Rumah PAN
Rumah PAN
RMOL.Seorang pria muda merebahkan badannya di sofa empuk berlapis kain cokelat. Matanya terus menatap BlackBerry yang dipegang dengan kedua tangan. Di meja lainnya seorang pria juga sibuk mengutak-atik gadget besutan Research In Motion itu. Sepiring menu makan siang belum disentuhnya.
Suasana cafetaria ini tampak sepi kemarin siang. Hanya ada seÂorang pria berseragam biru hitam yang melayani pemesanan maÂkaÂnan maupun minuman. Lukisan waÂjah Amien Rais, pendiri dan beÂkas ketua umum ParÂtai Amanat Nasional (PAN) diÂpajang di dinÂding samping meja bar. Beberapa orÂnamen di tempat ini ini dicat deÂngan warna biru khas partai itu.
Cafetaria ini terletak di lantai daÂsar gedung yang terletak di kaÂwaÂsan Mampang Prapatan, JaÂkarta Selatan. Gedung berlantai tuÂjuh ini diberi nama Rumah PAN. Di sinilah partai berlogo maÂtahari terbit itu bermarkas.
Plang nama berukuran besar bertuliskan “Rumah PAN†dipaÂsang di atas gedung. Plang yang dilengkapi lampu sorot itu bisa terlihat jelas dari kejauhan. SeÂbuah bendera partai berkibar-kiÂbar diterpa angin. PAN terancam angkat kaki dari gedung ini. Pasalnya, Soetrisno Bachir (SB), peÂmilik gedung teÂlah mengÂhiÂbahÂkannya ke MuÂhammadiyah.
SB adalah ketua umum PAN periode 2005-2010. Pada 2007 pengusaha batik asal Pekalongan ini membeli gedung Wisma BakÂrie di Jalan Warung Buncit Raya 17, Mampang, Jakarta seharga Rp 17 miliar.
Gedung ini lalu dipakai menÂjadi kantor DPP PAN. Lantai terÂatas menjadi kantor SB. Ketika meÂmimpin PAN, SB berniat mengÂhibahkan gedung ini untuk partai. Namun terbentur peratuÂran. UU Pemilu hanya memÂperÂbolehkan sumbangan perÂseÂoraÂngan ke partai maksimal Rp 1 miliar.
Untuk menyiasatinya, dibentuk Yayasan Amanat Nasional (YAN). Yayasan ini bertindak seÂbagai pengelola gedung. Yayasan lalu meÂnyewakan gedung ke PAN deÂngan harga Rp 1 (satu rupiah) per tahun. Perjanjian sewa samÂpai 2010. Pada tahun SB lengser dari kursi ketua umum partai dan digantikan Hatta Rajasa.
April lalu, SB menemui Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin untuk mewakafkan gedung yang kini ditempati DPP PAN ke Muhammadiyah. “Saya ingin berkhidmat ke MuÂhamÂmaÂdiyah karena sudah jenuh deÂngan politik,†aku SB.
Saat pengujian di Gedung PuÂsat Dakwah Muhammadiyah 1 Juni lalu, Din mengumumkan waÂkaf itu. PAN pun geger lanÂtaÂran merasa memiliki gedung itu. Menurut Asman Abnur, PengaÂwas Yayasan Amanat Nasional, gedung ini sudah diwakafkan SB ke PAN sehingga dianggap seÂbagai aset partai.
“Tahun 2005, Mas Tris terpilih. TerÂcetuslah dari beliau akan memÂberikan gedung. Artinya tercetus saat beliau menjadi ketua umum PAN. Kemudian terealiÂsaÂsiÂlah saat beliau menjadi ketua umum PAN,†terangnya. Mas Tris adalah sapaan akrab SB.
Ketua Majelis Ekonomi MuÂhamÂmadiyah Syafruddin Anhar mengaku sudah membaca dokuÂmen mengenai status geÂdung. DaÂlam dokumen itu diÂseÂbutÂkan PAN hanya meminjam. “Itu perjanjian pinjam-pakai yang habis tanggal 24 April 2010,†katanya.
Ia menambahkan proses wakaf sudah selesai. Bahkan, akad wakaf sudah dikeluarkan Kantor Urusan Agama dan Kementerian Agama sejak tiga minggu lalu.
Sekarang, pihaknya sedang meÂngurus proses balik nama keÂpemilikan gedung. “Sertifikat ke notaris sedang diurus. Kita tingÂgal administrasi saja. Segala perÂsyaÂratan sudah selesai,†katanya.
Menurut Syafruddin, bila PAN masih ngotot mengklaim gedung ini miliknya silakan selesaikan di pengadilan. “Tapi nggak enaklah masak PAN mau ribut dengan MuÂhammadiyah pakai proses huÂkum. Baik-baiklah, silaturrahim atau secara kekeluargaan,†katanya.
Sikap PAN akhirnya meÂngeÂnÂdur. Wakil Ketua Umum Dradjad Wibowo mengatakan persoalan wakaf gedung ini diselesaikan secara baik-baik. “Saya sendiri merasa malu kalau urusan wakaf ini jadi ramai, apalagi sampai ribut. Janganlah,†katanya.
Menurut dia, langkah SB yang menghibahkan gedung ini ke Muhammadiyah perlu dihormati. “Urusan administrasi dan detail lainnya kita selesaikan baik-baik. Saya yakin DPP PAN akan meÂngambil solusi yang besar manÂfaatÂnya bagi kemashalatan umÂmat dan masyarakat, termasuk jika perlu pindah kantor,†katanya.
Syafruddin mempersilakan PAN untuk mengambil barang-baÂrang yang sudah telanjur dipaÂsang di gedung tersebut. “Kalau soal PAN pernah merenovasi atau apa, ya silakan sajalah diambilin interiornya, kursi-kursi, meja-meja, lemari-lemari,†katanya.
Muhammadiyah akan mengÂguÂnaÂkan gedung ini sebagai puÂsat bisÂnis, institut bisnis dan lemÂbaga dakÂwah. Tapi rencana itu ditunda. “Saat ini kantor terÂseÂbut masih diÂguÂnaÂkan sekretariat DPP PAN,†katanya.
Hingga kemarin, PAN masih menempati gedung ini. “Kami maÂÂsih beraktifitas secara normal dan tidak ada permintaan untuk dari ataÂsan untuk siap-siap pinÂdah,†kata Ita, staf informasi DPP PAN.
Hatta Tawarkan Pindah Kantor
Setelah terpilih jadi ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) pada 2010 lalu, Hatta RaÂjasa pernah menawarkan pinÂdah kantor dari gedung berÂlantai tujuh di Mampang, JaÂkarÂta Selatan. Namun kader partai berlogo matahari terbit masih kerasan di situ.
Menurut Ketua DPP PAN Asman Abnur, keinginan untuk pindah kantor itu akhirnya diÂpendam. “Ada sejarah PAN diÂsitu yang tidak bisa kita piÂsahkan. Sudah enam tahun kita di sana dan itu tidak bisa kita pisahkan,†kata dia.
Belakangan, Soetrisno Bachir (SB), pemilik gedung menyatakan telah mewakafkan gedung yang jadi markas PAN itu ke Muhammadiyah. Pihak MuÂhammadiyah mengklaim sudah memiliki akad wakaf itu.
Menyikapi itu, pihak DPP PAN berencana membicarakan soal gedung ini dengan MuÂhamÂmadiyah. “Mudah-mudaÂhan ada solusi karena sebagian pengurus PAN juga ada disitu. Nanti kita akan putuskan seperti apa keputusan kita dengan MuÂhammadiyah,†kata Asman yang duduk sebagai pengawas di Yayasan Amanat Nasional (YAN). Selama ini, YAN yang ditunjuk mengelola gedung ini.
Gedung yang disebut Rumah PAN berada di Jalan Warung BunÂcit Raya. Berada di sisi kiri dari arah Kuningan menuju RaÂguÂnan. Untuk masuk ke dalam geÂÂdung warna biru tersedia pinÂtu selebar dua meter dari kaca. PinÂtu ini selalu terbuka. Di atas pintu dipasang papan nama warna putih bertuliskan “Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasionalâ€.
Melewati pintu masuk, terÂdaÂpat ruang lobby yang tak terlalu luas. Di tempat ini terdapat meja recepsionis. Tidak ada orang yang menjaga meja ini. Di seÂbelah kanan lobby tersedia dua lift untuk naik ke atas.
Masuk lebih dalam terdapat dinding kaca. Di tengah-teÂngahÂnya terdapat pintu. Inilah pintu menuju cafetaria. Tempat kongÂkow ini cukup luas. Di sebelah kanan pintu tersedia sofa yang bisa menampung lima orang.
Di samping kanan sofa itu diÂbangun panggung kecil. Sebuah televisi layar datar berukuran besar melengkapi panggung ini. Alunan lagu dangdut mengalun dari layar kaca itu.
Di tengah cafetaria diletakkan meja bundar dengan empat kursi mengelilingi. Kursi itu memiliki tempat sandaran badan yang tinggi. Meja dan kursi itu mengÂhaÂdap ke meja bar, tempat peÂmeÂsanan makanan dan minuman.
Pengurus DPP PAN berkantor di lantai tiga. Untuk mencapai lantai ini bisa menggunakan lift. Sebelum masuk ke ruangan peÂngurus disediakan meja inforÂmasi yang dijaga seorang peÂremÂpuan. Setiap tamu yang henÂdak masuk harus mengisi buku tamu terlebih dulu.
Foto pendiri PAN Amien Rais, Ketua Umum Hatta Rajasa dan Sekjen Taufik Kurniawan dipajang di ruang pengurus. Ruangan sepi karena pengurus sedang ke luar daerah. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 15 Juni 2026 | 02:37
Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07
Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11
Senin, 15 Juni 2026 | 19:07
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21
Senin, 22 Juni 2026 | 15:05
UPDATE
Selasa, 23 Juni 2026 | 16:16
Selasa, 23 Juni 2026 | 16:10
Selasa, 23 Juni 2026 | 16:07
Selasa, 23 Juni 2026 | 16:04
Selasa, 23 Juni 2026 | 16:01
Selasa, 23 Juni 2026 | 15:59
Selasa, 23 Juni 2026 | 15:53
Selasa, 23 Juni 2026 | 15:49
Selasa, 23 Juni 2026 | 15:45
Selasa, 23 Juni 2026 | 15:32