Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Ngurus Kedelai Impor Aja Kemendag Angkat Tangan

Pengrajin Tempe Mulai Keluhkan Pasokan Bahan Baku
SABTU, 19 MEI 2012 | 08:18 WIB

RMOL.Pengrajin tempe dihadapkan dengan permasalahan harga kacang kedelai yang melambung tinggi. Pengrajin tempe pun terancam gulung tikar.

Semula harga satu kuintal kacang kedelai impor dengan kualitas ter­baik berkisar antara Rp 600 ribu hingga Rp 650 ribu. Tetapi da­lam beberapa minggu terakhir, harga­nya nyaris tembus Rp 700 ribu per kuintal. Hal tersebut sa­ngat mem­beratkan kalangan peng­rajin tempe, sehingga mereka harus me­mutar otak agar usahanya terus berjalan dan tidak merugi.

Salah satu pengrajin tempe, Suharjo, mengeluhkan tingginya harga bahan baku yang selama ini digunakan. Menurutnya, dengan semakin tingginya harga tersebut, maka harus ada pengeluaran ekstra yang harus ditempuh, se­dang­kan penjualan tempenya tidak meningkat. Dalam satu hari, dia memproduksi kacang sekitar 60 kilogram (kg).

“Sekarang da­gang lagi tidak terlalu ramai. Ditambah dengan harga kedelai yang melambung tinggi. Sedang­kan harga jual kami tetap, tidak ikut naik. Ini jelas memberatkan kami sebagai pengrajin tempe, keuntungan semakin tipis,” ucap­nya saat ditemui Rakyat Merdeka di Pondok Aren, Tangerang Selatan, kemarin.

Dia meminta pemerintah mem­perhatikan keberlangsungan pro­duksi para pengrajin tempe. Selain itu, pemerintah diharapkan mampu mengontrol harga kacang kedelai di pasaran, khususnya kedelai impor yang menjadi ba­han baku utama.

“Saya harap pemerintah bisa menurunkan harga kedelai. Biar para pengrajin bisa memproduksi seperti semula. Kalau sekarang terpaksa ukuran tempe sedikit mengecil, supaya kami tidak merugi,” tuturnya.

Pendapat senada diung­kap­kan pengrajin tempe lainnya, Rudi di Bintaro, Jakarta Sela­tan. Ia ber­sama sesama pengra­jin masih te­rus membuat tempe meski harga beli ba­han baku  terus melam­bung.

“Ya mau gimana lagi, kalau kita tidak berdagang kita nggak punya penghasilan lain. Ya ter­paksa kita terus produksi dengan keuntungan yang semakin tipis,” keluhnya saat ditemui Rakyat Merdeka, kemarin.

Menanggapi soal pasokan ke­dalai, Direktur Jenderal Perdaga­ngan Dalam Negeri Kementerian Per­dagangan (Kemendag) Gu­naryo menjelaskan, kenaikan harga ke­delai di sektor industri karena kebijakan negara asal pengimpornya. Selain itu, kuota kedelai di Indonesia kurang men­cukupi,  sehingga terus impor.

“Karena juga ada tambahan bea keluar (BK) sekitar lima persen. Itu juga yang mem­pengaruhi harga kedelai mengapa jadi me­lambung tinggi,” ujarnya saat di­kontak Rakyat Merdeka, kemarin.

Gunaryo menduga adanya per­mainan harga yang dilakukan para importir. Mekanismenya, mereka menjual stok barang yang lama dan menjualnya dengan harga tinggi seperti sekarang ini. “Hal seperti ini dijadikan manfaat bagi para importir nakal untuk mengais keuntungan berlipat. Kami akan meminimalisir ke­jadian serupa agar tidak merugi­kan pembeli,” janjinya.

Dikatakan Gunaryo, pihaknya sedang mencarikan jalan keluar permasalahan ini dengan bebe­rapa pihak terkait. Diantaranya dengan Kementerian Perindus­trian.

“Kita akan men­coba mela­lui kebijakan fiskal yang diterap­kan saat ini. Supaya harga kedelai impor tersebut ti­dak terlalu tinggi. Yang lebih penting kita harapkan saat ini kita jangan sampai kebutuhan para pegrajin kurang,” jelasnya.

Sedangkan skema pembelian tunai, tidak akan mempengaruhi kenaikan harga. Namun, jika di­angsur otomatis akan berpenga­ruh pada kenaikan harga. Dia­kui­nya, Kemendag tampak angkat ta­ngan dalam mensta­bil­kan harga kede­lai untuk industri kecil apa­bila skema pembelian diangsur. Selama ini kacang kedelai yang digunakan berasal Amerika Serikat. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya