ilustrasi, Impor Hortikultura
ilustrasi, Impor Hortikultura
RMOL. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat nilai impor hortikultura terus mengalami keÂnaikan. Pada 2008, nilai imporÂnya 881,6 juta dolar AS, seÂmentara 2011 impornya naik menÂjadi 1,7 miliar dolar AS.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Deddy SaÂleh mengatakan, produk horÂtiÂkultura yang paling besar nilai imÂpornya adalah bawang putih 242,4 juta dolar AS, diikuti apel 153,8 juÂta dolar AS, jeruk 150,3 juta dolar AS dan anggur 99,8 juta dolar AS.
Menurutnya, barang-barang itu berasal dari China, Thailand dan AmeÂrika Serikat. UnÂtuk menekan serbuan buah impor terÂsebut, pihaknya menerbitkan PerÂaturan Menteri Perdagangan (PermenÂdag) Nomor 30/M-DAG/PER/5/2012 tentang KeÂtentuan Impor Produk Hortikultura.
“Produk hortikultura meruÂpaÂkan komoditi strategis yang memÂpunyai potensi ekonomi baÂgi masyarakat dan erat kaitanÂnya dengan ketahanan pangan, seÂhingga kegiatan impornya haÂrus diatur supaya tidak merugikan peÂtani,†kata Deddy.
Komoditi hortikultura yang diÂatur dalam Permendag ini terÂdiri atas produk tanaman hias, seÂperti anggrek dan krisan, lalu proÂduk holÂtikultura segar seperti baÂwang, sayur-sayuran dan buah-buahan (wortel, lobak pisang, kenÂtang, cabe, jeruk, apel, angÂgur, pepaya) serta produk horÂtiÂkultura olahan seperti sayuran dan buah-buahan yang diawetÂkan termasuk jus buah.
Dalam Permendag ini juga ditetapkan setiap impor produk hortikultura wajib mendapat persetujuan impor dari KemenÂdag atas rekomendasi impor dari Kementerian Pertanian.
Pengawasan terhadap kemasan dan label baru akan dilakukan dua tahun sejak Permendag ini diÂberÂlakukan. Hal ini untuk meÂnganÂÂtisipasi adanya produk-proÂduk yang telah beredar di pasar yang sudah memenuhi perÂsyaÂraÂtan keamanan dan kesehatan pangan.
“Permendag ini merupakan instrumen yang lengkap bagi pemerintah untuk melakukan pengawasan secara lebih optiÂmal,†jelas Deddy.
Anggota Komisi IV DPR Rofi’ Munawar mengatakan, pemeÂrinÂtah harus lebih meningkatkan produksi pertanian dalam negeri untuk mengantisipasi serbuan impor. Apalagi melambungnya harga pangan dunia, sektor perÂtanian mampu menopang perÂtumÂbuhan ekonomi nasional. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16