ekspor impor
ekspor impor
RMOL. Menghadapi persaingan bisnis yang kian tajam, kalangan pengusaha meÂnyoroti perizinan ekspor dan impor. Sedikitnya diÂbutuhkan waktu sekitar 17 hari untuk membuat satu surat izin ekspor impor.
Hal lain yang menyebabkan pengeluaran peÂngusaha meningÂkat adalah peÂnerapan Indonesia National SingÂle Window (INSW) hanya 3-4 hari.
Menanggapi hal itu, KemenÂterian Perdagangan membuat sisÂtem perijinan baru bersifat online (e-licensing), yakni Inatrade. Sistem itu diharapkan bisa meÂmangkas proses perizinan eksÂpor dan impor hanya dalam waktu delapan jam.
Direktur Fasilitasi Ekspor ImÂpor Kementerian Perdagangan Ahmad Syafri mengatakan, sistem baru tersebut diharapkan bisa menÂdukung upaya pemerintah meneÂrapkan INSW. Selain itu juga untuk menghadapi persaiÂngan global dan efisiensi waktu serta biaya dalam proses penaÂngaÂnan.
Sebab, selama ini, komÂponen waktu perizinan di KeÂmenÂdag bisa mencapai 30 persen dari total perÂizinan. “Dengan Inatrade kita meÂngupayakan efisiensi waktu dan biaya. Selain cepat juga gratis,†ungkap Sayfri kepada wartawan di kantornya, Kamis (10/5).
Menurutnya, inatrade bisa memÂpercepat proses perizinan dalam koridor pengajuan izin tanpa membutuhkan verifikasi nomor pengenal importer (NPI) atau harus memerlukan rekoÂmenÂÂdasi Kementerian laninnya yang terkait dengan produk.
“Kalau perlu proses verifikasi memang buÂtuh waktu. Karena harus meÂnyeÂsuaikan pos tarif deÂngan proÂduknya,†tuturnya.
Syafri menÂconÂtohÂkan, misalÂnya untuk proÂduk psikotropika, tekstil dan koÂmoditas yang masuk di Peraturan Menteri PerdagaÂngan nomor 57 tahun 2011 tenÂtang pengaturan impor.
Syafri menambahkan, Inatrade juga memfasilitasi perusahaan untuk dapat melakukan tracking document atau mengecek proses berjalannya perrzinan sudah menÂcapai tahap apa saja. Namun, bukan berarti sistem ini tidak mempunyai kelemahan.
Dia mengakui, dengan belum adanya sistem tanda tangan virÂtual meruÂpakan sebuah kelemahÂan. “Jadi untuk tanda tangan perÂizinan tetap manual oleh pejabat yang berweÂnang, jadi butuh proÂses beberapa waktu,†jelasnya.
Namun, menurut Ketua LemÂbaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia Didik Rachbini, prosedur berbiaya tinggi dan puÂngutan liar menyebabkan segala bentuk perizinan usaha berjalan lama. Sebagai contoh, untuk izin pendirian usaha di Singapura hanya memakan waktu tiga hari. Sedangkan di Jakarta, penguruÂsan serupa memakan waktu tiga bulan. “Itu pun kalau ada setoran. Kalau nggak, ya pasti lebih lama lagi,†katanya.
Anggota LP3E Kadin IndoneÂsia Ina Primiana menambahkan, dalam rantai distribusi, penguÂsaha kebanyakan harus memÂbayar biaya retribusi yang diÂkenaÂkan pada masing-masing daerah yang dilalui. “Ekonomi biaya tinggi merupakan biaya tiÂdak terkontrol yang besarnya bisa mencapai 20-30 persen dari biaya ekonomi,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16