Bank Indonesia (BI)
Bank Indonesia (BI)
RMOL. Bank Indonesia (BI) diminta transparan atas Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan Harga Rupiah. Sebab, masyarakat ingin tahu sudah berapa jauh RUU terkait redenominasi tersebut digarap.
Pengamat ekonomi perÂbanÂkan dari Universitas Indonesia (UI) RoÂfikoh Rohim menilai, sebaiknya BI mempercepat proÂses perumusan RUU tersebut. Dia berharap wacaÂna itu tidak menÂjadi angin lalu.
“Harus terus disosialisasikan, sudah sejauh mana aturan itu dibuat. Dan terakhir kalu tidak salah sudah ada koordinaasi deÂngan Kementerian Hukum dan HAM,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Rofikoh juga minta pemerintah bersikap transparan perihal pengÂgunaan dana anggaran untuk sosialisasi dan biaya lainnya.
“SeÂbab, bakal ada uang negara yang dikeluarkan lagi untuk keÂbijakan itu. Nah, saya tanya dari mana uang itu nanti diambilnya. Kalau pakai APBN, ya tambah berat lagi,†kata Rofikoh.
Kepala Biro Humas BI Difi Ahmad Johansyah mengakui bahwa RUU Perubahan Harga Rupiah itu belum bisa diserahÂkan ke DPR karena masih diÂbaÂhas oleh tim ahli BI.
Dikatakan, penyusunan RUU itu tidak semudah memÂbaÂlikÂkan kedua telapak tangan. “DiÂbuÂtuhÂkan sinergi yang kuat untuk meÂnyusun aturan itu. Kami maÂsih membahasnya deÂngan tim ahli,†kata Difi kepada Rakyat MerdeÂka, kemarin.
Difi juga tak bisa memasÂtikan kapan tepatnya RUU PeruÂbahan Harga Rupiah itu selesai dikerÂjakan. Dia hanya memasÂtikan RUU itu akan diserahkan ke DPR pada tahun ini juga.
“Kita upayakan di tahun ini RUU itu selesai. Saya belum menÂdapatkan kabar kapan aturan itu akan selesai ditangani tim ahli,†imbuh Difi.
Difi berharap, aturan ini tidak akan membawa gejolak yang berlebihan di masyaÂrakat. SeÂbab, yang disederhanakan dalam redeÂnominasi ialah soal penyeÂbutanÂnya saja, bukan soal nilai maÂta uang. “Kita tahu setiap keÂbijakan akan muncul pro dan kontra. Kita harap redenoÂmiÂnasi ini tidak ada gejolak yang beÂsar dari masyaÂrakat,†tandasnya.
Pengamat ekonomi Didik J Rachbini juga menyetujui jika aturan itu disahkan menjadi UnÂdang-Undang. Seharusnya, kata dia, aturan itu sudah diteÂrapkan sejak beberapa tahun lalu.
“Aturan itu sangat dibuÂtuhÂkan di negeri ini. Sebab, nantinya reÂdenominasi akan memÂperÂmudah masyarakat dalam proses pengÂhitungan uang,†katanya keÂpada Rakyat Merdeka, kemarin.
Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR Ignatius Mulyono mengÂimbau BI supaya berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan HAM untuk melakukan harÂmoÂnisasi dalam penyusunan RUU tersebut. Ia meyakinkan, DPR suÂdah siap untuk menguji RUU itu.
“Kita sih kapan pun siap. NaÂmun, aturan itu harus benar-benar mempertimbangkan secaÂra jelas maksud dan tujuannya,†katanya kepada Rakyat Merdeka.
Menurut Iganitius, jika aturan itu memang sangat perlu diÂlakukan, pihaknya akan meÂngesahkannya. Tapi, jika aturan itu hanya akan menambah geÂjolak masyarakat dan belum mendesak, maka DPR akan meÂnolak RUU tersebut. “Kita akan pertimbangkan lagi di DPR meÂngenai aturan itu,†tanÂdasnya.
Rencana redenominasi yang digagas BI muncul akhir tahun lalu, setelah melihat nilai tukar rupiah yang terlalu kecil jika diÂbandingkan dengan mata uang neÂgara lain seperti dolar Amerika SeÂrikat. PeÂmangkasan angka nol juÂga diÂanggap memudahkan daÂlam penghitungan akuntansi. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16