ilustrasi, Ekspor Tambang Mineral
ilustrasi, Ekspor Tambang Mineral
RMOL. Kalangan pengusaha tamÂbang bakal tidak leluasa lagi meÂlaÂkukan ekspor tambang miÂneral. Setelah Kementerian ESDM meÂngeluarkan aturan pembatasan ekspor tambang, kini giliran KeÂmenterian Perdagangan yang meÂnerbitkan peraturan menteri perÂdagangan (Permendag) Nomor 29/M-DAG/PER/5/2012 tentang ketentuan ekspor produk perÂtamÂÂbangan. Ketentuan ini mulai berÂlaku sejak Permendag ini diÂtetapÂkan pada 7 Mei lalu.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Dedi Saleh mengaÂtakan, Permendag 29/2012 dibuat untuk menduÂkung upaya tertib usaha dibidang pertambangan, terÂmasuk menjaÂmin pemenuhan kebutuhan proÂduk tambang di daÂlam negeri. Langkah ini juga menciptakan kepastian usaha dan hukum bagi pelaku usaha tambang.
Seperti diketahui, dalam PerÂmendag 29/2012, produk pertamÂbangan yang diatur tata niaga ekspornya berjumlah 65 Nomor Pos Tarif atau HS. Jumlah total tersebut terdiri dari 21 HS mineÂral logam, antara lain bijih nikel, bijih besi, bijih tembaga, dan bijih aluminium, 10 HS mineral non logam seperti kuarsa, batu kapur, zeolit dan feldspar serta 34 HS batuan, yang mencakup batu saÂbak, marmer, onik dan granit.
Selama kurun waktu 2008-2011, ekspor produk pertamÂbaÂngan mengalami kenaikan saÂngat tajam. Misalnya bijih nikel naik sebesar 703 persen, bijih tembaga meningkat 118 persen, bijih aluÂminium naik 490 persen dan bijih besi yang peningÂkatÂannya menÂcapai 4.427 persen.
Dengan terbitnya aturan pemÂbatasan ekspor tambang ini, MenÂteri Keuangan Agus MartoÂwarÂdojo mengaku, pemerintah berÂpotensi menambah penerimaan negara dari kinerja ekspor bahan mentah mineral Indonesia sebeÂsar 8-10 miliar dolar AS per taÂhunnya, atau setara Rp 72 triliun hingga Rp 90 triliun (kurs Rp 9.000 per dolar AS).
Sebagai informasi, 14 jenis baÂrang mineral mentah yang dimakÂsud adalah tembaga, emas, perak, timah, timbal, kromium, molidbÂdenum, platinum, bauksit, bijih besi, pasir besi, nikel, mangan, dan antimon. Kebijakan tersebut hanya berlaku untuk pemegang izin usaha pertambangan.
Dalam aturan Permendag diÂsebutkan, apabila suatu peruÂsaÂhaan ingin melakukan ekspor produk tambang, maka peruÂsaÂhaan tersebut harus mendapat pengakuan sebagai eksportir terÂdaftar produk pertambangan (ET-Produk pertambangan) terÂlebih dahulu dari Direktur JenÂderal PerÂdagangan Luar Negeri atas nama Menteri Perdagangan.
Pengakuan sebagai ET-produk pertambangan diberikan kepada perusahaan yang memiliki izin pertambangan berupa izin usaha pertambangan (IUP) operasi proÂduksi, IUP khuÂsus operasi proÂdukÂsi, izin perÂtambangan rakÂyat (IPR), kontrak karya (KK), IUP operasi produk khuÂsus pengolahan dan pemurÂnian serta IUP operasi produk khusus pengangkutan dan penÂjualan.
Ketua Umum Asosiasi PenguÂsaha Mineral Indonesia Poltak Sitanggang menjelaskan, pemÂberÂlakuan aturan bea keluar itu bukan pekerjaan mudah, karena akan banyak berdampak negatif bagi pengusaha dan Investor.
“Di areal pertambangan pasti terjadi Pemutusan Hubungan KerÂja besar-besaran lalu terjadi konÂflik antara karyawan dan peruÂsahaan,†kata Poltak. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04
Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00
Senin, 12 Januari 2026 | 23:31
Senin, 12 Januari 2026 | 23:23
Senin, 12 Januari 2026 | 23:21
Senin, 12 Januari 2026 | 23:07
Senin, 12 Januari 2026 | 23:00
Senin, 12 Januari 2026 | 22:44
Senin, 12 Januari 2026 | 22:20
Senin, 12 Januari 2026 | 22:08