ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Ketua Umum Himpunan KeruÂkunan Tani Indonesia (HKTI) Oesman Sapta menyatakan, hingga kini program ketahanan paÂngan belum berjalan baik. PaÂsalnya, Indonesia masih melaÂkukan impor dengan skala yang begitu besar.
Seperti diketahui, pemerintah menÂcanangkan program ketaÂhanan pangan dengan cara meÂningÂkatkan produktivitas komoÂditas dalam negeri.
“Kalau sudah tercapai (ketaÂhaÂnan pangan) kita nggak akan imÂpor sebanyak 16 miliar dolar AS per tahun, itu ukurannya. Katanya beÂras kita cukup, kok kita impor teÂrus menerus, ini kan menjadi tanÂda tanya,†ujar Oesman saat Ulang Tahun HKTI ke-39 di Jakarta, kemarin.
Padahal di Sulawesi Selatan produksi beras mengalami surÂplus sekitar 2 jota ton per tahun. KuaÂlitasnya pun sangat bagus, tetapi dengan peraturan pemeÂrinÂtah yang melarang untuk ekspor, tidak akan membantu petani di sana.
Oesman menyarankan perluÂnya dibentuk sistem untuk memÂbenahi pertanian di Indonesia, yaitu dengan program 5 S yakni StraÂtegi, Struktur, Skill, Sistem, Speed, termasuk di dalamnya TarÂget. Selama lima tahun ke deÂpan, pemerintah harus memiÂliki targetn apa yang harus diberikan kepada petani di Indonesia.
Dia berharap itu dikembangÂkan lagi untuk semua produksi lainÂnya seperti beras. Pasalnya, ada wiÂlayah yang mampu memÂproÂduksi beras sampai 4-8 ton bahÂkan ada yang mencapai 12 ton.
Di tempat yang sama, Ketua Harian HKTI Sutrisno Iwantono mengatakan, ada perbedaan antara ketahanan pangan dan kedaulatan pangan. Menurutnya, konsep ketahanan pangan adalah terseÂdiaÂnya pangan dalam jumÂlah, waktu, lokasi, harga yang teÂpat. Tidak peduli dari mana asalnya apakah dari dalam negeri atau impor.
Sementara konsep kedaulatan pangan adalah kebutuhan pangan dalam negeri tersebut selain harus tersedia dalam jumlah, waktu, lokasi dan harga yang tepat, juga harus dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Menurut Sutrisno, konsep keÂdaulatan pangan ini sangat penting karena selain Indonesia tidak keÂhilangan devisa untuk mengimpor pangan, juga menÂjaÂdikan Indonesia tidak tergantung kepada negara lain dan dapat meningkatkan keseÂjahÂteraan petani.
Saat ini impor produk pangan Indonesia sangat tinggi. Bahkan untuk komoditas beras sebeÂnarÂnya produksinya sudah menÂcuÂkupi tetapi tetap impor. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39