Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Awas, Buah Impor Bakal Makin Langka dan Mahal

Toko Buah Segar di Jabodetabek Segera Gulung Tikar
MINGGU, 20 MEI 2012 | 08:27 WIB

RMOL.Mulai Juni tahun ini buah impor diramal akan menjadi mahal dan langka. Hal itu dikarenakan peraturan tentang izin impor produk hortikultura yang akan segera diterapkan pemerintah per 19 Juni 2012.

Ya, mulai 19 Juni mendatang, pe­me­rintah akan menutup pela­buhan Tanjung Priok sebagai pintu masuk impor produk horti­kultura. Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permen) Nomor 88, 89 dan 90 Tahun 2011 yang mengatur pintu masuk produk hortikultura hanya boleh dari Pelabuhan Belawan Medan, Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Tanjung Perak Sura­baya atau Bandara Soekarno Hatta Jakarta.

Ketua Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayur Segar Indonesia (Assibisindo) Kafi Kurnia mengatakan, harga buah impor diperkirakan naik 5-10 persen, atau secara nominal di kisaran Rp 5 ribu per kilogram (kg) untuk buah impor.

Artinya, buah dari luar negeri harganya tak akan ada lagi yang di bawah Rp 25 ribu per kg. Pada­­hal selama ini untuk buah asal China bisa dibeli di kisaran harga Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per kg. “Peraturan tersebut akan mengakibatkan harga buah impor per 19 Juni naik berkisar Rp 5 ribu per kilogram. Pasalnya ongkos angkut buah impor cu­kup mahal, per kontainer sekali jalan Rp 10 juta,” ujarnya.

Menurut Kafi, untuk enam bu­lan pertama pasca diberlakukan aturan baru tersebut, diprediksi pasokan buah impor akan turun drastis mencapai 60 persen.

“Pasti akan turun. Dari yang awal­­nya enak-enak dagang di Jakarta, 19 Juni tidak boleh jua­lan, mereka harus buka cabang, baik di Surabaya, Makassar dan Medan. Jadi perlu investasi gu­dang baru Rp 10 miliar per gu­dang, kira-kira total investasi di satu pelabuhan saja untuk pe­nga­daan gudang baru, kami me­ro­goh sekitar Rp 300 miliar. Kon­disi inilah yang bisa mem­buat harga buah impor naik,” beber­nya. Na­mun, minimal seta­hun setelah itu pasokan dan harga akan beru­bah, jumlah buah im­por bukan­nya tu­run, malah akan naik berlipat-lipat.

“Apalagi kalau sedang banjir buah impor? Pengusaha akan obral itu buah. Yang jadi masalah, Surabaya kan penghasil 30 persen buah lokal? Kalau mereka diban­jiri buah impor, ya tebak saja sen­diri. Apalagi di Medan banyak petani bupasti berdam­pak besar,” cetusnya memperi­ngatkan.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Gabungan Importir Hasil Bumi Indonesia (Gisimindo) Bob Budiman. Menurutnya, dampak aturan itu membuat impor produk hortikultura seperti buah-buahan menyusut drastis.

Ia mengatakan, saat ini akti­vitas importasi hortikultura di Tan­jung Priok masih seperti biasa. Namun dalam pekan ini, katanya, produk hortikultura dari Amerika Serikat dan Amerika Latin yang diprediksi sampai ke Indonesia akan di­henti­kan pengi­rimannya pada Juni nanti.

“Sebagian buah Amerika se­perti apel dan anggur sudah tidak bisa lagi didatangkan. Butuh waktu perjalanan satu bulan dari Amerika ke Indone­sia,” ujar Bob.

Dengan mulai dialihkannya pasokan produk tersebut, impor­tir akan kesulitan mendatangkan produk karena membengkaknya biaya produksi. Jika produk di­alihkan dari Jakarta ke Surabaya, maka akan ada biaya transportasi tambahan yang harus dikeluar­kan pengusaha sekitar Rp 40 juta per kontainer. Kebijakan peng­urang­an impor ini diprediksi juga akan membuat  toko pusat buah segar di Jakarta segera gulung tikar. Karena sebagian besar, mereka menjual buah impor.

Menurut Bob, pengusaha akan semakin sulit karena suplai dari China juga mulai berhenti. Padahal, sebanyak 80 persen dari jumlah produk hortikultura impor berasal dari Negeri Tirai Bambu.

Selain menetapkan empat pintu masuk buah impor, pemerintah juga melarang pengusaha ritel mengimpor langsung. Pelaku impor hortikultura hanya dibatasi bagi importir produsen (IP) dan importir terdaftar (IT). Khusus IT, importasi produk hortikultura mesti dilakukan dengan mem­beri­kan bukti kerja sama dengan tiga distributor dan dijual lang­sung, sehingga, perusahaan ritel seperti supermarket tidak bisa melakukan importasi produk horti­kultura.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, impor produk hortikultura dalam lima tahun belakangan melonjak yang cukup signifikan. Tahun 2011, impor produk hortikultura Indonesia mencapai 1,7 miliar dolar AS (Rp 15,3 triliun), padahal tahun 2006 nilainya hanya 600 juta dolar AS (Rp 5,4 triliun).

Sementara berdasarkan asal negaranya, produk hortikultura yang paling banyak diimpor berasal dari China sebanyak 55 persen, disusul Thailand, Ame­rika, Chili dan Australia. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya