Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
RMOL. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, terÂlalu banyak Peraturan Menteri (PerÂmen) yang justru bertentaÂngan dan menyulitkan dunia usaha. Hal itu dinilai membuat peraturan saling tumpang tinÂdih dan tidak memberikan soÂlusi untuk meÂningkatkan perÂtumÂbuhan ekoÂnomi nasional.
Wakil Ketua Umum Kadin IndoÂnesia Bidang PerdagaÂngan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur mengatakan, dalam rangka efisiensi ekoÂnoÂmi nasioÂnal dan memasuki ASEAN EcoÂnomic CommuÂnity (AEC) 2015, pergerakan pertumbuhan ekoÂnomi nasioÂnal saat ini dinilai maÂsih mengalami kelambatan.
Menurutnya, terdapat berbaÂgai faktor yang mempengaruÂhinya seperti biaya produksi tinggi, biaya logistik tinggi, daya saing lemah, masalah biroÂkrasi yang berbelit, hingga suku buÂnga yang tinggi.
“Sudah hampir 10 tahun terÂakhir tidak mengalami perubaÂhan yang signifikan. Keluhan dunia usaha masih sama dari tahun ke tahun, peÂnyeÂlesainnya lamÂbat, sehingga berÂdampak keÂpada ekoÂnomi nasional,†curhat Natsir di JaÂkarta, kemarin.
Adapun permasalahan yang belakangan kerap memÂbuat perÂtumbuhan ekonoÂmi naÂsional meÂlambat, katanya, adalah faktor egoisÂme kementerian daÂlam meÂnerbitkan berbagai Peraturan MenÂteri (PerÂmen) yang menyuÂlitkan dunia usaha.
“Banyaknya Permen yang diÂkeÂluarkan pemerintah semaÂkin meÂnambah persoalan baru keÂlamÂÂbaÂtan pertumbuhan ekoÂnomi naÂsional,†tuturnya.
Para pelaku usaha menyaÂyangÂkan, berbagai Permen yang diÂkeÂluarkan pemerintah diberÂlakukan tanpa dibicaraÂkan deÂngan dunia usaha. BahÂkan, KaÂdin yang meÂmang jelas diatur oleh UnÂdang-UnÂdang Nomor 1 Tahun 1987 sebagai mitra kerja peÂmeÂrinÂtah, jarang diajak bicara dalam menerbitkan suatu keÂbijakan.
“Terkadang peÂmerintah memÂbuat kebijakan sendiri, sehingga pada saat keÂbijakan tersebut keÂluar menimÂbulkan protes dari duÂÂnia usaha. Itu perlu mendapat perÂhatian peÂmerintahan,†usulnya.
Kadin berharap, keÂmenterian tidak berlebihan meÂnerÂbitkan PeÂrmen yang tiÂdak begitu penÂting, sehingga tidak menambah beban permaÂsÂalahan baru bagi dunia usaha.
“Jangan sampai Permen lebih cepat atau lebih banyak dibanÂding pertumÂbuhan perdaÂgaÂngan dan industri kita saat ini. Nanti keÂbanyakan Permen, ekoÂnomi naÂsional bisa batuk-batuk,†sinÂdir Natsir.
Seperti diketahui, banyak peÂraturan yang dikeluarkan peÂmeÂrintah menuai protes dari kaÂlaÂngan dunia usaha. BebeÂrapa PerÂmen pada awal tahun ini semÂpat menjadi polemik seÂbelum efektif diberlakukan.
Misalnya saja, Peraturan MenÂteri EnerÂgi dan Sumber Daya MiÂneral (Permen ESDM) NoÂmor 7 Tahun 2012 Tentang PeÂningÂÂkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan PemurÂnian Mineral. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08