ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Mulai Juni tahun ini buah impor diramal akan menjadi mahal dan langka. Hal itu dikarenakan peraturan tentang izin impor produk hortikultura yang akan segera diterapkan pemerintah per 19 Juni 2012.
Ya, mulai 19 Juni mendatang, peÂmeÂrintah akan menutup pelaÂbuhan Tanjung Priok sebagai pintu masuk impor produk hortiÂkultura. Aturan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permen) Nomor 88, 89 dan 90 Tahun 2011 yang mengatur pintu masuk produk hortikultura hanya boleh dari Pelabuhan Belawan Medan, Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Tanjung Perak SuraÂbaya atau Bandara Soekarno Hatta Jakarta.
Ketua Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayur Segar Indonesia (Assibisindo) Kafi Kurnia mengatakan, harga buah impor diperkirakan naik 5-10 persen, atau secara nominal di kisaran Rp 5 ribu per kilogram (kg) untuk buah impor.
Artinya, buah dari luar negeri harganya tak akan ada lagi yang di bawah Rp 25 ribu per kg. PadaÂÂhal selama ini untuk buah asal China bisa dibeli di kisaran harga Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per kg. “Peraturan tersebut akan mengakibatkan harga buah impor per 19 Juni naik berkisar Rp 5 ribu per kilogram. Pasalnya ongkos angkut buah impor cuÂkup mahal, per kontainer sekali jalan Rp 10 juta,†ujarnya.
Menurut Kafi, untuk enam buÂlan pertama pasca diberlakukan aturan baru tersebut, diprediksi pasokan buah impor akan turun drastis mencapai 60 persen.
“Pasti akan turun. Dari yang awalÂÂnya enak-enak dagang di Jakarta, 19 Juni tidak boleh juaÂlan, mereka harus buka cabang, baik di Surabaya, Makassar dan Medan. Jadi perlu investasi guÂdang baru Rp 10 miliar per guÂdang, kira-kira total investasi di satu pelabuhan saja untuk peÂngaÂdaan gudang baru, kami meÂroÂgoh sekitar Rp 300 miliar. KonÂdisi inilah yang bisa memÂbuat harga buah impor naik,†beberÂnya. NaÂmun, minimal setaÂhun setelah itu pasokan dan harga akan beruÂbah, jumlah buah imÂpor bukanÂnya tuÂrun, malah akan naik berlipat-lipat.
“Apalagi kalau sedang banjir buah impor? Pengusaha akan obral itu buah. Yang jadi masalah, Surabaya kan penghasil 30 persen buah lokal? Kalau mereka dibanÂjiri buah impor, ya tebak saja senÂdiri. Apalagi di Medan banyak petani bupasti berdamÂpak besar,†cetusnya memperiÂngatkan.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Gabungan Importir Hasil Bumi Indonesia (Gisimindo) Bob Budiman. Menurutnya, dampak aturan itu membuat impor produk hortikultura seperti buah-buahan menyusut drastis.
Ia mengatakan, saat ini aktiÂvitas importasi hortikultura di TanÂjung Priok masih seperti biasa. Namun dalam pekan ini, katanya, produk hortikultura dari Amerika Serikat dan Amerika Latin yang diprediksi sampai ke Indonesia akan diÂhentiÂkan pengiÂrimannya pada Juni nanti.
“Sebagian buah Amerika seÂperti apel dan anggur sudah tidak bisa lagi didatangkan. Butuh waktu perjalanan satu bulan dari Amerika ke IndoneÂsia,†ujar Bob.
Dengan mulai dialihkannya pasokan produk tersebut, imporÂtir akan kesulitan mendatangkan produk karena membengkaknya biaya produksi. Jika produk diÂalihkan dari Jakarta ke Surabaya, maka akan ada biaya transportasi tambahan yang harus dikeluarÂkan pengusaha sekitar Rp 40 juta per kontainer. Kebijakan pengÂurangÂan impor ini diprediksi juga akan membuat toko pusat buah segar di Jakarta segera gulung tikar. Karena sebagian besar, mereka menjual buah impor.
Menurut Bob, pengusaha akan semakin sulit karena suplai dari China juga mulai berhenti. Padahal, sebanyak 80 persen dari jumlah produk hortikultura impor berasal dari Negeri Tirai Bambu.
Selain menetapkan empat pintu masuk buah impor, pemerintah juga melarang pengusaha ritel mengimpor langsung. Pelaku impor hortikultura hanya dibatasi bagi importir produsen (IP) dan importir terdaftar (IT). Khusus IT, importasi produk hortikultura mesti dilakukan dengan memÂberiÂkan bukti kerja sama dengan tiga distributor dan dijual langÂsung, sehingga, perusahaan ritel seperti supermarket tidak bisa melakukan importasi produk hortiÂkultura.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, impor produk hortikultura dalam lima tahun belakangan melonjak yang cukup signifikan. Tahun 2011, impor produk hortikultura Indonesia mencapai 1,7 miliar dolar AS (Rp 15,3 triliun), padahal tahun 2006 nilainya hanya 600 juta dolar AS (Rp 5,4 triliun).
Sementara berdasarkan asal negaranya, produk hortikultura yang paling banyak diimpor berasal dari China sebanyak 55 persen, disusul Thailand, AmeÂrika, Chili dan Australia. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08