ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Berhati-hatilah bagi Anda yang tinggal di perkotaan. Tekanan hidup yang begitu tinggi seringkali memicu frustasi dan depresi yang begitu hebat. Mereka yang tidak mampu mengatasinya bisa mengalami sindrom bipolar alias gangguan jiwa.
Ketua Seksi Bipolar PerhimÂpunan Dokter Spesialis KeÂdokÂteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr Handoko Daeng SpKJ (K) meÂngemukakan, sebagian besar penderita gangguan bipolar atau gangguan jiwa yang antara lain ditandai perubahan perasaan yang tidak menentu.
Anehnya, kejadian tersebut secara tiba-tiba justru bisa meÂnyeÂrang orang berpendidikan tingÂgi dan memiliki jabatan tinggi dalam pekerjaan. Ia menconÂtohÂkan, pelukis terkenal Vincent van Gogh, novelis Ernest HemingÂway dan Sidney Sheldon, serta penyanyi Sinead O’Connor adaÂlah penderita gangguan bipolar.
Menurut dia, orang yang punya gangguan bipolar biasanya sangat berani mengambil risiko berpikir out of the box atau di luar dari kebiasaan berpikir orang normal. “Mereka bisa melahirkan ide-ide aneh, yang menurut kita tidak bisa, mereka bisa melakukannya. Bila tidak sukses, ya akhirnya meÂreka jatuh,†cetusnya dalam Seminar Media Gangguan BipoÂlar: Dapatkah Dikendalikan? di JaÂkarta, Rabu (25/4).
Kepala Departemen Psikiatri FKUI/RSCM dr Ayu Agung Kusumawardhani SpKJ mengÂakui, kasus bipolar banyak diteÂmukan pada orang-orang yang tingkat pendidikan dan ekoÂnominya tinggi. Namun, bukan berarti orang-orang yang berada di kelas bawah terhindar dari gangguan ini.
“Hanya saja kebanyakan orang kelas bawah lebih mampu meÂnanganinya dengan bersikap leÂbih pasrah dan bersabar. BerÂbeda deÂngan orang menengah atas yang cenderung tidak sabar dan mengÂÂinginkan perubahan cepat. Ini jusÂtru menyulitkan mereka,†cetusnya.
Gangguan bipolar sendiri, lanÂjutnya, merupakan gangguan jiÂwa yang bersifat berulang dalam rentang waktu tertentu dan ditanÂdai gejala-gejala perubahan mood. Gangguan ini biasanya berÂlangÂsung selama seumur hidup.
Orang yang mengalami gangÂguan bipolar ini tidak bisa semÂbuh total. Tapi, jika dilakukan peÂrawatan dan pengobatan yang teÂpat, gangguan ini akan bisa menÂjadi tidak timbul kekambuhan.
Gangguan biasanya rekuren serta berlangsung seumur hidup. Ada lima mood state pada gangÂguan ini, yaitu depresi, campuran, eutimia, manik, dan hipomanik. “Perubahan mood bisa juga terjadi sangat cepat pada penÂdeÂrita gangguan ini,†jelasnya.
Dijelaskannya, penyebab terÂjaÂÂdinya gangguan ini meliputi fakÂtor genetik, biologi otak, serta peÂristiwa-peristiwa kehidupan dan keadaan lingkungan yang meÂnimÂbulkan stres (stresor psikososial).
“Stres psikososial menyeÂbabkan perubahan dalam sistem biologik otak manusia sebagai upaya adaptasi yang diawali peÂrubahan sistem hormonal yang kemudian mempengaruhi zat kimia alami otak, zat-zat penting lainnya dalam otak, dan sel-sel saraf otak,†imbuhnya.
Perwakilan Majelis KehorÂmatan Profesi PDSKJI Prof. Dr. Tuti Wahmurti A. Sapiie (SpKJ(K) menambahkan, kerenÂtanan geÂnetik dapat menentukan daya tahan jiwa seseorang terÂhadap depresi yang dialaminya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39