Berita

Kombes Pol Anton Castilani

Wawancara

WAWANCARA

Kombes Pol Anton Castilani: Kami Khawatir Timbulkan Polemik Bila Luka Tembak 3 TKI Dipublikasi

SABTU, 28 APRIL 2012 | 09:50 WIB

RMOL. Markas Besar Polri menyimpulkan tidak ada pencurian organ tubuh  tiga jenazah Tenaga Kerja Indonesia  yang ditembak mati Kepolisian Diraja Malaysia.

Kesimpulan tersebut didapat­kan setelah otopsi ulang yang di­lakukan Tim Kedokteran Foren­sik Mabes Polri bersama Tim Fakultas Kedokteran Universitas Mataram.

“Dari hasil otopsi tidak ada organ tubuh yang hilang,’’ kata  Kepala Bidang Dokter Kesehatan Polri, Kombes Pol Anton Casti­lani, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui, tiga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal NTB meninggal  di Malaysia. Ketiga­nya adalah Herman, Abdul Kadir Jaelani, dan Mad Noon. Mereka dipulangkan dari Malaysia, 5 April lalu.

Mereka ditembak Polisi Diraja Malaysia karena diduga melaku­kan tindak pidana dan melawan aparat. Anehnya, tubuh para TKI itu pulang penuh dengan bekas jahitan di sekujur tubuh dan mata, sehingga muncul dugaan adanya penjualan organ tubuh ketiga TKI tersebut.

Anton Castilani selanjutnya mengatakan,  otopsi yang dilaku­kan Malaysia sesuai prosedur dan tidak ada organ-organ yang hi­lang dari tubuh tiga TKI tersebut.

Berikut kutipan selengkapnya:


Dari otopsi jenazah tiga TKI, berapa luka tembakan di tubuh mereka?

Belum bisa kita rilis. Sebab, ini masih dalam penyelidikan. Kami khawatir menimbulkan polemik kalau luka tembak 3 TKI dipu­blikasikan. Lagipula itu adalah kewenangan penyidik, saya tidak boleh ngomong masalah ini.

Kami dari tim kesehatan Polri diminta melakukan otopsi atas permintaan penyidik. Kami mengembalikan lagi informasi yang kami peroleh dari kegiatan-kegiatan kami kepada penyidik.


Dari otopsi tersebut apakah ada organ tubuh yang hilang?

Nggak ada yang hi­lang. Itu nggak benar mengenai adanya organ yang hilang.


Bagaimana  mata­nya, karena me­nu­rut pengakuan keluarga salah satu jenazah TKI bagian itu hilang?

Bagian mata juga lengkap


O ya, otopsi bagian mata apa­­kah memang biasa dijahit se­telah otopsi?

Itu tergantung. Kalau memang ada hal-hal yang mencurigakan di dalam mata, sehingga perlu dijahit kalau sudah dibuka.Saya kira salah satu dari jenazah itu kan menderita luka tembak di muka. Bukan karena sengaja dijahit matanya.


Kalau kepala yang terbelah-belah dan dijahit, apa­ sudah biasa dalam otopsi?

Ya. Kalau nggak dijahit, ya kasihan dong lukanya.


Kalau keterangan ditemu­kan­nya plastik dan alat-alat ke­dok­teran dalam tubuh jenazah, apa itu benar?

Ah, nggak benar itu. Jenazah itu kan sudah di-formalin. Kalau dibiarkan seperti itu akan cair berantakan. Makanya ditaruh dalam wadah. Baru dimasukan ke dalam kepala daripada  beranta­kan, karena otak kan mencair. Memang itu prosedur normal. Prosedur universal dalam otopsi.

Pada waktu pengembalian, demi menjaga kosmetika, maka biasanya ditambahkan kapas, plastik, apapun supaya keliha­tan rapi kembali. Itu adalah prin­sip otopsi, sehingga saat mengem­balikan jenazah dalam keadaan rapi.


Kenapa pihak Malaysia mela­kukan otopsi, tapi belum men­da­pat izin keluarga, apa itu bisa?

Untuk kasus yang dalam pe­nyidikan, memang tidak perlu meminta ijin keluarga untuk melakukan suatu otopsi.


Otopsi di Malaysia itu wajar begitu?

Ya. Sebab, itu kan tindak pidana.


Otopsi di Malaysia itu wajar begitu?

Ya. Sebab, itu kan tindak pidana.


Apa Polri meminta hasil otop­si yang dilakukan Malaysia untuk melengkapi penyelidi­kan?

Ini kan dalam proses penyidi­kan. Itu  dilakukan bekerja sama dengan Kementerian Luar Ne­geri, termasuk di dalamnya atase kepolisian kita yang ada di Ma­laysia. Tetapi keterangan leng­kap­nya dapat ditanyakan kepada penyidik.


Apa jenazah sudah di­kem­bali­kan ke keluarga atau akan di­ta­han sampai penye­lidi­kan selesai?

Saya kira sudah dikembalikan dan langsung dimakamkan kem­bali.


O ya, kenapa otopsi lebih se­hari?

Nggak bisa buru-buru. Maka­nya tidak bisa selesai dalam satu hari, karena memang tidak ke­buru. Saya kira waktunya normal seperti itu karena mengotopsi tiga jenazah. Ini memang butuh waktu.


Apakah biasanya memang membutuhkan waktu lama untuk otopsi?

Tergantung. Sama saja kalau orang operasi, bisa 15 menit. Bisa 15 jam. Untuk otopsi juga begitu. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

KPK Panggil 13 Saksi Kasus Mantan Wamen Imipas Silmy Karim

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:22

Gugatan PT KSS, Ahli Nilai Keputusan Kemenhub Timbulkan Konsekuensi Hukum

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:21

Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:12

Laporan HAM PBB Sebut Israel Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:01

Jakarta 499 Tahun: Birokrasi Modern Belum Cukup Tanpa Perspektif HAM.

Rabu, 24 Juni 2026 | 12:00

BKKBN: 8,1 Juta Keluarga di Indonesia Berisiko Stunting

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:41

Kisah Mantri Perempuan BRI Tempuh Pegunungan Toraja untuk Layani Nasabah di Wilayah 3T

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:29

Konbes–Munas NU Ploso Diwarnai Aksi Intimidasi dan Motif Kepentingan Pribadi

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:28

Prabowo Dianugerahi Lencana Emas Adi Bakti Tani-Nelayan Maha Utama

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:24

KPK Panggil Mulyono di Kasus Suap Bupati Muara Enim Edison

Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18

Selengkapnya