ilustrasi, gula
ilustrasi, gula
RMOL.Kementerian Perindustrian (Kemenperin) belum akan memÂbuka kran impor gula tambahan untuk industri tahun ini karena stoknya masih aman.
Dirjen Industri Agro KemenÂperin Benny Wahyudi meÂngaÂtaÂkan, saat ini pasokan gula untuk inÂdustri masih tergolong cukup dan aman. Karena itu, pihaknya beÂlum berenÂcana menambah pasokan.
“Belum ada penambahan imÂpor gula untuk industri. Belum ada keluhan juga dari para peÂngusaha (makanan dan miÂnuÂman),†ujar Benny di kantornya, kemarin.
Dia mengatakan, penghentian imÂpor gula mentah (raw sugar) oleh Kementerian Perdagangan tidak memberikan dampak pada industri makanan dan minumÂan. Pasalnya, sektor industri mengÂguÂnakan gula rafinasi.
Menurut Benny, pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) pada kuartal I-2012 mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Kuartal pertama tahun ini perÂtumbuhan makanan dan miÂÂnuÂman hanya 3 persen, turun 1 perÂsen dari kuartal pertama 2011. PeÂnurunan tersebut diakiÂbatÂkan sikÂlus tahunan dan daya beÂli masyaÂrakat yang sedikit,†jelas Benny.
Benny mengatakan, pertumÂbuÂhan industri mamin kuartal II dan III 2012 akan mengalami perÂtumbuhan. Untuk kuartal II, perÂtumÂbuÂhannya diperÂkirakan naik 2-4 perÂsen seiring tinggiÂnya perÂminÂtaan Lebaran.
Karena itu, pihaknya optimis jika pertumbuhan industri maÂkaÂnan dan minuman tahun ini temÂbus 7,5 persen hingga 8 perÂsen. PerÂtumbuhan itu didukung deÂngan penambahan investasi dan jumlah penduduk.
Kendati begitu, Benny meÂngaÂÂku kenaikan harga gas inÂdustri sebesar 50 persen akan berÂdamÂpak bagi industri maÂkanan dan minuman, meski tiÂdak seÂmuanya kena dampak.
Ditanya mengenai impor maÂkanan dan minuman, menurut Benny, impor komoditi itu saat ini hanya sekitar 15 persen. Impor itu juga untuk jenis produk maÂkanan dan minuman yang belum diproduksi di dalam negeri kaÂrena peminatnya masih rendah.
“Pada dasarnya semua (inÂdustri makanan dan minuman) mamÂpu memasok tapi kalaupun terÂjadi ekspor mungkin karena seÂlera atau ada kerja sama dari peÂrusahaan,†katanya.
Namun, jika produk itu sudah baÂnyak yang mengkonsumsi, maka perusahaan-perusahaan itupun akan langsung berÂinvesÂtasi untuk bisa memenuhi keÂbutuhan dalam negeri.
Untuk nilai ekspor mamin, kaÂta dia, saat ini makÂsimum 20 perÂsen. Tapi pada umumnya produk itu masih diÂprioritaskan untuk keÂbutuhan dalam negeri bukan seÂmata-mata untuk andalan ekspor. Namun , jika ada keÂsemÂpatan unÂtuk ekspor, pihaknya akan menÂdorong itu.
Sebelumnya, Sekjen Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmi) Franky SiÂbarani menilai, pemerintah kuÂrang serius mengantisipasi serÂbuan impor mamin.
“Sekarang pemerintah hanya fokus pada pembuatan regulasi, seÂmentara pengawasan impor maÂkanan dan minuman masih kurang,†katanya.
Franky mengatakan, sepanÂjang 2011 impor mamin tercatat 238,28 juta dolar AS atau naik 10,29 persen dibanding 2010 yakni 216,05 juta dolar AS.
Menurut Franky, serbuan impor mamin masih baÂnyak berÂasal dari negara-negara ASEAN, seperti dari MaÂlaysia. Tingginya impor secara tiÂdak langsung berÂdampak pada penÂjualan komoÂditi terseÂbut. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08