ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) menilai, program pengentasan kemiskinan belum memperlihatkan kemajuan.
Gubernur Lemhannas Budi Susilo Soepandji mengatakan, pemerintah perlu meng-update program pengentasan kemiskinan yang belum memperlihatkan keÂmajuan. Oleh sebab itu, dalam rangka membantu pemerintah meÂngentaskan kemiskinan dan kesejahteraan, Lemhannas mengÂkaji akar permasalahan guna menÂcari solusi terbaik.
“Kajian mengenai pola kemisÂkinan itu nanti akan disampaikan ke pemerintah. Karena pola straÂtegi pengentasan masalah keÂmisÂkinan di kota maupun di peÂdeÂsaan sangat berbeda,†kata Budi di Jakarta, kemarin.
Budi berpendapat, dengan meng-update program kemisÂkiÂnan, diharapkan lebih tepat saÂsaÂran. Pasalnya, masalah kemisÂkiÂnan dan kesejahteraan muncul buÂkan karena struktural di peÂmeÂrintah yang bermasalah, tetapi akibat minimnya upaya pemÂberdayaan masyarakat.
Untuk itu, upaya pembenahan secara intens perlu dilakukan seÂgera oleh pemerintah. TerleÂbih, pemerintah menargetkan, samÂpai berakhirnya masa bakti kepeÂmimÂÂpinan yang tersisa dua tahun lagi, angka kemiskinan bisa diteÂkan hingga satu digit atau tinggal 10 persen.
“Untuk mencapai angka satu digit itu bukan hal yang mudah, karena penuh dengan tantangan. Perlu berbagai terobosan untuk menanggulanginya. Bukan haÂnya masalah di struktural pemeÂrintahan, tapi juga budaya yang berlaku di masyarakat daerah,†tutur Budi.
Apalagi secara faktual, upaya penanggulangan kemiskinan yang diterapkan pemerintah beÂlum sepenuhnya mencapai haÂraÂpÂan mengingat masalah kemisÂkinan tak hanya bisa diselesaiÂkan melalui kultural dan strukÂtural saja. Tapi juga bisa dilakuÂkan melalui peÂnyelesaian ekonoÂmi, infraÂstruktur dan lainnya.
Budi juga meminta berbagai elemen masyarakat terlibat daÂlam pengentasan kemiskinan dan keÂsejahteraan. Baik pemeÂrinÂtah, politisi, akademisi mauÂpun komÂponen bangsa lainnya.
Guru Besar Ekonomi UniverÂsitas Gajah Mada (UGM) MuÂdrajat Kuncoro mengatakan, suÂdah waktunya bagi pemerintah melakukan pemerataan dalam pemÂbangunan daerah. Selama ini, menurut data yang terhimpun, justru wilayah kaya sumber kekayaan alam yang tingkat keÂmiskinannya paling tinggi.
“Seperti di Papua, dari 20 daeÂrah yang ada, daerah yang misÂkin berjumlah 19 daerah,†kata Mudrajat.
Padahal, tingkat kemiskinan sempat menurun dari 16,66 perÂsen di awal kepemimpinan PreÂsiden SBY (2004), menjadi 14,15 persen di akhir pemerinÂtahan Kabinet Indonesia Bersatu I (2009). Penurunan itu bahkan terus meningkat menjadi sekitar 12,49 persen pada Maret 2011.
“Namun, tetap saja ada penÂduduk miskin yang jumlahnya 30,02 juta orang hingga Maret 2011. Jumlah kaum duafa yang belum merdeka dari jerat kemisÂkinan di perdesaan masih 18,97 juta orang (15,72 persen dari jumlah penduduk Indonesia), sedangkan penduduk miskin di perkotaan tercatat sebanyak 11,05 juta orang (9,23 persen),†beber Mudrajat. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08