Berita

mobil hybrid

Bisnis

Hidayat & Agus Marto Disuruh Lobi Bos Astra

Muluskan Proyek Mobil Hybrid Demi Efisiensi BBM Subsidi
SABTU, 12 MEI 2012 | 11:39 WIB

RMOL. Presiden SBY akhirnya membentuk tim untuk bernegosiasi dengan prinsipal mobil terkait rencana pengembangan mobil hybrid di Indonesia. Tim negosiasi dipimpin Menteri Perindustrian MS Hidayat  dan di-back up Menteri Keuangan Agus Martowardojo.

“Saya ditunjuk untuk negosiasi dengan prinsipal, yang didam­pi­ngi oleh Agus Marto (Menkeu),” kata Menteri Perin­dustrian MS Hidayat di Jakarta, kemarin.

    Saat ini, menurut Hidayat, pe­merintah sudah melakukan pen­jajakan dengan salah satu prin­si­pal mobil Jepang yaitu To­yota. Melalui As­tra, pemerin­tah sudah melakukan pertemuan terkait ren­cana mem­boyong mo­bil hyb­rid bisa dirakit dan produksi di dalam negeri.

   “Kita akan negosiasi dengan Toyota. Kalau Astra kan tergan­tung prinsipalnya, saya akan me­ngundang bos Toyota. Johnny (Presdir Toyota Astra Motor Joh­nny Darmawan) sudah mengha­dap ke saya. Ada dua minggu un­tuk negosiasi awal,” katanya,

Ia menegaskan, pemerintah akan memberikan perlakuan khu­sus bagi prinsipal mobil hybrid yang bisa menawarkan teknologi hemat bahan bakar 1 liter mampu menempuh 30 kilometer (km). Namun, ini juga bisa diberikan kepada prinsipal selain Toyota.

Menurut Hidayat, beberapa in­sentif sedang dibicarakan terkait insentif mobil hybrid. Hal ini se­jalan dengan permin­taan prinsi­pal mobil yang mendesak ada fa­si­litas sema­cam itu dari peme­rin­tah.

Di saat yang bersamaan, pe­merintah juga akan mengeluar­kan regulasi soal mobil murah dan ramah lingkungan atau low cost car and green car (LCCGC).

“Kalau assembling akan di­beri­kan insentif, dan membuat loka­li­sasi program, sebagian di­buat da­lam negeri sehingga win-win. Kita akan memberikan insen­tif, prin­sipal memberi transfer tek­nologi,” ujar politisi Golkar ini.

Direktur Jenderal Industri Ung­gulan Berbasis Tek­nologi Tinggi Kementerian Perin­dustrian Budi Darmadi me­ne­rang­kan, mobil hybrid punya dua sistem pengge­rak dan mekanik dengan tenaga mesin dan tenaga listrik.

Menu­rut­nya, pengem­ba­ngan mobil hybrid di Tanah Air di­utamakan yang bermesin kecil demi me­mang­kas harga karena kendaraan hybrid yang sudah beredar di In­donesia rata-rata pro­duk pre­mi­um dengan harga hampir Rp 500 juta per unit.

“Mobil hybrid seperti Toyota Prius harganya sangat mahal dan kebanyakan disematkan mesin 2.000 cc. Selain itu, mobil hybrid harganya Rp 200 juta di atas mo­bil yang memakai bahan bakar minyak,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Budi menambahkan, mobil hybrid akan menghemat pema­kaian bahan bakar sekitar 50 per­sen dari mobil yang meng­kon­­sumsi BBM.

“Jika konsumen d­alam sehari menghabiskan 20 liter BBM, mo­bil hybrid bisa menghemat se­paruh bahan ba­karnya. Pe­me­rin­tah me­ngu­sulkan untuk mobil hybrid diproduksi dengan kapasi­tas me­sin 1.500 cc,” tandasnya.

Seperti diketahui, SBY me­nyam­but positif soal wacana pro­duksi mobil hybrid yang hemat BBM. Respons ini disampaikan Presiden ketika menyaksikan de­monstrasi mobil hybrid jenis Toyota Camry dan Prius di ha­laman Istana Negara, Jakarta.

Peme­rin­tah berharap Astra da­pat mem­produksi mobil hybrid dan mobil ramah lingkungan di Indo­nesia. Besaran komponen lo­kal pada mobil hybrid di­harapkan bisa mencapai 80-90 persen.

Pihak PT Toyota Astra Motor (TAM) yang akan memproduksi mobil hybrid ber­merek Camry dan Prius belum mau memberikan komentar lebih lanjut tentang pemberian insentif tersebut.

“Maaf belum bisa ko­men­tar apa-apa. Kan masih da­lam rangka studi dan penjaja­kan,” ujar Di­rektur Marketing TAM Joko Trisanyoto kepada Rakyat Mer­deka di Jakarta, kemarin.

Dengan mesin 1.800 cc, ma­sya­rakat pun berpikir, harga Prius terlalu mahal. Harga se­langit itu akibat komponen pajak­nya masih tinggi. TAM menyebut besaran pajak me­ncapai 50 persen dari harga jual Prius. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya