Berita

ilustrasi, Impor Hortikultura

Bisnis

Permendag 30 Tekan Impor Hortikultura

SELASA, 15 MEI 2012 | 09:10 WIB

RMOL. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat nilai impor hortikultura terus mengalami ke­naikan. Pada 2008, nilai impor­nya 881,6 juta dolar AS, se­mentara 2011 impornya naik men­jadi 1,7 miliar dolar AS.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Deddy Sa­leh mengatakan, produk hor­ti­kultura yang paling besar nilai im­pornya adalah bawang putih 242,4 juta dolar AS, diikuti apel 153,8 ju­ta dolar AS, jeruk 150,3 juta dolar AS dan anggur 99,8 juta dolar AS.

Menurutnya, barang-barang itu berasal dari China, Thailand dan Ame­rika Serikat. Un­tuk menekan serbuan buah impor ter­sebut, pihaknya menerbitkan Per­aturan Menteri Perdagangan (Permen­dag) Nomor 30/M-DAG/PER/5/2012 tentang Ke­tentuan Impor Produk Hortikultura.

“Produk hortikultura meru­pa­kan komoditi strategis yang mem­punyai potensi ekonomi ba­gi masyarakat dan erat kaitan­nya dengan ketahanan pangan, se­hingga kegiatan impornya ha­rus diatur supaya tidak merugikan pe­tani,”  kata Deddy.

Komoditi hortikultura yang di­atur dalam Permendag ini ter­diri atas produk tanaman hias, se­perti anggrek dan krisan, lalu pro­duk hol­tikultura segar seperti ba­wang, sayur-sayuran dan buah-buahan (wortel, lobak pisang, ken­tang, cabe, jeruk, apel, ang­gur, pepaya) serta produk hor­ti­kultura olahan seperti sayuran dan buah-buahan yang diawet­kan termasuk jus buah.

Dalam Permendag ini juga ditetapkan setiap impor produk hortikultura wajib mendapat persetujuan impor dari Kemen­dag atas rekomendasi impor dari Kementerian Pertanian.

Pengawasan terhadap kemasan dan label baru akan dilakukan dua tahun sejak Permendag ini di­ber­lakukan. Hal ini untuk me­ngan­­tisipasi adanya produk-pro­duk yang telah beredar di pasar yang sudah memenuhi per­sya­ra­tan keamanan dan kesehatan pangan.

“Permendag ini merupakan instrumen yang lengkap bagi pemerintah untuk melakukan pengawasan secara lebih opti­mal,”  jelas Deddy.

Anggota Komisi IV DPR Rofi’ Munawar mengatakan, peme­rin­tah harus lebih meningkatkan produksi pertanian dalam negeri untuk mengantisipasi serbuan impor. Apalagi melambungnya harga pangan dunia, sektor per­tanian mampu menopang per­tum­buhan ekonomi nasional.  [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya