Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Pengawasan Ilegal Fishing di Papua Masih Lemah

Potensi Kerugian Negara Rp 2 Triliun
SENIN, 21 MEI 2012 | 08:01 WIB

RMOL.Pemerintah masih terlalu le­mah melakukan pengawasan di wi­layah kelautan. Pasalnya, ma­sih banyak pelaku ilegal fishing baik kapal berbendera asing maupun berbendera Indonesia yang menyusup dan menjual hasil tangkapannya kepada kapal asing.

Direktur Eksekutif Conser­vation International Indonesia (CII) Ketut Sarjana Putra me­ngatakan, lemahnya pengawasan pemerintah merupakan ke­untungan bagi pelaku ilegal fi­shing di perairan Indonesia.

“Penangkapan ikan secara ilegal di kawasan konservasi Hiu Raja Ampat, Papua Barat m­e­rupakan kejadian yang sangat ka­mi sesalkan. Tindakan ilegal para nelayan itu dapat merusak proses peremajaan hiu di kawasan konservasi perairan Raja Ampat. Hal ini jelas merugikan masya­rakat lokal karena mengurangi ketersediaan ikan hiu yang bernilai ekonomi tinggi bagi me­reka,” kata Ketut.

Ketut menyayangkan lolosnya 33 nelayan yang menangkap Hiu secara ilegal di kawasan kon­ser­vasi Hiu di Raja Ampat. Me­mang, para nelayan tersebut sem­pat ditahan gabungan patroli ga­bungan masyarakat adat di kam­pung Salyo dan Selpele serta Pos Angkatan Laut Waisaipada Senin (30/4) di perairan Raja Ampat. Tim patroli bahkan telah menyita barang bukti sirip hiu, bangkai ikan hiu, pari manta dan teripang yang diper­kirakan bernilai Rp 1,5 miliar.

“Semua hasil tangkapan nela­yan dan dokumen kapal disita dan nelayan diperintahkan untuk mengikuti kapal patroli ke Pelabuhan Waisai. Sayangnya, mereka berhasil melarikan diri dan kini masih dalam penge­jaran,” jelasnya.

Partnership CII yang tergabung dalam Program Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Pieter Wamea menambahkan, khusus di wilayah Papua dan sekitarnya, potensi kerugian negara di paruh semester pertama tahun ini mencapai Rp 2 triliun. Besarnya kerugian ini tak lepas dari lemah dan kurangnya anggaran dalam melaksanakan pengawasan di perairan Indonesia terutama di Papua.

“Selama ini Papua masih menjadi surga para pelaku illegal fishing. Bagaimana tidak, pe­ngawasan serta anggaran kita le­mah untuk pengawasan perairan kita. Pemerintah harusnya dapat bertindak cepat,” kata Pieter saat dihubungi melalui ponselnya.

Pieter mengatakan, wilayah yang rawan terhadap pencurian ikan maupun udang di perairan Papua adalah Sorong, Fakfak, Kaimana dan kawasan Merauke.

Sementara Menteri Kelautan dan Per­ikanan Sharif Cicip Sutardjo mengklaim, sampai pertengahan 2012, peme­rintah berhasil menetapkan kawasan konservasi laut seluas 15,35 juta hektar atau 76,75 persen dari target 20 juta hektar pada 2020.

“Upaya yang dilakukan KKP melalui Program Kawasan Konservasi laut (MPA) bertujuan melindungi keanekaragaman hayati serta menjaga kelestarian sumber daya ikan agar dapat menopang kepentingan ekonomi masyarakat khususnya para nelayan,” ujar Cicip.

Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Syahrin Abdu­rah­man menyatakan, dengan ang­garan Rp 100 miliar per tahun­nya, tidak cukup melakukan pe­ngawasan sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia.

“Jika anggaran saat ini hanya Rp 100 miliar hanya cukup untuk 180 hari saja,” jelasnya. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya