Berita

Kementerian BUMN

Bisnis

Menteri BUMN Diminta Tancap Gas Bikin Holding Karya

MINGGU, 22 APRIL 2012 | 08:08 WIB

RMOL.Upaya Kementerian BUMN me­rampingkan jumlah BUMN, mendapat dukungan politisi Se­na­yan. Anggota DPR Komisi VI Sukur Nababan menyatakan se­tuju dan mendukung langkah-langkah yang dilakukan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Dia pun berpesan, agar Men­teri Dahlan memperhatikan BUMN karya yang jumlahnya lebih dari 10.

“BUMN karya itu harus dibuat holding, kalau tidak di-merger kan saja. Buat apa banyak-banyak BUMN di sektor yang sama. Itu yang harus dikerjakan oleh Dahlan agar bisa menyelesaikan permasalahan yang ada di BU­MN,” cetusnya saat dikontak Rakyat Merdeka, kemarin.

Sementara Ketua Komisi VI DPR Air­langga Hartanto menghimbau, perampingan BUMN ini harus dengan perencanaan dan blue­print yang jelas. Tanpa blue­print yang jelas, rightsizing itu akan sulit dan kemungkinan nantinya tidak akan berhasil.

“Korporasi ini kan milik ne­gara, maka harus ada transparansi dan keterbukaan informasi ke­pada negara. Misalkan pergantian direksi dan restrukturasi harus melalui melalui mekanisme dan sistem yang sesuai,”pintanya ke­pada Rakyat Merdeka.

Menurut dia, urusan korpo­rasi dan masalah pemegang sa­ham harus dikelola dengan stra­tegi yang tepat. Tujuannya, agar peru­sahaan yang tergabung dalam holding punya daya saing dan  mampu bekerja se­cara mak­simal.

Pendapat berbeda terlontar dari anggota Komisi VI DPR Emil Abeng. Dia menilai right­sizing BUMN berjalan lamban. “Pro­gram itu sudah dibuat oleh men­teri BUMN pertama. Seha­rus­nya sudah terlihat sejak Ja­nuari 2012. Kalau sekarang baru di­matang­kan, itu telat, dan harus dikebut,” tegas anak bekas Menteri BUMN Tanri Abeng. Dia juga menyarankan agar BUMN mem­percepat hol­ding BUMN. Selain itu dia meng­ha­rapkan ada sedi­kitnya lima hol­ding BUMN.

“Tidak perlu ba­nyak yang pen­ting bisa masuk top perusahaan dunia. Mekanisme hol­ding ini saya kira sangat mung­kin dan mudah kalau di­jalankan secara profesioinal,” tandasnya. [Harian Rakyat Merdeka]



Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Keterlambatan Klarifikasi Eggi Sudjana Memicu Fitnah Publik

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10

DPRD DKI Sahkan Dua Ranperda

Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05

Tak Ada Kompromi dengan Jokowi Sebelum Ijazah Palsu Terbongkar

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37

Pernyataan Oegroseno soal Ijazah Jokowi Bukan Keterangan Sembarangan

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22

Bongkar Tiang Monorel

Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00

Gus Yaqut, dari Sinar Gemilang hingga Berlabel Tersangka

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44

IPC Terminal Peti Kemas Bukukan Kinerja 3,6 Juta TEUs

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34

Jokowi vs Anies: Operasi Pengalihan Isu, Politik Penghancuran Karakter, dan Kebuntuan Narasi Ijazah

Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03

Eggi Sudjana dan Jokowi Saling Puji Hebat

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41

Ketidakpastian Hukum di Sektor Energi Jadi Ancaman Nyata bagi Keuangan Negara

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39

Selengkapnya