ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Program penghematan energi yang dicanangkan Presiden SBY, dinilai belum menyentuh akar masalah. Kebijakan penghematan ini perlu desaian khusus. Bukan hanya simbolis seperti mematikan saklar lampu.
Pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengataÂkan, Instruksi PreÂsiden soal pengheÂmatan energi seluruh jajaran instansi pemerintah, BUMN/BUMD tiÂdak diperjelas lebih deÂtail. Bila kebijakan itu tidak diÂperjelas seÂcara detail, maka pejaÂbat dari instansi, pemda, BUMN/BUMD tidak bisa mengeÂtahui secara jeÂlas, apa saja yang harus dilakukan untuk mengÂheÂmat.
“Jadi ada ukuÂrannya seÂhingga kalau pejabat dari sebuah instansi tidak meÂlaksanakan instruksi terÂsebut, bisa dikenakan sanksi,†katanya di Jakarta, kemarin.
Tulus menegaskan, sudah beÂbeÂrapa kali program penghemaÂtan energi dilakukan. Namun tak pernah ada pejabat yang diÂkenaÂkan sanksi. “Saya takut Instruksi Presiden sama seperti yang lalu. Hanya menÂjadi macan ompong,†tegasnya.
Penilaian lebih tegas disamÂpaikan ekonom Indef Didik J Rachbini yang menganggap pengÂÂÂhematan energi ala Istana ini belum menyentuh substansi. KaÂrena, masih berkutat pada pengÂgunaan bahan bakar fosil yang jumlahnya semakin menipis.
Hal tersebut terjadi karena tiÂdak adaÂnya energi alternatif yang murah. Akibatnya, konsumsi baÂhan baÂkar minyak (BBM) berÂsubsidi membengkak yang seÂlanÂjutnya membebani APBN.
Didik menilai, larangan pengÂgunaan BBM bersubsidi bagi kenÂÂdaraan pemerintah tak berÂpengaruh terhadap penghematan karena biaya transportasi pegaÂwai selama ini ditanggung neÂgara. Menurutnya, pemerintah semestinya melakukan terobosan diversifikasi energi melalui peÂngembangan energi terbarukan, seperti panas bumi, gas, angin atau matahari.
“Kita masih masuk dalam peÂrangkap energi fosil, energi miÂnyak. Penghematan bagus, tapi kan ekonomi tumbuh dan butuh energi. Problemnya hanya satu, konversi. Kita punya panas bumi, matahari. Kenapa tidak digunaÂkan,†ujarnya.
Dikatakan, sebaÂgai langkah awal pemerintah perlu membuat pilot project kota energi yang mengÂguÂnaÂkan tenaga surya. Misalnya, di kawasan timur InÂdonesia yang memang kaya akan panas mataÂhari.
Berbeda dengan gaung di JaÂkarta, di daerah program heÂmat energi ala SBY disambut antuÂsiÂas, terutama dari pemerintah daeÂrah (Pemda). DPRD KabuÂpaten Kediri langsung meÂresÂpons poÂsitif geraÂkan hemat enerÂgi yang dicanangÂkan Presiden. Salah satu upaya di antaranya melarang moÂbil dinas mengÂguÂnakan BBM bersubsidi.
Sekretaris Komisi A DPRD KaÂbuÂpaten Kediri Nur Wakhid mengatakan, kini sudah saatnya pemerintah memberi contoh lebih dulu pada masyarakat, untuk mengÂÂgunakan BBM non subsidi. Pejabat harus bisa lebih efisien menggunakan anggaran perjaÂlaÂnan dinas.
“Tapi meski berhemat juga haÂrus diusahakan tidak menguÂrangi kinerja, utamanya pelaÂyanan pada masyarakat,†teÂrangnya.
Sementara dari korporasi yang sudah menyatakan dukunganÂnya, yakni PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Anak perusahaan PT PerÂtamina ini melakukan upaÂya nyaÂta dalam melaksanaÂkan program pemeÂrintah untuk pengÂhematan BBM, dengan cara meÂnyediakan transÂportasi massal (shuttle) bagi para karyawan.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi Salis S. Aprillian meÂresmikan 12 unit moÂbil shuttle untuk para karyaÂwan yang berkantor di Jalan TB SimaÂtuÂpang, Jakarta Selatan. Untuk seÂmentara, rute yang diÂberlakukan adalah rute dengan lokasi tempat tinggal para karyaÂwan di Bogor, Cibubur, Bekasi Barat, Bekasi Timur, Jatiasih, Depok, RawaÂmaÂngun, Bintaro, dan BSD.
Salis menjelaskan, penghemaÂtan BBM yang berhasil diperoleh dalam langkah awal ini adalah berkisar hampir 600 liter BBM per hari mengingat sebelumnya mereka yang menggunakan transÂportasi massal ini membawa moÂbil sendiri ke kantor.
Anggota Komisi VII DPR Satya Wira Yudha menilai, progÂram penghematan tidak akan efektif apabila pemerintah tiÂdak menerapkan punishment (hukuÂman). Kalau tidak ada, kata dia, program tersebut cuma seÂperti himbauan saja. “Makanya kita minta gerakan hemat BBM itu ada sanksinya jika tidak memeÂnuhi target penghematan. Kalau tidak sama juga bohong progÂramÂÂnya,†tegasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Senin, 12 Januari 2026 | 14:15
Senin, 12 Januari 2026 | 14:10
Senin, 12 Januari 2026 | 14:08
Senin, 12 Januari 2026 | 14:03
Senin, 12 Januari 2026 | 14:03
Senin, 12 Januari 2026 | 13:52
Senin, 12 Januari 2026 | 13:40
Senin, 12 Januari 2026 | 13:12
Senin, 12 Januari 2026 | 13:10
Senin, 12 Januari 2026 | 13:04