Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Calon Bos OJK Diduga Punya Rekening Gelap

DPR Kantongi Laporan Dari Badan Intelijen Negara
SENIN, 04 JUNI 2012 | 08:20 WIB

RMOL.Satu demi satu keburukan calon Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) muncul ke publik. DPR mengaku ada calon yang sengaja ‘me­malsukan’ laporan rekeningnya.

Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis berjanji akan minta keterangan langsung pada Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo mengenai sta­tus clear calon anggota DK OJK.

Menurut­nya, Menkeu yang juga Ketua Panitia Seleksi (Pansel) DK OJK harus menjelaskan ke­pada Ko­misi XI DPR terkait status calon-calon yang sudah diajukan.

“Kami akan panggil Pansel untuk meng­konfirmasi hal terse­but. Rencana­nya minggu depan sebelum jad­wal seleksi calon ang­gota DK OJK,” ujarnya ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Untuk itu, pihaknya juga akan mempertanyakan, apakah Pansel melakukan hal yang sama de­ngan Komisi XI DPR, yaitu me­minta informasi dari Pusat Pela­poran Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) maupun Badan Intelijen Negara (BIN).

“Kami akan minta penjela­san kepada Menkeu apa landa­san­nya berani menjamin calon ang­gota DK OJK sudah clear. Kami juga akan kroscek data-data itu de­ngan mereka. Nanti akan kita li­hat apa­kah Menkeu ber­bohong atau yang sebenarnya,” jelasnya.

Apalagi, kata Harry, dalam ra­pat tertutup dengan dewan, BIN  menya­takan ada beberapa calon yang tak jujur melaporkan ke­ua­ngan­­nya. “Ada yang terindi­kasi me­­manfaatkan jabatan,” ujarnya.

Pengamat pasar modal Yanuar Rizki menilai, proses seleksi ca­lon komisioner memang tidak  maksimal karena tidak menelisik soal rekening. “OJK akan men­jadi lemba­ga super power, seha­rusnya kapa­sitas calon sudah teruji,” kata Yanuar, kemarin.

Bila terpilih, lanjutnya, calon ko­­misioner tersebut harus mam­pu melepas transaksi keuangan agar benar-benar independen. Ma­sa­lah inde­pendensi sejak awal harus dibuk­tikan kepada publik bahwa calon tersebut tidak ber­potensi dan terindikasi korupsi.

Untuk itu, dia juga meminta PPATK berani menyebutkan calon yang terlibat transaksi men­curigakan. Tujuan­nya, agar pub­lik bisa menilai kua­litas calon. Jika tidak, ia khawatir akan ter­jadi kesepakatan terse­lubung antara PPATK dan DPR yang berujung pada utang budi politik.

Jangan Jadi Panti Jompo

Koordinator Indonesia Corrup­tion Watch (ICW) Danang Wid­yoko mengatakan, calon komisi­o­ner OJK seharusnya memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi. “Ja­ngan menjadikan OJK sebagai panti jompo,” ujarnya.

Dewan, saran Danang, se­baik­nya memilih calon yang beru­sia muda. Bila calon yang lolos ber­usia lanjut, harus dipasti­kan bisa bertanggung jawab secara fisik ter­hadap posisi yang diemban­nya. Kemarin, BIN juga me- nyam­­­paikan laporan dalam rapat ter­tutup dengan DPR.

Sebelumnya, Menkeu Agus Martowardojo memen­tah­kan te­muan PPATK dan BIN terkait ada­nya calon anggota bos OJK yang punya transaksi men­cu­rigakan. Agus mengaku semua informasi soal calon anggota DK OJK sudah clear. Menurutnya, 14 calon anggota DK OJK yang te­lah dipilih Pansel telah lolos se­mua klarifikasi dan me­miliki integritas yang baik.

“Saya ingin katakan 21 nama yang di­usulkan Pansel diyakini memiliki integritas yang baik. Dan mereka siap untuk menjadi calon Ko­misioner OJK,” ujarnya.

Agus menjelaskan, ada 21 na­ma yang diajukan ke Presiden SBY. Selanjutnya, oleh presiden dipilih 14 nama untuk diajukan ke DPR. Dia menegaskan, se­mua informasi soal calon DK OJK telah diklarifikasi.

“Mulai dari pembayaran pajak­nya, tindakan dia di daerah ber­dasarkan hasil BPKP, dari pasar modal, maupun dari instansi pe­merintah lain. Jadi semua sudah kita klarifikasi dan apa yang kita rekomendari itu setelah melalui klarifikasi,” tegas bekas Dirut Bank Mandiri itu pede. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya