hal tersebut, mungÂkin saja bisa terÂjadi. Apalagi jika antara calon-calon anggota DK OJK itu sudah kenal lama atau bahkan berteÂman baik dengan anggota KoÂmisi XI DPR.
Namun, politisi PDIP ini meÂngaÂtakan, bagiÂnya yang terpenÂting komunikasi ataupun lobi-lobi tersebut tidak mempengaruhi proses pengamÂbilan keputusan.
“Kami akan menÂjalankan tuÂgas untuk meÂmilih anggota DK OJK sesuai ketentuan yang berlaku seobjektif mungkin,†pungkas Arif.
Kaum profesional yang tergaÂbung dalam Asosiasi Profesi PaÂsar Modal Indonesia (APPMI) mengharapkan DPR tidak terÂpanÂcing atau bahkan justru memÂfaÂsilitasi lobi-lobi itu. DikhaÂwatirÂkan kegiatan seperti itu akan mengÂhilangkan objektivitas dan memÂbuat buruk kredibilitas OJK kelak.
“Ya, aroma politisasi seÂleksi komisioner OJK di DPR tidak terÂhindari. Para anggota DPR senÂdiri yang mengatakan mereka sudah dilobi banyak piÂhak. Dan kita meminta supaya hal itu tidak dibiarkan,†ujar Sekjen APPMI Benny Nasution.
Benny mengakui, proses seleksi DK OJK di DPR merupakan doÂmain politik. Namun, ia minta hendaknya DPR tidak menÂjadiÂkan pertimbangan kepentiÂngan politik yang paling utama. Sebab, jika demikian, obyektivitas mereÂka akan hilang. Padahal, menuÂrutnya, OJK harus menÂjadi lemÂbaga independen karena harus meÂngawasi sektor keuangÂan yang sangat besar dan penting.
Karena itu, Benny mengataÂkan, DPR harus menutup pintu pada lobi-lobi yang dilakukan oleh berbagai pihak dan berfokus pada integritas serta kompetensi para kandidat. “Kandidat yang paling banyak kasak-kusuk jaÂngan dipilih. Yang paling sering melakukan lobi, sisihkan saja. Citra DPR akan jadi jelek nanti, karena dikira sudah mendapat uang,†kata Benny. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Senin, 12 Januari 2026 | 14:15
Senin, 12 Januari 2026 | 14:10
Senin, 12 Januari 2026 | 14:08
Senin, 12 Januari 2026 | 14:03
Senin, 12 Januari 2026 | 14:03
Senin, 12 Januari 2026 | 13:52
Senin, 12 Januari 2026 | 13:40
Senin, 12 Januari 2026 | 13:12
Senin, 12 Januari 2026 | 13:10
Senin, 12 Januari 2026 | 13:04