Berita

Lutfi Hasan Ishaaq

Wawancara

WAWANCARA

Lutfi Hasan Ishaaq: Kalau Suara Hati Tidak Disalurkan Bisa Stres Dan Bisulan, He-he-he...

SELASA, 01 MEI 2012 | 08:43 WIB

RMOL. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lutfi Hasan Ishaaq mengaku, partainya masih bergabung dalam Setgab parpol pendukung pemerintah. Belum ada perubahan. Masih seperti dulu.

“Setgab tidak ada yang baru se­muanya its ok. Bagaikan judul lagu; Masih seperti yang dulu,’’ kata  Lutfi Hasan Ishaaq kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:


Ah, masa nggak ada sedikit pun berubah?

Anggota Setgab sama-sama menterjemahkan kontrak politik. Kemudian ada komunikasi yang kurang lancar dalam memaknai kontrak politik. Output-nya tentu disikap secara politik juga.

Mungkin karena kesibukan se­mua pihak, sehingga terjadi ko­munikasi yang tidak intens, se­hingga out put-nya berbeda. Sete­lah itu ada pernyataan-pernyataan yang nuansanya ada yang menya­lahkan dan ada pembelaan. Ke­mu­dian diskusi itu berhenti karena itu semua kan diskusi di media. Nah baru sampai di situ. Belum ada sesuatu yang berubah dalam Setgab.


Berarti hanya gangguan ko­munikasi?

Ya. Memang ada gangguan komunikasi.  Ada intensifikasi di­alog dan pembahasan yang ber­ku­rang, sehingga menimbulkan output beda sikap politik. Tapi saya rasa masing-masing pihak sedang mengikuti perkembangan dan membaca kinerja masing-masing. Baru sampai sebatas itu.


Apakah Setgab pernah me­nge­luarkan surat tertulis me­nge­nai posisi PKS sekarang ini?

Tidak ada.


Bukannya sejumlah anggota Setgab menilai PKS sudah ke­luar?

Pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan di media bukanlah mekanisme organisasi. Kami meng­hargai statement siapapun di media sebagai sebuah ungka­pan suasana hati. Tapi itu kan bukan ungkapan organisasi. Ka­lau suasana hati siapapun dapat mengungkapkannya kepada  publik. Kalau organisasi kan ada SOP (standard operating pro­cedure).


PKS dianggap tidak mema­tu­hi butir 5 code of conduct, tang­gapan Anda?

Mengenai itu harus dibacara secara keseluruhan, bukan se­po­tong-potong begitu. Saya rasa secara organisasi, pihak-pihak pengambil keputusanmembaca secara utuh code of conduct.

Kalau hanya membacanya butir lima itu namanya suara hati. Tapi tidak semua suara hati menjadi bahan untuk mengambil keputusan organisasi. Mengambil keputusan organisasi itu pertim­banganya komprehensif. Kalau suara hati, siapa saja bisa me­nyampaikan.


PKS dianggap tidak mema­tu­hi butir 5 code of conduct, tang­gapan Anda?

Mengenai itu harus dibacara secara keseluruhan, bukan se­po­tong-potong begitu. Saya rasa secara organisasi, pihak-pihak pengambil keputusanmembaca secara utuh code of conduct.

Kalau hanya membacanya butir lima itu namanya suara hati. Tapi tidak semua suara hati menjadi bahan untuk mengambil keputusan organisasi. Mengambil keputusan organisasi itu pertim­banganya komprehensif. Kalau suara hati, siapa saja bisa me­nyampaikan.


Jika dibaca secara utuh, apa  posisi PKS masih dalam Set­gab?

Ya, silakan baca secara utuh. Saya rasa itulah yang sedang di­lakukan  para pengambil kebija­kan di Setgab. Para pengambil kebijakan di setgab itu lebih kom­prehensif  cara membacanya dan utuh.


Dalam rapat Setgab, bela­ka­ngan ini PKS tidak diundang, itu bagaimana?

Rapat-rapat itu tidak harus selalu pleno. Tergantung kepada thema yang akan dibahas. Ada kalanya yang rapat cuma ketua, ketua harian atau wakil dan se­kretaris saja, atau bisa  menteri ter­kait saja.

Bisa saja mengundang partai terkait saja karena ada urusan dengan kementerian dengan ini dengan itu. Ada sekian jenis rapat yang diundang beda-beda. Itu secara organisasi bia­sa. Kami me­man­dang itu me­ka­nis­me orga­ni­sasi stan­dar yang di­la­ku­kan untuk rapat-rapat. Tidak harus semua pleno karena tergan­tung terhadap isu yang dibahas atau keputusan yang akan diambil.


 PKS diminta mundur dari Setgab, tanggapan Anda?

Kita menghargai ungkapan-ungkapan itu sebagai suara hati. Kalau disimpan, tidak diungkap­kan nanti berubah menjadi pe­nyakit. Nah untuk usia-usia ter­ten­tu itu perlu supaya lega dan plong dan enak.

Kami yang muda-muda ini mengerti tentang orang-orang tua yang memerlukan saluran untuk melepaskan suasana hati ke pu­blik, tetapi itu bukan ungkapan organisasi.

Pernyataan-pernyataan yang bukan dari pengambil kebijak­kan, itu hanya suara hati  dan itu kami hargai. Kalau suara hati tidak di salurkan bisa stres, de­presi, dan bisulan, he-he-he.

Memang mengeluarkan suara hati itu untuk mengendorkan surat syaraf, itu perlu untuk usia-usia tertentu, itu hak segala bangsa. Mudah-mudahan dengan terekspresinyakannya suara hati menjadi sehat semua secara fisik karena tidak lagi depresi, jengkel, kesel, itu kami menghargai. Ka­rena memang kita memerlukan kesehatan fisik yang prima bagi para politisi kita.

 

PKS berada dalam Setgab, kenapa terkadang lebih kritis ke­timbang parpol yang oposisi?

Saya rasa kalau oposisi, kekri­tisanya untuk menjatuhkan. Tapi kalau mitra koalisi kekritisannya untuk kebaikan bersama. Justru kalau dibiarkan dalam beberapa situasi sebagai mitra koalisi tidak memberi masukan dan tanggapan malah nanti bisa kontra produktif.  Makanya kita memberikan pan­dangan-pandangan yang kompre­hensif  supaya bisa menjadi ba­han pengambilan kebijakan. Ka­lau bisa dilakukan secara tertutup, sebisa mungkin kita lakukan se­cara tertutup. Tidak sampai ke public. Tapi kalau tidak ada space  untuk menyampaikan secara ter­tutup, kita sampaikanlah se­cara terbuka. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya