Berita

ilustrasi, buruh

Bisnis

Duh, Upah Kerja RI Cuma Sepertiga Buruh Thailand

Sekjen ITUC Siap Kejar Menakertrans Di Kamboja
SABTU, 12 MEI 2012 | 11:42 WIB

RMOL. Konfederasi serikat buruh terbesar di dunia, International Trade Union Confederation, meng­­kritik kondisi buruh di Indo­nesia yang berbanding ter­balik dengan posisi Indonesia sebagai anggota G20. Upah buruh Indo­ne­sia hanya sepertiga dari buruh Thailand. Terlalu...!!!

“Padahal Indonesia adalah ba­gian dari G20,” ujar Sekretaris Jenderal ITUC, Sharan  Burrow, dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, sejumlah buruh di Indonesia kerap mengalami inti­midasi oleh pihak perusahaan (corporate bullying). Bahkan ada yang hingga melibatkan militer.

“Buruh dibayar dengan upah rendah dan tidak ada jaminan yang layak. Saya sangat shock mendengar semua laporan ini,” kata Burrow.

Burrow berjanji akan memba­wa masalah ini kepada Menaker­trans Muhaimin Iskandar pada perte­muan buruh di Guadala­jara, Mek­siko.

“Hari ini saya tidak bisa ber­temu karena beliau sedang ber­ada di Kamboja. Semoga saya  bisa bertemu beliau minggu de­pan di Meksiko,  akan saya sam­paikan masalah ini,” ujarnya.

Sebagai negara dengan penda­patan tertinggi ke-17 dan per­tum­buhan ekonomi di atas 6 per­sen,  lanjut Burrow, seharusnya buruh di Indonesia diperlakukan lebih manusiawi.

Menanggapi hal ini, anggota Komisi IX DPR Rieke Diyah Pita­loka justru khawatir nasib para buruh menjelang pember­la­kuan pasar bebas. Kondisi ini hanya me­nguntungkan pemilik modal, namun memiskinkan para buruh.

“Lama-lama Indonesia menja­di pasar barang impor,” ujar anggota DPR Fraksi PDIP ini.

Si Oneng, sapaan Rieke, juga mendesak pemerintah untuk men­­ciptakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya sehingga tidak ada lagi pengiriman buruh mig­ran ke luar negeri. “Itu bukan so­lusi ma­salah ketiadaan pekerjaan di da­lam negeri,” kata Rieke.

IUTC berada di Indonesia un­tuk merilis laporan baru per­kem­­bangan Green and Decen Job se­kaligus mengadakan pe­nyelidi­kan pelanggaran hak buruh-buruh di Indonesia. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya