Berita

ilustrasi, ujian nasional (UN)

Bisnis

Wah, Laporan Kebocoran Ujian Nasional Makin Sulit Ditelusuri

SELASA, 01 MEI 2012 | 08:12 WIB

RMOL.Indonesian Coruption Watch (ICW) menuding Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh tidak serius menanggapi laporan masyarakat soal kecurangan pelaksanaan ujian nasional (UN) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Menyusul laporan ICW soal ujian nasional (UN) ini, Kemen­terian Pen­di­d­i­kan dan Kebu­da­yaan (Ke­men­dik­bud) masih ter­kesan enggan me­nang­ga­pi­nya. Ala­sannya, lapo­ran­nya ma­sih bu­tuh waktu pe­n­da­laman.

“Kami tidak bisa memastikan de­ngan cepat. Semua harus berta­hap. Laporan ini kami terima dari Puspendik dan akan diputuskan lewat sidang pleno BSNP,” ucap anggota Badan Standarisasi Na­sional Pendidikan (BSNP), Teuku Ramli Zakaria di Gedung Ke­men­dikbud, Jakarta, Jumat (27/4).

Dia mengakui, proses pen­da­laman laporan kecurangan UN ini butuh waktu panjang. Hal ini se­kaligus juga  untuk mengetahui apakah pola jawaban siswa  se­suai dengan pola UN di tempat tersebut.   

Akibatnya, ICW pun menu­ding Kemendikbud tak serius me­nanggapi laporan kecurangan pelaksanaan UN tingkat SMP. “Jika kementerian serius sedikit saja, pasti dapat bukti terjadinya kecurangan,” kata Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Pub­lik ICW Febri Hendri.

Dia menuding, posko yang dibentuk pemerintah untuk me­nam­pung laporan masyarakat terkait kecurangan pelaksanaan UN tidak dimanfaatkan secara opti­mal. “Posko bukan meng­ung­kap ke­curangan, tapi menu­tupi,” cetus.

Sementara itu, pengamat pen­didikan Darmaningtyas mengata­kan, pelaksanaan UN belum da­pat menjawab berbagai persoalan terkait peningkatan mutu pen­di­dikan nasional karena fokus pada unsur pengamanan berlebihan.

“Pengawasan terlalu ketat da­lam pelaksanaan UN ini tanpa di­sadari telah menanamkan bibit ke­tidakpercayaan terhadap guru dan murid,” ungkap Darma­ning­tyas kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, pelaksanaan UN ini merupakan bentuk kebijakan bohong yang dilakukan negara ter­hadap dunia pendidikan. Ala­sannya, pelaksanaan UN telah mengabaikan hasil ujian sekolah. 

“Meski ujian di sekolah itu ber­peran dalam memberi kontribusi kelulusan, tetap saja hasil akhir UN yang ke­mudian menjadi pe­nentu kelulu­san,” ujarnya.

Anggota Komisi X DPR Rai­han Iskandar mengatakan, pelak­sa­­naan UN dari tahun ke tahun le­bih mengedepankan pen­de­ka­tan ke­amanan sehingga siswa cen­derung tidak percaya diri. Penga­wa­sannya sangat ber­lebihan.

“Ketika proses pendidikan di­awasi polisi, padahal adalah tugas guru, mereka yang harus di­ta­namkan pendidikan karak­te­r­nya untuk mengajarkan kejujuran dan bukan kemudian peng­aman­an diserahkan kepada polisi,” katanya.

Menanggapi hal tersebut pun, Menteri Pendidikan dan Kebu­dayaan (Mendikbud) Muham­mad Nuh tetap bersikukuh me­nga­takan, tetap tidak adanya ke­bo­coran soal pada pelaksanaan ujian nasional tahun ini. Ber­da­sarkan fakta di lapangan, katanya, tidak ada bukti kebocoran soal atau­pun kunci jawaban.

“Kebocoran soal hanyalah isu dan masih bersifat persepsi. Se­mentara Kemendikbud tidak be­kerja berdasarkan persepsi, me­lainkan data faktual di lapangan. Adapun data faktual tersebut me­li­puti lokasi sekolah dan kunci ja­waban apa yang disebarkan,” ucap Nuh.

Seperti diketahui sebelumnya, ICW bersama Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mene­rima kunci jawaban untuk mata ujian Matematika (SMP) pada Selasa 24 April 2012. Akurasi dari kunci ja­waban yang bocor juga dika­takan Febri cukup ting­gi, yakni lebih dari 60 persen. Inilah yang mem­­buat­nya yakin jika kebocoran UN ber­langsung. [Harian Rakyat Merdeka]

 


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya