Berita

ilustrasi, Kendaraan Tambang

Bisnis

1 Juni Kendaraan Tambang Nggak Boleh Pakai Bensin

Pemerintah Mau Lobi DPR Minta Penambahan Kuota
JUMAT, 11 MEI 2012 | 08:52 WIB

RMOL. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menyerukan kepada gubernur dan bupati/walikota wajib menjaga kuota bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang sudah disepakati bersama. Termasuk ikut bertanggung jawab terhadap penyalurannya.

Menurut Wacik, pengawasan oleh pemda sangat penting untuk menjaga agar penyaluran tepat sasaran dan menekan penyelun­du­pan, khususnya untuk daerah per­tambangan dan perkebunan.

“1 Juni kendaraan pertam­ba­ngan dan perkebunan tidak boleh la­gi beli BBM subsidi,” ujar Wa­cik di kantor Badan Perencanaan Pem­ba­ngunan Nasional (Bappe­nas) Jakarta, kemarin.

Dia juga mem­bantah aturan penggunaan BBM subsidi untuk kendaraan tambang dan perke­bun­an akan meng­gang­gu pertum­buhan eko­nomi di daerah meski keduanya meru­pakan sumber pen­dapatan cukup besar bagai Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Politisi Demokrat itu menga­ta­kan, pemerintah sudah mem­bagi-bagikan kuota BBM sub­sidi se­cara adil ke daerah de­ngan mem­perhitungkan kebutu­han masing-masing.

“Ada daerah yang dapat ba­nyak, ada pula yang se­dikit, tapi itu adil. Kalau disa­makan tidak mungkin. Misalnya di Papua ken­daraannya sedikit, masak kuota­nya sama dengan yang di Jawa,” terang Wacik.

Dia juga menegaskan, pihak­nya akan melobi DPR jika kuota BBM 40 juta kiloliter sudah me­lebihi. “Walaupun kuota 40 juta kiloliter sudah diputuskan dalam APBN Perubahan dan tidak mungkin lagi diubah, tapi jika kuota BBM sudah habis apa ha­rus dibiarkan,” cetusnya.

Kepala Badan Pengatur Hilir Mi­nyak dan Gas (BPH Migas) An­dy Noorsaman Sommeng me­nga­ku, hampir semua daerah me­minta tambahan kuota BBM sub­sidi. “Mereka rata-rata me­minta tam­bahan kuota 5-7 persen. Permin­taan tinggi dari Kali­mantan se­besar 14 persen,” ujar Andy.

Ke depan, kata Andy, peneta­pan kuota BBM subsidi akan di­tentukan berdasarkan per­tum­buhan ekonomi. Menurut­nya, selama ini BPH Migas me­nen­tukan kuota sesuai dengan rea­lisasi konsumsi sebelumnya.

Penyelewengan BBM Subsidi Kok Jadi Kambing Hitam

Pengamat energi dari Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengatakan, penyelewengan BBM bersubsidi tidak pantas dijadikan kambing hitam atas terjadinya over quota.

Menurut Sofyano, temuan BPH Migas yang menyatakan te­lah terjadi penyimpangan BBM subsidi sebesar Rp 111 miliar bu­kanlah sesuatu yang mengejut­kan. Apalagi temuan penyele­wengan Januari-April 2012  total­nya hanya 644.700 LSP (Liter Setara premium).

Dia menjelaskan, jika dikait­kan dengan kuota BBM bersub­sdi  2012 sebesar 40 juta kiloliter (40 miliar liter) dan diasumsikan rata rata penyaluran BBM ber­subsidi setiap bulannya sebesar 3,3 miliar LSP (40 juta kiloliter : 12 bulan), maka secara presen­tase BBM yang disele­wengkan sebesar 0,04 persen.

“Dengan presentase yang ren­d­ah tersebut, perlu diper­tanyakan apakah penyelewengan BBM bersubsidi berpengaruh signi­fikan atas melonjaknya kuota,” terangnya.

Pada temuan terkait BBM jenis MFO (marine fuel oil) senilai Rp 105,04 miliar atau setara dengan 250,1 juta liter, kata Sofyano, te­muan tersebut bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Apalagi, MFO adalah jenis bensin yang diperjualbelikan dengan harga keekonomian bukanlah jenis BBM bersubsidi. Namun, dia mendukung upaya pembe­ran­tasan penyelundupan BBM oleh BPH Migas.   [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya