dpr ri
dpr ri
RMOL. Dewan Payah, RUU Perubahan Harga Rupiah Dianggap Belum Prioritas
Upaya bank Indonesia (BI) menggolkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan Harga Rupiah alias redenominasi, bakal diganjal Senayan. DPR mengancam menolak rencana pemerintah itu. Padahal, redenominasi sangat dibutuhkan mengingat nilai rupiah terhadap mata uang asing sangat jomplang.
Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis menilai, pemÂbahasan RUU redenominasi buÂkan prioritas saat ini.
“Redenominasi bukan prioritas kami. Walaupun masuk pasti akan ditolak. Yang lebih penting, itu (RUU) Perubahan BI dan PaÂsar Modal,†katanya kepada RakÂyat Merdeka, Jumat (11/5).
Selain itu, kata Harry, RUU OJK (Otoritas Jasa Keuangan), serta RUU JPSK (Jaringan PeÂngaÂmanan Sistem Keuangan) meruÂpakan hal penting untuk dibahas. Pasalnya, OJK efektif mulai bekerja pada Januari 2013.
Anggota Komisi XI DPR SaÂdar Subagyo berpendapat, reÂdenominasi hanya akan membeÂratÂkan anggaran negara saja. SeÂbab, setiap taÂhunÂnya unÂtuk menÂcetak uang saja BI bisa menghaÂbiskan dana Rp 6 triliun.
“Bayangkan jika redeÂnoÂminasi ini disahkan. Berapa triÂliun yang harus dibebankan keÂpada angÂgaran negara,†kata Sadar keÂpada Rakyat Merdeka, Jumat (11/5).
Sadar menilai, sebaiknya RUU Redenominasi ditunda saja. SeÂbab, dia yakin mayoritas anggota dewan di Senayan tidak akan memÂberikan restu untuk mengeÂsahkan Undang-Undang tersebut.
“Daripada capek-capek meÂnyuÂsun lebih baik tidak usah saja lah. Lagi pula masalah itu belum terlalu penting saat ini,†ujarnya.
Politisi Gerindra ini juga tak sependapat bahwa redenominasi diharapkan bisa memperÂmudah proses pengÂhitungan uang suÂpaya tidak rumit.
“Itu hanya alasan saja. Yang menghitung itu kan komputer. Mau berapa pun besarnya nilai uang, komputer tetap saja bisa melakukannya,†tuturnya.
Kesimpulannya, kata dia, DPR meÂrasa sangat keberatan dengan diÂruÂmuskannya RUU Perubahan HarÂga Rupiah alias redenominasi itu. “KemungkinÂan besar kami seÂmua akan meÂnolak rencana itu,†tegasnya.
Sedangkan pengusaha berpen-dapat, redenominasi tidak akan membawa dampak yang buruk bagi dunia bisnis selama BI memÂperhatikan aspek nominal dari kebijakan tersebut. Misalnya, berapa nilai uang terendah jika redenominasi itu diÂberlakukan.
“Kalau seribu rupiah saja menÂjadi satu rupiah, akan menjadi berapakah Rp 100 hingga Rp 500? Berarti di sini harus ada ukurÂan baru, yaitu sen,†kata SekÂretaris Asosiasi PeÂngusaha IndoÂnesia (APINDO) Franky Sibarani kepada Rakyat MerÂdeka, kemaÂrin.
Kalangan bankir menilai, redeÂnominasi kelak tidak akan berÂdampak buruk kepada perbankan. Namun, para bankir meÂminÂta aturan itu betul-betul dipeÂrÂtimÂbangkan secara masak-masak.
“Kami melihat aturan itu meÂmang bagus dan lebih memÂperÂmuÂdah untuk melakukan proses pengÂhitungan uang karena nomiÂnalÂnya yang lebih kecil,†kata DiÂrektur Utama BRI Sofyan Basir kepada Rakyat Merdeka.
Direktur Utama BCA, Jahja Setiaatmadja juga menilai, redeÂnominasi bisa memberikan manÂfaat dalam efisiensi melakukan pencatatat dan memperirit stoÂrage server alias komputer pengÂhitung uang. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08