Berita

ilustrasi, Mobil Hybrid

Bisnis

Permintaan Insentif Pajak Toyota Belum Diloloskan

Ingin Tes Pasar Mobil Hybrid Selama Dua Tahun
JUMAT, 18 MEI 2012 | 08:15 WIB

RMOL.Pemerintah merencanakan memproduksi mobil hybrid yang rendah emisi. Langkah tersebut untuk mengurangi emisi karbon bagi kendaraan di Indonesia dan teknologi yang bisa mengadopi itu ada empat jenis. Mobil hybrid salah satunya.

Menteri Perindustrian MS Hi­dayat mengaku, proyek mobil hybrid baru sekedar diskusi. Ra­pat resminya dijadwalkan ber­sama Menteri Keuangan Agus Marto­wardojo.

“Jadi sebetulnya kami akan mem­buat program itu, khu­sus­nya mencari kendaraan yang bisa me­ngusung tema meng­ura­ngi emisi karbon. Jadi tema­nya itu mencari sistem mesin cycle yang bisa me­ngusrangi emisi kar­bon. Supaya environ­ment frien­dly kan,” ujar Hidayat di Jakarta, Rabu (16/5).

Bekas Ketua Kadin ini me­nam­bahkan, nantinya spec (spesifi­kasi) mobil hybrid bisa electric car, hybrid, advance diesel tech­no­logy dan bio diesel. Menurut­nya, mo­bil hybrid ini bukan ha­nya dari Toyota atau Jepang saja, ­tapi juga dari Eropa.

“Toh nanti kita ngeluarin atur­an karena kita butuh sistem itu. Ka­rena kita mau mengadopsi itu, tentu kita akan membuka kepada semua, jadi tidak diskriminatif,” jelas­nya.

Hidayat mengakui, Toyota pa­ling siap memproduksi mobil hyb­rid. Apalagi perusahaan ini mam­pu memproduksi dengan angka penghematan sekitar 30 kilometer (km) per liter. Namun, harga yang dikenakan kepada mo­bil jenis hybrid ini nantinya bisa dikategorikan mahal. Kare­na mobil tersebut menggunakan dua sistem, baterai, listrik dan bahan bakar minyak (BBM).

Karena itu, pihak Toyota me­minta kemudahan impor se­ka­li­gus memperkenalkan ke ma­sya­rakat mobil hybrid seperti apa, dan itu jadi test market.

“Saya sih mau­nya (test market) setahun, tapi dia (Toyota) minta­nya 2 ta­hun, jadi belum ketemu. Setelah itu masuklah ke sistem CKD (com­pletely knock down), kalau sistem CKD jadi assem­bling di sini,” terangnya.

“Baru tahap berikutnya ada­lah manufacturing dan loca­li­sasion. Nah, untuk CKD saja saya juga bicara persentase kom­ponen dan kalau dia impor seba­gai test ma­rket tadi dia minta fasilitas apa saja, kita sedang bicara itu,” imbuh Menperin.

Dia menjelaskan, insentif yang diminta Toyota yaitu luxury tax atau pajak penjualan barang me­wah (PPnBM), impor duty. Na­mun, berapa besaran insen­tifnya belum bisa dijelaskan. Nan­ti akan dihitung bersama Menteri Ke­uang­an.

“Lebih bagus secepat­nya pro­ses CKD, lalu manu­fac­turing atau berproduksi di In­donesia itu bisa segera. Diper­kirakan 2-3 ta­hun baru bisa full lokalisasi. Ka­rena ada proses juga di CKD.”

Ditanya soal Low Cos Green Car (LCGC), dia menyatakan seg­mennya berbeda karena har­ganya Rp 100 juta ke bawah.

“Tapi kalau bicara Prius itu kan harga­nya Rp 600 jutaan. Kalau dia dikasih insentif supaya har­ganya sedikit tinggi dari mobil non hybrid itu sekitar Rp 450 ju­taan. Jadi saya masih dalam wa­cana, tapi pemerintah meng­ha­rap­kan sistem itu berjalan dan ti­dak hanya dari Toyota, kita mem­buka kepada siapa saja,” tandas menteri dari Golkar itu. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya