ilustrasi, sms mama minta pulsa
ilustrasi, sms mama minta pulsa
RMOL.Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenÂkomÂinfo) sedang menggodok aturan pemblokiran nomor telepon yang mengirim pesan singkat (SMS) salah alamat atau sengaja disebar seÂcara acak. Aturan ini berguna untuk memblokir SMS sampah (SMS spam) yang banyak dikeÂluhkan oleh pengguna ponsel.
Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat KeÂmenÂkomÂinfo Gatot S Dewa Broto menÂjelaskan, aturan tersebut bakal dimasukkan ke revisi PeraÂturan Menteri (Permen) Nomor 1/2009 tentang Layanan Pesan SingÂkat dan Jasa Pesan Premium.
“Saat ini memang ada pengaÂduan masyarakat tentang SMS nyasar (SMS spam) tersebut. Bila terbukti merugikan, kami akan mengÂuÂsulkan aturan tersebut masuk revisi Permen Nomor 1/2009. Sanksinya, operator akan bisa langsung memÂblokir nomor telepon pengirim SMS spam tersebut,†ujar Gatot kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Jenis SMS spam tersebut miÂsalnya “Mama Minta Pulsaâ€, SMS berupa penawaran kredit tanpa agunan (KTA), ataupun penawaran-penawaran lain yang mengganggu pengguna. Hingga kini, SMS spam masih marak dikeluhkan masyarakat.
Dijelaskan Gatot, bila pengÂguna merasa dirugikan, SMS dikirim berulang-ulang dan tidak jelas siapa pengirimnya, maka pengÂguna bisa mengadukan hal itu ke Badan Regulasi TeleÂkoÂmuÂnikasi Indonesia (BRTI).“Nanti operator yang akan memÂblokir,†cetusnya.
Dengan masuknya aturan SMS spam ke revisi Peraturan Menteri Nomor 1/2009, setiÂdakÂnya hak konsumen untuk meneÂrima SMS secara benar bisa diÂteÂrapkan. Pengguna yang mengirim SMS spam juga bisa ditindak. “Revisi Peraturan Menteri itu ramÂpung satu bulan lagi, dan seÂminggu kemudian akan disahÂkan oleh Menkominfo. Peraturan MenÂteri Nomor 1/2009 ini juga meÂngaÂtur tentang sedot pulsa yang selama ini meresahkan masyarakat,†janjinya.
Dihubungi terpisah, Ketua PeÂngurus Harian YLKI SuÂdarÂyatmo menyambut baik aturan tersebut. Apalagi selama ini, fungsi dan wewenang dalam penataan dan pengawasan terÂhadap SMS spam yang ada masih terkesan lemah. Terlebih lagi, Bareskim dan BRTI hanya akan melakukan tindakan jika peÂngaduan yang disampaikan seÂmakin banyak. “Tindakan perlu dilakukan jika meÂmang terbukti ada hal-hal yang dilanggar. Ini kok malah nunggu banyak dulu, mau baÂnyaknya itu seberapa?†kritik SuÂdaryatmo kepada Rakyat Merdeka.
Sebab, menurutnya, daya komÂÂplain masyarakat Indonesia yang maÂsih tergolong rendah, memicu beÂberapa masyarakat masih engÂgan melakukan pengaduan terÂutama untuk melaporkannya ke polisi. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39