ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Pemerintah diminta segera percepat progres konversi bahan bakar minyak (BBM) ke gas. Hal itu untuk menekan ketergantungan masyarakat akan BBM.
Wakil Direktur Reforminer Institute Komaidi Notonegoro meÂnyatakan, cadangan minyak IndoÂnesia akan habis 12 tahun lagi. Jika tetap tergantung pada BBM, impor akan semakin tinggi.
“Karenanya program konversi harus digalakkan. Pemerintah jangan omong doang (omdo). MesÂÂki program itu memakan wakÂtu, pemerintah harus mereaÂlisasikannya,†katanya.
Dia juga mengusulkan pemeÂrintah untuk mensubsidi harga gas guna menarik investor. SeÂbab, selama selisih harga gas dan premium kecil maka konversi akan sulit dilakukan.
Sementara ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Anggito Abimanyu juga mengatakan hal sama. Menurutnya, untuk menekan kuota BBM dan menÂjaga APBN, pemerintah harus mempercepat program konversi ke gas. “Konversi ke gas harus dilakukan bertahap agar keterÂganÂtungan kepada BBM meÂnurun,†jelasÂnya.
Lebih lanjut, Komaidi menangÂgapi pembatalan pembatasan BBM subsidi 1 Mei mendatang. Menurutnya, dengan diundurÂkanÂnya kembali rencana pembatasan BBM semakin memperlihatkan koorÂdinasi menteri-menteri biÂdang ekonomi tidak kompak dan berjalan sendiri.
Ia juga menyindir alasan pemeÂrinÂtah menunda pembatasan BBM subsidi karena belum siap. Jika memang serius, pemerintah tingÂgal mematangkan konsep yang sudah dipersiapkan sejak lama itu. Apalagi, sebelumnya pemeÂrintah juga berencana melaÂkuÂkan pembatasan pada 2011 tapi terÂtunda dengan alasan yang saÂma, infrastrukturnya belum siap.
Sementara pihak Pertamina mengÂungkapkan perÂmintaan gas domestik diperÂkirakan terus meÂningkat peÂsat terkait dengan seÂmakin baÂnyakÂnya infrastruktur penerima LNG dan pipa transportasi gas.
Direktur Gas Pertamina Hari Karyuliarto mengatakan, perÂminÂtaan gas domestik pada 2009 sekitar 3.500 MMSCFD (Million Metric Standard Cubic Feet per Da) pada 2009 menjadi 4.700 MMSCFD pada 2015.
Menurut dia, peningkatan perÂmintaan itu dipicu oleh program peÂmerintah untuk merevitalisasi pabrik pupuk guna meningkatkan keÂtahanan pangan, optimalisasi peÂmanfaatan gas bumi untuk pemÂÂbangkit listrik, permintaan bahan baku industri, serta proÂgram konversi BBM ke bahan bakar gas untuk transportasi dan rumah tangga.
“Pertamina siap menjadi backÂbone bagi upaya pemenuhan keÂbuÂtuhan gas tersebut dengan memÂÂpercepat pembangunan infraÂstrukÂtur gas bumi nasional,†ujar Hari.
Selain itu, meningkatnya perÂmintaan juga dipengaruhi dengan terus menurunnya tingkat proÂduksi minyak dan kenaikan harga miÂnyak mentah dunia yang menÂdorong peningkatan harga proÂduknya. Dengan harga gas bumi yang relatif lebih murah, banyak konsumen dalam negeri yang beralih ke gas.
Lebih lanjut, kata dia, PertaÂmina dalam jangka pendek segera menyelesaikan beberapa proyek inÂfrastruktur LNG nasional, di antaranya modifikasi kilang LNG Arun menjadi terminal penerima berikut pipa transmisinya dari Aceh ke Sumatera Utara, jaringan Integrated Trans Java Pipeline dan beberapa terminal penerima LNG mini di sembilan titik untuk kebutuhan pembangkit listrik PLN di Kawasan Timur Indonesia.
Menurut Hari, pengiriman perdana LNG dari Bontang untuk pasar domestik merupakan tonggak sejarah penting bagi Pertamina, dan Indonesia dalam upaya pemenuhan kebutuhan gas domestik. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39