Berita

ilustrasi, Elpiji 3 kilogram (kg)

Bisnis

Gas ‘Melon’ Disalurkan Secara Tertutup, Pengoplos Menjerit

Terjadi Kelangkaan Elpiji 3 Kg di Jawa Barat
SENIN, 21 MEI 2012 | 08:09 WIB

RMOL.Elpiji 3 kilogram (kg) mulai sulit ditemukan di sejumlah daerah, khususnya Jawa Barat. Pertamina mengaku ada spekulan yang bermain.

Vice President Corporate Com­mu­nication Pertamina M Harun mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan perbaikan distribusi penyaluran elpiji 3 kilogram atau yang biasa disebut ‘Tabung Melon’’dan menghitung kembali kebutuhan setiap daerah.

Pertamina juga mulai mela­kukan distribusi tertutup untuk elpiji 3 kilogram dari sebelumnya yang bersifat terbuka. Penerapan distribusi tertutup ini untuk menekan kegiatan pengoplosan.

“Kita tahu distribusi terbuka memudahkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab meng­oplos elpiji 3 kilogram ke elpiji 12 kilogram. Padahal elpiji 3 kilo­gram harganya disubsidi pe­merintah,” urainya kepada Rakyat Merdeka.

Menurut dia, dengan kebijakan ini memang banyak pangkalan yang nakal teriak karena tidak bisa lagi melakukan peng­oplo­san. Pasalnya, setiap pangkalan harus mengambil hanya dari satu agen. Sebelumnya, para peng­oplos dengan mudah bisa me­ng­ambil dari mana saja.

Namun, kata Harun, meski banyak pangkalan yang teriak kekurangan, pihaknya tetap akan melakukan kebijakan ini untuk melindungi konsumen. “Kita tahu yang teriak itu karena me­rasa dirugikan dengan sistem distribusi tertutup,” jelasnya.

Harun mengaku, pengaturan distribusi elpiji 3 kilogram tidak hanya dilakukan di Jawa Barat saja, tapi di seluruh daerah. Untuk tahap transisi memang akan ada dampak, tapi itu hanya akan berlangsung satu bulan. Setelah itu akan seperti biasa lagi.

Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomo­hadi tidak mempermasalahkan pasokan elpiji 3 kilogram. Me­nurutnya, setiap daerah jumlah kuotanya sudah ditetapkan karena itu barang subsidi.

“Sampai saat ini belum ada keluhan atau laporan diku­rangi­nya pasokan,” katanya.

Dia juga mengatakan, pasokan dari agen ke pangkalan tetap sama, tidak ada pengurangan. Menurutnya, jika terjadi kelang­kaan di daerah kemungkinan ka­rena permainan spekulan.

Eri juga tidak menutup mata masih ada oknum pangkalan yang melakukan penyimpangan pen­jualan elpiji 3 kilogram. De­ngan sistem tertutup, pengawasan penjualan bisa diawasi dan penyimpangan bisa ditekan.

Kebijakan distribusi tertutup ini, lanjut Eri, sudah dilakukan di beberapa daerah, misalnya Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Terkait harga elpiji 3 kilogram yang di atas harga rata-rata, me­nurutnya, itu disebabkan harga eceran tertinggi (HET) masing-masing daerah berbeda.

Eri mengatakan, harga dari agen ke pangkalan untuk wilayah Jabodetabek ditetapkan Rp 12.750 per tabung. Sedangkan harga dari pangkalan ke konsu­men dise­suaikan dengan jarak dan daerah. Karena itu, tidak aneh jika di beberapa daerah harganya diki­saran Rp 13-15 ribu per tabung. Namun, jika di wilayah Jabo­detabek harganya mencapai Rp 15 ribu, kata Eri, itu kemahalan.

Bekas Ketua Panja Konversi Minyak Tanah ke Elpiji 3 kilogram DPR Zainudin Amali berjanji akan menindaklanjuti keluhan lang­kanya elpiji 3 kilogram di beberapa daerah.

Untuk diketahui, beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Purwakarta, Karawang, Subang dan Bandung mengalami kelang­kaan elpiji 3 kilogram. Sekalipun ada, harganya bisa mencapai Rp 15 ribu per tabung. Hal yang sa­ma juga terjadi untuk daerah Kalimantan.

Kementerian Energi dan Sum­ber Daya Mineral (ESDM) tahun ini menargetkan konversi minyak tanah ke elpiji 3 kilogram di lima provinsi yaitu Sumatera Barat, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

Menanggapi soal kemelut gas melon ini, Dirjen Migas Evita H Legowo mengatakan, pemerintah akan mendistribusikan paket perdana elpiji 3 kilogram sebesar 800.000 paket dan isi ulang elpiji 3 kilogram sebesar 3,61 juta me­trik ton sesuai kesepakatan dengan Komisi VII DPR. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya