ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Program penghematan energi rupanya tidak berlaku bagi maÂsyaÂÂrakat di Kalimantan Tengah (Kalteng). Di Palangkaraya, awal pekan lalu sempat terjadi antrean BBM subsidi seperti bensin dan solar. Meski akhirnya dilakukan penambahan kuota, tak urung keÂjadian ini sempat memicu protes masyarakat. Seperti blokade batuÂbara di Sungai Mahakam.
Bagi Badan Pengatur Hilir MiÂnyak dan Gas Bumi (BPH MiÂgas), solusi terbaik dalam meÂngaÂÂtasi keÂkurangan kuota BBM berÂsubÂsidi di beberapa daerah, yakni deÂngan menambah kuota. LangÂkah itu tentunya diÂsertai deÂngan pengÂhematan dan peÂngenÂdalian pengÂgunaan BBM berÂsubsidi.
“LangÂkah yang harus dilakuÂkan adalah menamÂbah kuota, penghematan dan pengenÂdalian pengunaan BBM,†ujar Wakil Komite BPH Migas Fahmi Harsandono.
Sedangkan untuk industri perÂtambangan dan perkebunan, meÂnurutnya, seluruh pemerintah daeÂÂrah (Pemda) sebaiknya meÂnerÂbitkan aturan daerah yang meÂlarang penggunaaan BBM berÂsubsidi. Selain itu, Pemda dan BPH Migas juga dapat bekerja sama untuk menertibkan pengeÂcer bensin di wilayah yang berdeÂkatan dengan SPBU. “Memang di beberapa daerah belum ada SPBU, kita bisa memaklumi. Tetapi, Pemda bisa menertibkan untuk pegecer radius yang terlalu dekat dengan SPBU,†jelasnya.
Dalam program penghematan energi, Presiden SBY mengÂinÂstruksikan kepada BPH Migas agar meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait untuk meÂmastikan tidak ada kebocoran dan penyimpangan distribusi. PeÂnyimÂpangan itu mulai dari depo sampai ke stasiun pengiÂsian bahan bakar umum (SPBU) dan di tempat-tempat lainnya.
Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) Hanung Budya menyatakan, tugas PertaÂmina saat ini adalah bertanggung jawab agar kuota BBM bersubÂsidi sebesar 40 juta kiloliter yang ditetapkan pemeÂrintah tidak terÂlampui. “Tentunya, Pertamina haÂrus menyalurkan BBM berÂsubÂsidi dengan tepat sasaran dan volume,†ujarnya.
Misalnya, untuk mengatasi over quota BBM yang terjadi di Kalimantan, Pertamina akan meÂmasang sistem point of sales (POS) di setiap SPBU. POS meÂruÂpakan sistem yang akan menÂcatat semua transaksi BBM di SPBU secara akurat dari periÂlaku pembelian pelanggan baik voluÂme, waktu, lokasi SPBU dan keÂwajaran pembelian.
“Kini sudah beroperasi tiga di SPBU dan pada akhir Mei ini 25 SPBU. Hingga akhir Juli, selesai di seluruh SPBU yang ada di KaÂlimantan berjumlah 110 SPBU. Dengan sistem ini akan mereÂkam data pembelian setiap kenÂdaraan, sehingga kalau dinilai beli tidak wajar BBM di nozzle tidak akan keluar,†kata Hanung.
Ketua Umum Asosiasi PenguÂsaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, pengusaha menyambut baik terbitnya lima instruksi penghematan energi yang dikemukakan pemerintah.
Namun, ia menegaskan, seÂbaikÂÂnya kebijakan seperti itu jaÂngan sebatas wacana belaka. “Segera realisasikan kebijakan itu di laÂpangan,†tegasnya.
Pengamat Perminyakan KurÂtubi mengatakan, sebenarnya proÂgram penghematan energi suÂdah dari dulu dicetuskan pemeÂrinÂtah dan terbukti hasilnya tidak efektif. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Senin, 12 Januari 2026 | 14:15
Senin, 12 Januari 2026 | 14:10
Senin, 12 Januari 2026 | 14:08
Senin, 12 Januari 2026 | 14:03
Senin, 12 Januari 2026 | 14:03
Senin, 12 Januari 2026 | 13:52
Senin, 12 Januari 2026 | 13:40
Senin, 12 Januari 2026 | 13:12
Senin, 12 Januari 2026 | 13:10
Senin, 12 Januari 2026 | 13:04