Berita

ilustrasi

Bisnis

Kementerian/Lembaga Diminta Tidak Tambah Pagu Anggaran

SENIN, 14 MEI 2012 | 09:02 WIB

RMOL. Kementerian Keuangan (Kemen­keu) meminta Kementerian/Lem­baga (K/L) tidak menambah pagu anggaran dalam Daftar Isian Penggunaan Anggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (DIPA APBNP) 2012. Hal ini untuk menjaga defisit tidak melebihi 2,23 persen.

Dirjen Anggaran Kemenkeu Herry Purnomo mengatakan, langkah penghematan anggaran yang telah dilakukan sebelumnya masih tidak cukup untuk meng­kom­pensasi melonjaknya subsidi BBM di saat harga minyak dunia melonjak.

“Saya kira K/L diminta untuk ber­hemat. Jangan sampai nanti ada keinginan untuk menambah pagu. Kalau ada kebutuhan ha­rus ada efisiensi internal, mi­salnya anggaran perjalanan dinas diku­rangi,” ujar Herry.

Dia juga mengatakan, K/L ti­dak bisa menolak anggarannya dipo­tong untuk program peng­he­matan. Apalagi, tahun ini pe­me­rintah menargetkan Rp 18,9 tri­liun dalam pagu yang sudah tidak bisa diutak-atik.

Menurut Herry, saat ini pe­merintah sudah melihat potensi ang­garan dalam APBN yang bisa dikorbankan untuk program peng­­hematan. Anggaran yang bisa dihemat adalah cadangan be­lanja pegawai. Selain itu, ma­sih ada beberapa pengeluaran yang bisa dibekukan.

Sebagai payung hukum peng­he­matan anggaran K/L, Herry mengatakan, dalam waktu dekat ini akan ada Instruksi Presiden (Inpres). “Kami sedang meng­usulkan Inpres untuk mengatasi itu. Kemarin ada K/L yang mau minta lagi, itu nanti ada pene­gasan tidak bisa, harus tetap di­lakukan pemotongan karena ini bagian dari Undang-Undang APBN,” jelasnya.

Kepala Badan Kebijakan Fis­kal Kemenkeu Bambang Brodjo­negoro mengatakan, pemerintah akan tetap menjaga defisit berada pada level yang telah ditargetkan pemerintah sebesar 2,23 persen.

Menurut Bambang, untuk me­nu­tupi beban anggaran pe­me­rintah terkait terus mem­beng­kaknya anggaran subsidi, pihak­nya akan memotong anggaran non prioritas.

 â€œKita akan atur tidak kesitu (pem­bengkakan). Pokoknya cu­kup, sudah jangan bikin sinyal-sinyal aneh penerimaan kan akan nambah,” pungkasnya.   [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya