Bank Indonesia (BI)
Bank Indonesia (BI)
RMOL. Bank Indonesia (BI) mengÂklaim kinerja neraca pembayaran triwulan I-2012 membaik. Hal itu diÂtunÂjukkan dengan catatan deÂfisit yang lebih kecil ketimbang triwulan IV-2011. Namun, BI diminta tetap memperbaiki lagi kualitas neraca pembayaran di kuartal berikutnya.
Pengamat ekonomi dari UniÂversitas Sumatera Utara (USU) John Ritonga mengharapkan, tren tersebut dapat bertahan terus hingÂga kuartal berikutnya. NaÂmun dia menilai, tren neraca pemÂbayaran saat ini memang belum menunÂjukkan kinerja terbaiknya.
“Diharapkan total defisit yang selanjutnya semakin tipis angÂkanya,†kata John kepada Rakyat Merdeka, Jumat kemarin (11/5).
John menilai, BI harus meÂmiÂkirkan langkah-langkah yang spesifik guna menurunkan nilai defisit dari neraca pembayaran. Di samping itu, BI pun didorong untuk terus meningkatkan caÂdangan devisa dari nilai yang ada saat ini. “Kalau saat ini caÂdaÂngan devisa 110,5 miliar dolar AS, ya pada kuartal berikutnya harus leÂbih baik lagi,†ucapnya.
John menilai, perbaikan angka defisit dan jumlah devisa akan sangat berpengaruh pada perÂtumÂbuhan perkenomian nasional. “Sebab, yang namanya devisa itu pasti akan mempengaruhi ekoÂnomi negara,†tegasnya.
Direktur Eksekutif PerencanaÂan Strategis dan Hubungan MasÂyaÂrakat BI Dody Budi Waluyo meÂngatakan, perbaikan tersebut ditopang oleh transaksi modal dan keuangan yang kembali meÂngaÂlami surplus, sehingga mamÂpu menutupi seÂbagian dari defisit transaksi berÂjalan yang membesar.
“Dengan perkembangan terÂsebut, jumlah cadangan devisa pada akhir Maret 2012 menjadi 110,5 miliar dolar AS atau setara dengan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,†katanya.
Dody menambahkan, transaksi modal dan finansial pada triwulan I-2012 juga mencatat surplus. Terbukti, untuk triwulan ini menÂceÂtak torehan 2,2 miliar dolar AS seÂtelah pada triwulan IV-2011 mengÂalami defisit 1,0 miliar dolar AS.
Di samping itu, investasi porÂtofolio asing kembali mengalir. Menurutnya, sebagian besar benÂtuk portofolio itu dalam bentuk pembelian surat berharga negara berdenominasi valuta asing. Dody juga mengklaim perbaikan tersebut diikuti pembelian saham dan surat berharga swasta, seiring persepsi pasar yang positif terÂhadap perekonomian domestik.
Selain itu, investasi langsung asing (PMA) dan penarikan utang luÂar negeri swasta masih meÂningÂkat dengan dukungan iklim inÂvesÂtasi yang kondusif dan stabilitas makroekonomi yang terjaga. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08