Bank Sahabat Sampoerna
Bank Sahabat Sampoerna
RMOL. Setahun setelah diakuisisi Grup Sampoerna, Bank Dipo Internasional resmi berganti nama menjadi Bank Sahabat Sampoerna.
Direktur Utama Bank SahaÂbat Sampoerna Indra W SupÂriadi mengatakan, perubahan nama ini dilakukan untuk meÂnambah daya saing di industri perÂbanÂkan nasional.
“Grup SamÂpoerna melalui PT Sampoerna Investama telah mengakuisisi 85 persen saham Bank Dipo Internasional deÂngan PT PaÂhalamas Sejahtera sebagai pemegang saham pendiri tetap memiliki 15 persen saham bank,†kata Indra.
Indra menjelaskan, Bank Sahabat Sampoerna terus berÂupaya memperkuat produk dan layanan, khususnya memÂbeÂrikan solusi inovatif dan unik keÂpada masyatakat.
â€Kami paÂham bahwa sebagai pemain yang relatif baru, tidak muÂdah untuk bersaing di inÂdustri perbankan yang deÂmiÂkian kompetitif,†ujarnya.
Menurutnya, selain kepada nasabah, manajemen juga akan tetap berusaha memÂbaÂngun keÂpercayaan dari para pemeÂgang saham yang selama ini telah menjadi target utama peÂrusaÂhaan. “Kita akan upaÂyakan seÂmaksimal mungkin,†ucapnya.
Direktur KeÂuangan Bank SaÂhabat SamÂpoerna Agresius Kadiaman mengutarakan, masa transisi pasca perubahan peÂmilik saÂham membuat kinerja bank yang dulu bernama Bank Dipo InterÂnaÂsiÂonal tahun 2011 menurun diÂbanÂdingkan 2010. Pada renÂtang periode tersebut, laba bersih Bank SaÂhabat SamÂpoerna merosot 89,5 perÂsen menjadi Rp 2,23 miliar dari Rp 22,262 miliar.
â€PeÂnuÂrunan ini karena kami sedang melakukan konsolidasi. Bersih-bersih kredit bermaÂsalah dari tahun sebeÂlumnya supaya tidak mengÂganggu pertumbuhÂan bank. Ada pemÂbentukan caÂdangan dan perÂbaikan dari kreÂdit Bank Dipo,†terang Agresius.
Rasio kredit bermasalah (NPL) bank yang diakuisisi Grup Sampoerna melalui PT Sampoerna Investama pada Mei 2011 tersebut pada akhir 2011 meningkat menjadi 3,8 persen dibandingkan posisi akhir 2010 sebesar 1,8 persen.
Sementara total aset, kredit, maupun dana pihak ketiga (DPK) Bank Sahabat SamÂpoerÂna naik dari posisi 2010 ke 2011. Hingga 2011, aset Bank SahaÂbat SamÂpoerna naik 35 persen menjadi Rp 1,1 triliun dari Rp 798 miliar pada akhir 2010. DPK melonjak 31 perÂsen menjadi Rp 811,4 miliar dari Rp 621,6 miliar.
Sementara kreÂdit tumbuh 15,04 persen menÂjadi Rp 643,4 miliar dari Rp 559,3 miliar. Untuk kredit, komÂposisinya 70 persen di sektor kredit menengah seÂmentara 30 persen di sektor mikro dan kecil.
“Tahun 2012 kami targetkan pertumbuhan terus berlanjut. Kredit kami harapkan menjadi Rp 1 triliun sementara aset meÂningkat menjadi Rp 1,2 triÂliun,†ungkap Agresius. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05
Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16