ilustrasi, Mobil Hybrid
ilustrasi, Mobil Hybrid
RMOL.Pemerintah merencanakan memproduksi mobil hybrid yang rendah emisi. Langkah tersebut untuk mengurangi emisi karbon bagi kendaraan di Indonesia dan teknologi yang bisa mengadopi itu ada empat jenis. Mobil hybrid salah satunya.
Menteri Perindustrian MS HiÂdayat mengaku, proyek mobil hybrid baru sekedar diskusi. RaÂpat resminya dijadwalkan berÂsama Menteri Keuangan Agus MartoÂwardojo.
“Jadi sebetulnya kami akan memÂbuat program itu, khuÂsusÂnya mencari kendaraan yang bisa meÂngusung tema mengÂuraÂngi emisi karbon. Jadi temaÂnya itu mencari sistem mesin cycle yang bisa meÂngusrangi emisi karÂbon. Supaya environÂment frienÂdly kan,†ujar Hidayat di Jakarta, Rabu (16/5).
Bekas Ketua Kadin ini meÂnamÂbahkan, nantinya spec (spesifiÂkasi) mobil hybrid bisa electric car, hybrid, advance diesel techÂnoÂlogy dan bio diesel. MenurutÂnya, moÂbil hybrid ini bukan haÂnya dari Toyota atau Jepang saja, Âtapi juga dari Eropa.
“Toh nanti kita ngeluarin aturÂan karena kita butuh sistem itu. KaÂrena kita mau mengadopsi itu, tentu kita akan membuka kepada semua, jadi tidak diskriminatif,†jelasÂnya.
Hidayat mengakui, Toyota paÂling siap memproduksi mobil hybÂrid. Apalagi perusahaan ini mamÂpu memproduksi dengan angka penghematan sekitar 30 kilometer (km) per liter. Namun, harga yang dikenakan kepada moÂbil jenis hybrid ini nantinya bisa dikategorikan mahal. KareÂna mobil tersebut menggunakan dua sistem, baterai, listrik dan bahan bakar minyak (BBM).
Karena itu, pihak Toyota meÂminta kemudahan impor seÂkaÂliÂgus memperkenalkan ke maÂsyaÂrakat mobil hybrid seperti apa, dan itu jadi test market.
“Saya sih mauÂnya (test market) setahun, tapi dia (Toyota) mintaÂnya 2 taÂhun, jadi belum ketemu. Setelah itu masuklah ke sistem CKD (comÂpletely knock down), kalau sistem CKD jadi assemÂbling di sini,†terangnya.
“Baru tahap berikutnya adaÂlah manufacturing dan locaÂliÂsasion. Nah, untuk CKD saja saya juga bicara persentase komÂponen dan kalau dia impor sebaÂgai test maÂrket tadi dia minta fasilitas apa saja, kita sedang bicara itu,†imbuh Menperin.
Dia menjelaskan, insentif yang diminta Toyota yaitu luxury tax atau pajak penjualan barang meÂwah (PPnBM), impor duty. NaÂmun, berapa besaran insenÂtifnya belum bisa dijelaskan. NanÂti akan dihitung bersama Menteri KeÂuangÂan.
“Lebih bagus secepatÂnya proÂses CKD, lalu manuÂfacÂturing atau berproduksi di InÂdonesia itu bisa segera. DiperÂkirakan 2-3 taÂhun baru bisa full lokalisasi. KaÂrena ada proses juga di CKD.â€
Ditanya soal Low Cos Green Car (LCGC), dia menyatakan segÂmennya berbeda karena harÂganya Rp 100 juta ke bawah.
“Tapi kalau bicara Prius itu kan hargaÂnya Rp 600 jutaan. Kalau dia dikasih insentif supaya harÂganya sedikit tinggi dari mobil non hybrid itu sekitar Rp 450 juÂtaan. Jadi saya masih dalam waÂcana, tapi pemerintah mengÂhaÂrapÂkan sistem itu berjalan dan tiÂdak hanya dari Toyota, kita memÂbuka kepada siapa saja,†tandas menteri dari Golkar itu. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08