ilustrasi, rotan
ilustrasi, rotan
RMOL.Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak mampu membentuk badan penyangga (buffer stock) untuk mengamankan pasokan bahan baku rotan. Ada kendala dana dan proses birokrasi yang rumit.
Menurut Direktur Jenderal PerÂdagangan Dalam Negeri KeÂmenterian Perdagangan GuÂnaryo, pembentukan buffer stock meÂmerÂlukan dana yang tidak sedikit. Selain itu, diperlukan pula proses yang cukup panjang dan harus diusulkan di RancaÂngan AnggaÂran Pembelanjaan Negara (RAPBN) juga dari piÂhak KeÂmenterian PerdagaÂngan, KemenÂterian Keuangan dan pihak legislatif.
“Tentunya kalau penyediaan dana itu tidak bisa sekarang. SeÂpanjang rotan itu sudah ada stanÂdarisasi mungkin bisa dilakukan. Kalau ini dibuat perlu disiapkan dengan sistem yang matang,†ujar Gunaryo di kantornya, kemarin.
Saat ini pemerintah baru meÂmiliki buffer stock untuk beras. Hal ini terkait dengan tugas peÂmerintah menyediakan dana beÂsar untuk cadangan beras naÂsional.
Untuk sistem resi gudang, Gunaryo menekankan bahwa rotan yang baru ditebang tidak terÂmasuk dalam program ini. Sebab, diperluÂkan penanganan khusus agar rotan tersebut tidak menjadi terlalu lama berada di dalam guÂdang.“Resi gudang seÂdang diperÂsiapÂkan. Tapi harus ada paÂsar yang pasti. Seperti ada pemÂbeliÂnya. Kalau ada maka bisa diÂadaÂkan gudang untuk rotan,†tanÂdasnya.
Di tempat yang sama, Kepala Biro Pasar Fisik dan Jasa KeÂmenterian Perdagangan IsmaÂdjaja Toengkagie menjelaskan, rotan yang bisa disimpan di daÂlam gudang bahan baku itu harus punya beberapa kriteria khusus.
Pertama, komoditas rotan ini harus tahan lama disimpan agar kualitasnya tidak cepat rusak. KeÂdua, standar mutu dan inforÂmasi harga yang pasti. “Karena rotan ini merupakan koÂmoditi yang strategis baik untuk dalam negeri maupun untuk luar negeri,†ujarnya.
Untuk rotan ini, kata Isma, piÂhaknya sudah turun ke lapangan untuk memverifikasi beberapa syarat rotan yang bisa masuk ke dalam resi gudang. “Memang tiÂdak bisa langsung masuk gudang dan dapatkan pemÂbiayaan. NantiÂnya akan diÂbuat standar kualitasÂnya terlebih dahulu. Kalau seÂmuaÂnya lolos, baru masuk ke guÂdang,†teÂrangnya. Rencananya, memang akan diÂbentuk kelemÂbagaan di daerah seperti koperasi yang tuÂgasnya akan mengumpulÂkan roÂtan dari petani.
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AsÂmindo) Ambar Tjahyono mengaÂtaÂkan, kebijakan Kementerian Perdagangan (KeÂmendag) yang mengatur peredaÂran rotan antar wilayah sangat merugikan industri. Menurutnya, bahan baku rotan yang berasal dari Sulawesi dan Kalimantan sehaÂrusÂnya dibebaskan masuk ke Jawa. Hal itu untuk memperÂmudah perÂkembangan industri rotan.
“Pemerintah jangan memperÂsulit rotan masuk ke industri. SeÂkaÂrang malah diperiksa SucoÂfinÂdo. Kebijakan ini membuat harga makin mahal. Lepaskan saja seÂmua, biar rotan masuk ke Jawa,†ujar Ambar di Jakarta.
Menurutnya, selama belum ada sistem buffer stock (penyerapan), penghentian ekspor bahan baku rotan belum berpengaruh bagi peÂlaku industri rotan. Dirinya tiÂdak setuju dengan sistem resi guÂdang yang ditetapkan pemerinÂtah. SeÂbab, sistem resi gudang dinilai meÂrugikan. “Resi gudang itu seÂperti utang. Kalau ada buffer stok, seÂmua selesai. Kalau peÂmeÂrintah tiÂdak siap, Asmindo siap masuk buffer stok,†pungkasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:10
Kamis, 15 Januari 2026 | 02:05
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:37
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:22
Kamis, 15 Januari 2026 | 01:00
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:44
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 00:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:41
Rabu, 14 Januari 2026 | 23:39