Berita

ilustrasi/ist

Bisnis

Ekspor Listrik ke Negeri Jiran Nggak Masuk Akal

Pemerintah Didesak Maksimalkan Penyerapan Gas Domestik
SENIN, 23 APRIL 2012 | 08:25 WIB

RMOL.Rencana PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang ingin menjual listrik ke Malaysia mengundang reaksi tajam. PLN diminta fokus dulu dalam pemenuhan pasokan listrik dalam negeri.

Anggota Komisi VII Dewi Ariani mengatakan, jual beli lis­trik dengan Malaysia yang di­rencanakan pada 2017 tidak ada bagusnya. Menurutnya, ekspor listrik makin tidak masuk akal dilakukan jika rasio elektrifikasi dalam negeri sendiri masih se­batas lampunisasi atau hanya cukup untuk penerangan.

“Esensi elektrifikasi adalah dengan listrik, pemberdayaan eko­nomi dapat berjalan dan me­miliki value dalam proses pem­bangunan ekonomi suatu wila­yah,” jelas Dewi kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, Jumat (20/4).

Terbengkalainya tata kelola listrik di Indonesia, lanjutnya, bukan merupakan kesalahan PLN semata. Hal itu terjadi akibat dari buruknya kebijakan pemerintah di sektor energi dan tidak terin­tegrasinya seluruh komponen kebijakan yang terkait.

Sebab, selama ini listrik yang menjadi pondasi perekonomian hanya dianggap enteng peme­rintah. Pemerintah tidak men­du­dukkan bahan bakar minyak (BBM) dan kelistrikan sebagai public value (nilai umum).

Dikatakan, pemerintah wajib mengatur dengan cermat dan mengutamakan listrik dan BBM untuk kepentingan masyarakat banyak. Pemenuhan suplai bahan bakar untuk pem­bangkit listrik harus menjadi per­timbangan utama dalam me­ngem­bangkan pembangkit.

Dia menyarankan agar jangan memperbanyak pembangkit de­ngan suplai BBM, melainkan harus diperbanyak berbasis batu­bara dan gas. Bahkan batubara juga harus di klasifikasikan batu­bara low calorie yang dapat di pro­­ses gasanisasi sehingga me­ngu­­rangi ongkos produksi listrik.

“Pemerintah harus segera me­mutuskan produksi gas mana yang bisa diserap PLN, dan sisa­nya bisa diekspor. Jangan terbalik diekspor dulu dan sisanya untuk PLN. Sangat lucu, kita mau ekspor tapi juga impor listrik ke Negeri Jiran,” tandas politisi PDIP itu.

Dirinya optimistis, PLN me­miliki anggaran untuk harga gas yang wajar, sehingga investor juga masih mempunyai margin yang baik. Ia mendesak pemerin­tah untuk melakukan untuk mem­perjuangkan DMO (Domestic Market Obligation) gas lebih utama daripada EMO (Export Market Obligation).

Setali tiga uang, pengamat ke­listrikan Febby Tumiwa mengim­bau PLN agar memperhatikan pasokan listrik dalam negeri dulu sebelum mengekspor listrik ke Negeri Jiran.

Selain itu, dia meminta agar PLN berkoordinasi dengan pihak terkait dalam meningkatkan rasio elektrifikasi di seluruh wilayah Indonesia, khususnya kawasan Indonesia Timur. Sebab, rasio elektrifikasi di kawasan ini masih di bawah 50 persen.

Pekerjaan rumah tersebut harus dipikul bersamaan dengan Pe­merintah Daerah (Pemda), peme­rintah Pusat (Pempus) dan Ke­menterian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Pemerintah sebaiknya mela­kukan kontrak jual beli listrik dalam jangka pendek. Sebab, hal ini harus disesuaikan dengan pembangkit listrik di wilayah terkait serta bertambahnya beban listrik di kemudian hari,” jelas Febby kepada Rakyat Merdeka.

Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwi­yanto mengaku rencana ekspor listrik ke Malaysia baru sebatas wacana, belum ada perjanjian apapun. Pihaknya memastikan,  pada 2017, pasokan listrik di Sumatera akan mengalami sur­plus seiring dibangunnya pem­bangkit baru yang berkapasitas 3000 Megawatt.

“Saat ini, rasio elektrifikasi tetap kita tingkatkan. Karena itu juga merupakan persyaratan da­lam jual beli listrik,” ungkapnya kepada Rakyat Mer­deka. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya