ilustrasi, Industri Kosmetik
ilustrasi, Industri Kosmetik
RMOL. Kementerian Perindustrian (KeÂmenperin) meminta industri koÂmestik dan produk herbal meÂngurangi ketergantungan terÂhadap bahan baku impor dan meÂwaspadai serbuan produk-produk dari China
“Saat ini bahan baku impor unÂtuk industri komestik dan produk herÂbal mencapai 50 persen dari keÂbutuhan bahan baku,†ujar MenÂteri Perindustrian (MenÂperin) MS Hidayat saat peletakan batu pertama pembangunan pabrik PT Martina Berto Tbk di Cikarang, kemarin.
Menurut dia, salah satu penyeÂbab tingginya impor akibat miÂnimÂnya penyediaan bahan baku loÂkal yang berkualitas dan meÂmenuhi standar. Kondisi itu yang menyebabkan Indonesia masih ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Padahal Indonesia merupakan negara penghasil obat, kosmetik dan aromatik nomor dua di dunia. Karena itu, Kemenperin terus melakukan riset dan pengemÂbaÂngan teknologi yang dapat mengÂhasilkan bahan baku yang berÂkuaÂlitas dan standar.
Hidayat mengatakan, saat ini omzet industri komestik nasional mencapai Rp 7 triliun, sedangkan produk herbal nasional Rp 11 triliun pada 2011.
Namun, dia mengakui, dengan besarnya pangsa pasar komestik dan jamu di Indonesia, pelaku industri patut mewaspadai serÂbuan produk komestik dan proÂduk herbal dari China. Apalagi serbuan produk ilegal juga tinggi.
“Kami juga akan terus menÂciptakan iklim usaha yang konÂdusif agar industri produk herbal dan komestik bisa bersaing deÂngan produk impor,†janjinya.
Di tempat yang sama, Direktur Utama PT Martina Berto Tbk Bryan Tilaar mengaku pihaknya maÂsih mengimpor bahan baku unÂtuk komestik meski jumlahnya tidak banyak. Sedangkan untuk baÂhan baku produk herbalnya suÂdah 100 persen dari dalam negeri.
Menurut Bryan, pada 2011 penÂjualan produk jamu dan koÂmestik perseroaan meningkat 80,79 persen dan 10,80 persen. SeÂmentara penjualan produk jaÂmu dan kosmetik pada 2010 maÂsing-masing sebesar Rp 7,148 juta dan Rp 546,107 juta.
Dituturkan, pada 2010, produk jamu baru berkontribusi 1,3 persen dari total penjualan perÂseroan, sedangkan 2011 produk jamu berhasil meningkatÂkan kontribusi dua persen.
Untuk meningkatkan produksi, pihaknya juga membangun paÂbrik obat tradisional senilai inÂvestasi Rp 44 miliar.
“Pabrik ini direncanakan seÂlesai dalam waktu 10 bulan dan akan beroperasi pada kuartal kedua 2013,†ujar Bryan.
Pabrik yang akan dibangun di areal seluas 9,5 hektar itu akan menggunakan cara pembuatan obat tardisional yang baik (CPOTB) terbaru. Pabrik ini juga menerapkan konsep green facÂstory (ramah lingkungan).
Dari luas 9,5 hektar itu, 6,5 hektar akan digunakan untuk bangunan dan pabrik, sisanya akan digunakan untuk Kampoeng Djamoe Organik (Kado). [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39