Berita

Bank Indonesia (BI)

Bisnis

BI Diminta Pertipis Nilai Defisit

Kualitas Neraca Pembayaran Diklaim Membaik
SENIN, 14 MEI 2012 | 09:44 WIB

RMOL. Bank Indonesia (BI) meng­klaim kinerja neraca pembayaran triwulan I-2012 membaik. Hal itu di­tun­jukkan dengan catatan de­fisit yang lebih kecil ketimbang triwulan IV-2011. Namun, BI diminta tetap memperbaiki lagi kualitas neraca pembayaran di kuartal berikutnya.

Pengamat ekonomi dari Uni­versitas Sumatera Utara (USU) John Ritonga mengharapkan, tren tersebut dapat bertahan terus hing­ga kuartal berikutnya. Na­mun dia menilai, tren neraca pem­bayaran saat ini memang belum menun­jukkan kinerja terbaiknya.

“Diharapkan total defisit yang selanjutnya semakin tipis ang­kanya,” kata John kepada Rakyat Merdeka, Jumat kemarin (11/5).

John menilai, BI harus me­mi­kirkan langkah-langkah yang spesifik guna menurunkan nilai defisit dari neraca pembayaran. Di samping itu, BI pun didorong untuk terus meningkatkan ca­dangan devisa dari nilai yang ada saat ini. “Kalau saat ini ca­da­ngan devisa 110,5 miliar dolar AS, ya pada kuartal berikutnya harus le­bih baik lagi,” ucapnya.

John menilai, perbaikan angka defisit dan jumlah devisa akan sangat berpengaruh pada per­tum­buhan perkenomian nasional. “Sebab, yang namanya devisa itu pasti akan mempengaruhi eko­nomi negara,” tegasnya.

Direktur Eksekutif Perencana­an Strategis dan Hubungan Mas­ya­rakat BI Dody Budi Waluyo me­ngatakan, perbaikan tersebut ditopang oleh transaksi modal dan keuangan yang kembali me­nga­lami surplus, sehingga mam­pu menutupi se­bagian dari defisit transaksi ber­jalan yang membesar.

“Dengan perkembangan ter­sebut, jumlah cadangan devisa pada akhir Maret 2012 menjadi 110,5 miliar dolar AS atau setara dengan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” katanya.

Dody menambahkan, transaksi modal dan finansial pada triwulan I-2012 juga mencatat surplus. Terbukti, untuk triwulan ini men­ce­tak torehan 2,2 miliar dolar AS se­telah pada triwulan IV-2011 meng­alami defisit 1,0 miliar dolar AS.

Di samping itu, investasi por­tofolio asing kembali mengalir. Menurutnya, sebagian besar ben­tuk portofolio itu dalam bentuk pembelian surat berharga negara berdenominasi valuta asing. Dody juga mengklaim perbaikan tersebut diikuti pembelian saham dan surat berharga swasta, seiring persepsi pasar yang positif ter­hadap perekonomian domestik.

Selain itu, investasi langsung asing (PMA) dan penarikan utang lu­ar negeri swasta masih me­ning­kat dengan dukungan iklim in­ves­tasi yang kondusif dan stabilitas makroekonomi yang terjaga. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya