ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Angka kemiskinan di daerah diperkirakan makin sulit ditekan menyusul makin banyaknya tumpang tindih aturan kebijakan antara pusat dan daerah.
Wakil Presiden BoeÂdiono meÂniÂlai peÂlakÂsanaan desentralisasi otoÂnomi daerah masih tumpang tinÂdih, dan beberapa kebijakan daerah justru masih tabrakan deÂngan kebiÂjakan di pemerintah pusat sehingga perlu ada perÂbaikan regulasi secepatnya.
“Kalau mau jujur masih baÂnyak hal yang belum pas antara pengelola di pusat dan daerah dan kita harus jujur untuk mengakui hal itu,†katanya saat membuka peÂringatan Hari Otonomi Daerah ke-16 di Jakarta, kemarin.
Sementara itu, Gerakan PeÂmuÂda (GP) Ansor berjanji akan meÂngÂambil peran aktif mengenÂtaskan kemiskinan. Hal ini akan diwujudkan dengan melakukan membuka lembaga kursus dan pelatihan ketrampilan di seluruh wilayah Indonesia.
â€Untuk tahun pertama kita menargetkan bisa melatih sekitar 500 anggota Ansor dan maÂsyaÂrakat umum,’’ kata Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Nusron WaÂhid di Kramat Raya Jakarta, Selasa (24/4) malam.
Nusron menarÂgetkan, pada tahun ini bisa mendirikan 72 titik peÂlatihan dan kursus di Pulau Jawa. Sedangkan paÂda pengÂhujung peÂriode kepenguÂruÂsannya pada 2016, dia menargetkan seÂtiap pengurus anak cabang AnÂsor memiliki satu lembaga kurÂsus. Langkah ini diharapkan bias mengurangi angka kemiskinan.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) 2011, kata Nusron, saat ini jumlah pendidikan berstatus misÂkin dan hampir miskin sebanyak 78 juta. Dari jumlah tersebut, 68 perÂsen berada di wilayah Jawa. LaÂlu dari sebaran di Pulau Jawa, Nusron menyebutkan 73 perÂsennya berada di pedesaan.
â€Kami hampir yakin, mereka yang masuk kategori miskin dan hampir miskin itu adalah warga kami, yakni Ansor dan NU,’’ ujarnya.
Menurut Boediono, sumber peÂnyebab masih tumpang tinÂdihnya desentralisasi pelaksanaan otda antara lain belum dijabarkannya secara cermat dan rinci mengenai keÂwenangan dan tanggung jawab serta hak dan kewajiban antara pusat dan daerah.
Tumpang tindih peraturan baik dari Kementerian, Peraturan PuÂsat maupun Peraturan Daerah kini jadi persoalan yang menghambat pengemÂbangÂan dunia usaha dan perekoÂnoÂmian nasional. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) meÂnilai, banyaknya aturan yang tumÂpang tindih itu lebih diseÂbabÂkan karena masih kuatnya ego sektoral masing-maÂsing bidang. “Peraturan yang diÂbuÂat sudah banyak mengÂakomodir kepenÂtingan dunia usaha, hanya saja saat pelakÂsanaan banyak yang tidak sesuai karena banyak yaÂng tumpah tindih,†ujar Wakil Ketua Umum Kadin BiÂdang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39