ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan peÂnanaman modal asing (PMA) pada kuartal I-2012 sebesar Rp 71,2 triliun atau naik sebesar 32,8 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai Rp 52,6 triliun. InvesÂtasi kuartal pertama tahun ini dengan rincian, terdiri dari PMÂDN Rp 19,7 triliun (naik 39,7 persen) yang sebelumnya Rp 14 triliun. Sedangkan untuk PMA Rp 51,5 triliun (naik 30,4 persen dari periode yang sama tahun 2011 sebesar Rp 39,5 triliun.
Dari data tersebut, terlihat bahwa investasi PMDN dan PMA naik dibandingkan dengan triÂwulan pertama tahun lalu.
Deputi Bidang Pengendalian dan PelakÂsanaan Penanaman Modal Azhar Lubis mengatakan, kenaikan inÂvesÂtasi tersebut meÂnanÂdakan investor dalam dan luar negeri tertarik dengan kebijaÂkan-kebijakan pemerintah yang mulai pro investor.
“Tentunya, kita memerlukan siknronisasi kebijakan dari peÂmerintah pusat dan daerah agar bisa berjalan dengan baik dan makÂsimal,†ucapnya saat dihuÂbungi Rakyat Merdeka, kemarin.
Azhar menambahkan, dengan kenaikan investasi tersebut, apaÂbila proyek-proyek selesai dan mulai berproduksi secara koÂmersil, akan meningkatkan proÂdukÂsi barang dan jasa. Termasuk, juga menumÂbuh kemÂbangkan kegiatan-keÂgiatan peÂnunjang atau menyerap tenaga kerja baru. “Serta mendoÂrong perekonomian di daerah luar Jawa. Hal ini mengingat sekitar 44 persen investasi tersebut berÂlokasi di luar jawa. Diharapkan, kenaikan investasi ini akan tetap berlanjut,†ujarnya.
Ketika ditanya mengenai maÂsih kecilnya efek investasi terhaÂdap sektor riil, Azhar tidak setuju akan hal itu. Menurutnya, angka Rp 712 triliun adalah realisasi investasi langsung ke sektor riil. Bukan yang di pasar modal (indirect investment).
“Kalau dari data BKPM selalu direct invesment atau investasi untuk membangun pabrik, infraÂstruktur, hotel, perkebunan dan industri pengolahan serta perÂtambaÂngan. Nah itu kan sudah merupaÂkan sektor riil,†tegasnya.
Dia menjelaskan, semua negara baik negara berkembang maupun negara maju, termasuk Indonesia membutuhkan invesÂtasi.
Azhar mencontohkan kunÂjungan Perdana Menteri Inggris David Cameron beberapa waktu yang lalu, yang mengÂharapÂkan penguÂsaha Indonesia berinvestasi di Inggris. “Karena investasi diperluÂkan mengubah poÂtensi menjadi kegiatan ekoÂnomi riil yang mamÂpu mengÂhasilÂkan baÂrang dan jasa,†tuÂturÂnya.
Tanpa ada kegiatan investasi, kata dia, potensi yang ada hanya sebatas potensi. Tidak pernah menjadi ekonomi riil. Investasi juga sangat dibutuhkan Indonesia untuk mempercepat pembanguÂnan infrastruktur pengolahan atau hiliÂrisasi produk agro dan tamÂbang, yang mampu mengÂhasilkan nilai tambah serta juga menyerap teÂnaga kerja. “Juga menumbuh kemÂbangkan industri-industri dan industri pengolahan lanjuÂtan,†tukasnya.
Di samping itu, kegiatan inÂvestasi yang meningkat di masa depan harus didukung infraÂstrukÂtur yang baik.
“Untuk itu, keterÂlibatan peÂrusahaan-perusaÂhaan BUMN dalam pembangunan infraÂstrukÂtur juga sangat diharapÂkan,†tutupnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39