ilustrasi, Konversi BBM Ke Gas
ilustrasi, Konversi BBM Ke Gas
RMOL. Program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke gas terancam molor menyusul sikap Perusahaan Gas Negara (PGN) ingin memonopoli jalur pipa gas.
Pengamat perminyakan dan gas bumi Kurtubi menyanyangÂkan masih adanya hambatan daÂlam program konversi BBM subÂsidi ke gas. Padahal, kebijaÂkan tersebut untuk mengurangi beÂban BBM subdisi yang makin memÂberatkan anggaran.
Menurut Kurtubi, jika program tersebut diprioritaskan oleh peÂmeÂrintah, maka semua pihak haÂrus mendukung, termasuk PT Perusahaan Gas Negara (PGN).
“Jadi harus mempercepat pemÂbangunan infrastruktur. Punya target yang jelas, sehingga semua pihak harus mendukung. Untuk itu, PGN haÂrus tunÂduk kepada peÂmerintah,†cetusÂnya kepada RakÂyat MerÂdeka, Jumat (11/5).
Sebelumnya, Ketua Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro MangkusuÂbroto mengaku geram dengan sikap PGN karena ego sektoral seÂhingÂga revitalisasi Stasiun PeÂngisian Bahan Bakar Gas (SPBG) terÂhamÂbat.
“Perilaku PGN konÂyol. Saya mengharapkan Pak Dipo (SekÂretaris Kabinet Dipo Alam) agar menyelesaikan ini,†katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.
Kata dia, perilaku konyol terseÂbut dikarenakan PGN telah meÂnguasai jaringan pipa gas, namun seharusnya jika ada gas yang diÂdistribusikan melalui pipa terseÂbut hanya membayar sewa pipa. Namun, pihak PGN malah minta gas yang mau didistribusiÂkan harus jadi milik PGN terlebih dahulu. Sikap ego sektoral terÂsebut menjadi kendala dalam program nasional konversi BBM ke Bahan Bakar Gas (BBG).
“Saya minta Pak Dipo bertangÂgung jawab, selesaikan ini, PT PGN agar melepaskan ego sekÂtoral guna mempelancar program revitalisasi SPBG yang menjadi kendala Program Nasional KonÂversi BBM ke BBG di 12 kota besar,†pinta Kuntoro geram.
Kurtubi memaklumi sikap PGN itu. Karena, tidak ada aturÂan yang jelas yang diberikan kepada BUMN tersebut.
“PGN itu kan juga bagian dari pemerintah, ya PGN wajar saja menolak dan meÂnunda program tersebut. Ini meÂruÂpakan kesalahÂan dari pemerinÂtah sendiri yang kurang tegas. Coba kalau pemeÂrintahnya tegas, PGN tidak akan semana-mena, “ tegasnya.
Sekedar informasi, UKP4 mengeluarkan 8 rekomendasi untuk menghemat penggunaan BBM. Sejumlah rekomendasi itu terdiri dari solusi jangka pendek yang bisa segera diterapkan (seÂbelum Juli 2012) dan solusi jangÂka menengah yang perlu waktu (2012-2014) seperti aturan berÂbasis cc mobil dan memÂpercepat transportasi publik.
Sejumlah rekomendasi jangka pendek itu, yaitu, pertama, BPH MiÂgas menerapkan sistem penÂcaÂtatan distribusi BBM baru di sisi pengguna langsung BBM subÂsidi. Kedua, agar PGN meÂleÂpasÂkan ego sektoral untuk memperÂlancar program revitaÂlisasi SPBG di 12 kota besar.
Ketiga, agar tim nasional meÂnegakkan Inpres 13/2011 tentang Program Penghematan BBM (10 persen), listrik (20 perÂsen) dan air (10 persen) secara menyeluruh di instansi pemerinÂtah. Keempat, menerbitkan aturan pelaksana konversi dari BBM ke BBG seÂcara nasional seperti yang sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta melalui Pergub-nya.
Kelima, penugasan kepada KeÂpolisian untuk menanggulangi kebocoran pemanfaatan BBM bersubsidi berskala besar seperti di kapal/tanker. Keenam, mengÂganti jenis BBM bersubsidi bagi nelayan dari High Speed Diesel menÂjadi Low Speed Diesel.
Ketujuh, konsumsi BBM berÂsubÂsidi dijadikan sebagai Key PerforÂmance Indicator pada KeÂmenÂteÂrian/Lembaga, BUMN, dan Pemda. Kedelapan, menyuÂsun straÂtegi untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, terutama terkait pemilihan waktu kenaikan yang tepat untuk menghindari dampak ekonomi makro.
Sebelumnya, PGN meminta pasokan juga ditambah, teruÂtama untuk memenuhi kebutuÂhan pemÂbangkit listrik dan inÂdustri. SekreÂtaris Perusahaan PGN Heri Yusup membenarkan, telah terÂjadi kenaikan atau peÂnyesuaian harga beli gas PGN. Di antaranya dari produÂsen CoÂnocoPhillips dan Pertamina EP.
Meski kenaiÂkan harga beli gas itu mencapai leÂbih dari 200 persen, meÂnuÂrut Heri, namun PGN tetap menduÂkung karena merupakan bentuk upaya peÂmeÂrintah menaikkan peneriÂmaan negara dan mengÂgiatkan kegiaÂtan operasi migas. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16