Bank Indonesia (BI)
Bank Indonesia (BI)
RMOL. Perbedaan angka sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), membuat masyarakat bingung. Untuk itu, Lapangan Banteng dan Thamrin diminta kompak serta satu suara dalam menentukan target inflasi.
“Lapangan Banteng (KemenÂterian Keuangan yang berkantor di kawasan Lapangan Banteng-red) dan Thamrin (kantor BI di Jalan Thamrin-red) kan bukan musuh. Jadi sebenarnya mereka bisa berbicara baik-baik. KunciÂnya adalah bagaimana BI dan Kementerian Keuangan menjalin komunikasi yang baik dan inÂtens,†ujar bekas Deputi GuberÂnur Bank Sentral Australia atau The Reserve Bank of Australia (RBA) Stephen Grenville.
Grenville mengatakan hal itu dalam diskusi bertema Inflation Targeting Framework (ITF) atau Kerangka Kerja Sasaran Inflasi yang digelar BI di Yogyakarta, Minggu (20/5). Hadir pada keÂsemÂpatan itu Direktur Eksekutif Riset dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo serta Juru Bicara BI Difi Ahmad Johansyah.
Grenville bersama David LongÂworth, bekas Deputi GuberÂnur Bank Sentral Kanada (Bank of Canada) diundang BI untuk memberikan evaluasi mengenai kebijakan moneter yang dilakuÂkan Bank Sentral, terutama meÂngeÂnai penerapan ITF yang suÂdah berjalan sejak Juli 2005.
Sebagai informasi, terjadi perÂbedaan angka sasaran inflasi taÂhun 2012 yang ditetapkan BI dan Kemenkeu. Target yang diÂpatok BI adalah 4,5 persen, seÂdangkan asumsi inflasi yang ditetapkan Kemenkeu dalam APBN PerubaÂhan tahun 2012 adalah 6,8 persen. Nah, perbedaan angka itulah yang dianggap Grenville bisa memÂbingungkan masyarakat.
Menanggapi hal itu, Perry menÂÂjelaskan, pihak BI dan KeÂmenÂkeu serta lembaga terkait lainÂnya, suÂdah menjalin komuniÂkasi serta koordinasi yang intens mulai dari level teknis hingga peÂjabat tingÂginya untuk membaÂhas soal asumÂsi makro APBN, inflasi, suku bunga dan pertumÂbuhan ekonomi.
“Namun setelah masalah ini dibawa ke DPR, hasilnya lain laÂgi. Sebab, DPR menginginkan inÂflasi dan suku bunga rendah, tapi minta pertumbuhan ekonomi tinggi seÂhingga hasilnya akan beda deÂngan hitungan BI,†jelas Perry.
Perry menerangkan, terjadi barÂgaining politic antara pemeÂrintah dan DPR saat membahas APBN, termasuk tentang target inflasi. Makanya, jangan heÂran kaÂlau angka target inflasi yang sudah dihitung BI berubah total.
“Menurut hitungan BI, kalau harga BBM jadi naik Rp 1.500, maka akan ada tambahan inflasi 1,2 persen. Tapi kan buktinya harga BBM tidak naik, makanya menurut hitungan kami inflasi ada di kisaran 4,5 persen. Tapi maÂsalahÂnya Pemerintah dan DPR tidak mengganti angka 6,8 persen itu padahal harga BBM tidak jadi naik,†terang Perry.
Grenville yang juga peneliti Lowy Institute, lembaga think tank asal Australia itu menyaÂtaÂkan setuju jika harga BBM diÂnaikkan karena kebijakan terseÂbut sangat baik untuk negara InÂdoÂnesia. Apalagi, subsidi BBM dinilainya selama ini salah sasarÂan karena banyak dinikmati oleh orang kaya, bukan wong cilik.
“Nah, saat masyarakat shock karena terjadi kenaikan inflasi akiÂbat kenaikan harga BBM, maka menjadi tugas BI untuk menyaÂkinÂkan kepada masyarakat bahwa kenaikan inflasi itu sifatÂnya hanya sementara. Dan BI haÂrus berjanji bahwa mereka akan membuat kebijkan yang bakal menurunkan inflasi tersebut ke level yang leÂbih rendah,†ujar Grenville.
Harus Konsisten
Grenville juga menekankan bahÂwa penetapan sasaran inflasi di Indonesia harus dijalankan seÂcara konsisten dan bertanggung jawab karena pengelolaan kebijaÂkan moneter membutuhkan keÂpercayaan dari masyarakat. MeÂnuÂrutnya, BI perlu menetapkan ITF secara fleksibel sesuai deÂngan perkembangan perekonoÂmian yang terjadi.
“Namun sasaran inflasi yang telah ditetapkan tidak boleh diÂubah-ubah dan harus konsisten serta bertanggung jawab untuk mencapainya. ITF membutuhÂkan kredibilitas. Sebab, jika pubÂlik sudah percaya pada BI, maka itu akan membantu BI menuÂrunkan inflasi,†katanya.
Dia mengatakan, BI harus meÂnetapkan sasaran inflasi untuk jangka menengah panjang tiga sampai lima tahun ke depan, seperti menetapkan angka inflasi 4,5 persen hingga 2014 dan keÂmudian semakin rendah menuju 4 persen mulai 2014-2019.
“KonÂsisten dengan sasaran inÂflasi ini juga penting untuk meÂmastiÂkan trend penurunan inflasi jangka panjang bisa tercapai,†urai Grenville.
Hal lain yang penting dilakuÂkan BI, kata Grenville, adalah mengÂkomunikasikan sasaran inflasi dan kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapainya sehingga masÂyarakat menjadi baÂgian dari upaya penurunan inflasi tersebut.
“Komunikasi ke masyarakat melalui media massa menjadi penting untuk menjaga inflasi. Setiap terjadi tekanan inflasi, BI harus menyampaikan ke maÂsyaÂrakat akan menjalankan kebiÂjaÂkannya untuk kembali menuÂrunÂkan inflasi,†saran Grenville.
Dia menyatakan, dalam kasus kenaikan harga BBM, tidak ada yang bisa dilakukan BI selain menyampaikan ke masyarakat bahwa tekanan inflasi yang munÂcul hanya bersifat sementara dan BI akan mengambil langkah-langÂkah untuk kembali menurunÂkan inflasi. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08