Berita

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)

Bisnis

Kuota BBM Pembangkit Listrik Tidak Boleh Over

Menteri ESDM Keluarkan SE Hemat Energi
SENIN, 04 JUNI 2012 | 08:00 WIB

RMOL.PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) diminta menghemat peng­gu­naan bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkitnya. Sebab, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak akan menambah subsidi tahun ini.

Dirjen Ketenagalistrikan Ke­menterian ESDM Djarman me­ngatakan, kementeriannya sudah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Menteri ESDM yang meminta agar BUMN listrik itu melakukan penghematan penggunaan energi untuk pembangkitnya.

“Aturan itu keluar 10 Mei ke­marin. Volume BBM untuk pem­bangkit listrik tidak boleh mele­bihi dari alokasi yang sudah di­tetapkan dalam Anggaran Pen­da­patan dan Belanja Negara (APBN). Kecuali terjadi bencana alam yang memerlukan tam­ba­han ekstra listrik,” tegasnya.

 Menurutnya, jika BBM yang digunakan PLN melebihi jatah yang diberikan pemerintah, maka perusahaan itu harus me­nang­gungnya sendiri. Dikatakan, kuota BBM untuk PLN tahun ini sebesar 7,2 juta kiloliter (KL), se­dang­kan subsidi tahun ini Rp 64 triliun.

Kendati begitu, bukan berarti jika terjadi kekurangan tidak bisa ditambah. Menurut Djarman, dengan beroperasinya terminal penerima penampungan dan re­gasifikasi terapung (Floating Storage and Regasification Unit/FSRU) Teluk Jakarta dan penghe­matan listrik, PLN bisa saving BBM hingga 400 ribu kiloliter.

“Nah, yang 400 ribu KL ini di­jadikan cadangan, sehingga keti­ka ada pembangkit di luar Jawa yang membutuhkan tam­bahan BBM bisa menggunakan cada­ngan itu,” terangnya.

Djarman mengaku hingga kini PLN masih menyewa gen­set untuk memenuhi kebutuhan lis­trik di Indonesia. Me­nu­rutnya, 5571 megawatt masih meng­gu­na­kan genset sewaan dan 2828 megawatt dipenuhi oleh pem­bang­kit perusahan pe­lat merah itu.

Djarman juga meminta energi primer pembangkit PLN segera menggunakan batubara dan gas karena lebih murah dibanding penggunaan BBM. “Ini bisa meng­hemat biaya operasi,” katanya.

Karena itu, PLN harus me­la­kukan kontrak batubara dan gas jangka panjang untuk memenuhi pasokan energi primer.

Selain itu, Djarman juga me­nyinggung keterlambatan pro­yek 10 ribu megawatt tahap per­tama. Menurut dia, keterlam­batan pem­bangunan itu disebab­kan ke­lam­batan konstruksi, kualitas barang dan penyimpa­ngan barang yang kurang baik. Jadi barang yang didatangkan lebih awal menga­lami kerusakan saat dila­kukan pengujian. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya