ilustrasi, Pasar Tradisional
ilustrasi, Pasar Tradisional
RMOL.Pemerintah mengklaim akan menjamin keberadaan pasar traÂdisional. Keberadaan pasar ritel modern pun dinilai tidak akan meÂmatikan pasar tradisional.
Wakil Ketua Komite Tetap KaÂmar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Satria Hamid Ahmadi mengatakan, keberadaÂan pasar tradisional harus diduÂkung berÂsama agar maju.
“Saya setuju pasar tradisional harus maju. Tapi saya tidak mau bergerak secara politis. Artinya ketika ada mobil pejabat, barulah pasar ramai,†ujar Satria saat disÂkusi tentang Pasar Tradisional di KeÂmenterian Perdagangan, JaÂkarta, kemarin.
Ia mengatakan, dalam mendoÂrong pasar tradisional maju, yang penting tidak hanya pemÂbanguÂnan fisik saja. Tapi yang lebih penting adalah meÂningÂkatkan poÂsisi tawar pasar tradiÂsional. “Jadi, kepala pasar harus tahu kebutuÂhan konsumen dan produk apa saja yang dipasarÂkan,†kata Satria.
Menurutnya, perlu ada konsep yang jelas soal pengelolaan paÂsar tradisional sehingga konsuÂmen ingin datang. Misalnya, tata ruang harus bagus, tidak mengÂgaÂbungkan pedagang emas deÂngan ayam dalam satu lokasi.
Satria yang juga Wakil Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel IndoÂnesia (Aprindo) itu menilai, berÂkemÂbangnya ritel modern saat ini tiÂdak akan mematikan usaha paÂsar tradisional. Pasalnya, keÂdua jenis pasar ini memiliki segÂmenÂtasi pasar yang berbeda.
“Kalau dibilang mematikan saÂya paling tidak sepaham. Justru yang kita lihat minimarket ini konsepnya kan bisa bermitra deÂngan orang-orang di wilayah itu. Sevel (7-Eleven), Indomaret, Alfamart, itu pesaingnya yang (pasar) modern, bukan pasar traÂdisioÂnal. Punya segmentasi yang berÂbeda,†jelasnya.
Direktur Jenderal PerdagangÂan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) GuÂnarÂyo mengatakan, terkait peÂngaturÂan pasar, tugas pemeÂrintah ada dua. PerÂtama, meneÂtapÂkan kebiÂjaÂkÂan. Dalam hal daÂlam Perpres Nomor 111 sudah jeÂlas posisi pemerinÂtah. Misalnya, sebuah miÂnimarket harus dimiÂliki penÂguÂsaha setempat, bukan dari luar daeÂrahnya. Begitu juÂga, hal itu diaÂmanatkan diatur dalam peraÂturan daerah sesuai dengan konÂdisi setempat.
“Soal jarak miÂnimarket deÂngan pasar tradisional, tiap daeÂrah akan berbeda. Itu akan diÂlihat kondisi sosial ekonomi seÂtempat,†jelas Gunaryo.
Kedua, kata Gunaryo, pemeÂrinÂÂtah juga memfasilitasi pembaÂngunan pasar percontohan. DaÂlam hal ini, pemerintah hanya membuat pasar percontohan unÂtuk beberapa daerah yang diÂrasa kurang memiliki kemamÂpuan finansial.
Berdasarkan survei KemenÂdag, ditemukan bahwa 95 persen bangunan fisik pasar tradisional berumur lebih 25 tahun, 1 persen berumur antaÂra 10 sampai 20 taÂhun, 3 persen di bawah 10 tahun.
Hasil survei juga menyebutÂkan, kondisi fisik paÂsar di atas 10 tahun ditemuÂkan tidak meÂmaÂdai. Tata kelolanya belum optiÂmal. Masih ada pasar belum meÂmiliki pembukuan keuangan, daÂna pemeliharaan pasar miÂnim, gang pasar sempit dan seÂsak. Jalan di depan pasar macet dan dipenuhi pedagangan pasar. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08